Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Apriyani/Lanny Petik Pelajaran Berharga Usai Terhenti di 16 Besar Jerman Terbuka 2026

Basuki Eka Purnama
28/2/2026 04:07
Apriyani/Lanny Petik Pelajaran Berharga Usai Terhenti di 16 Besar Jerman Terbuka 2026
Ganda putri Indonesia Apriyani Rahayu/Lanny Tria Mayasari(X @INABadminton)

LANGKAH pasangan ganda putri bulu tangkis Indonesia, Apriyani Rahayu/Lanny Tria Mayasari, harus terhenti di babak 16 besar turnamen BWF World Tour Super 300 Jerman Terbuka 2026. 

Meski harus menelan kekalahan, pasangan ini menjadikan hasil tersebut sebagai bahan evaluasi krusial untuk memperkuat fondasi permainan mereka ke depan.

Bertanding di Westenergie Sporthalle, Mülheim an der Ruhr, Jerman, Jumat (27/2) WIB, Apriyani/Lanny harus mengakui keunggulan wakil Jepang, Kaho Osawa/Mai Tanabe. Mereka menyerah dalam dua gim langsung dengan skor 13-21 dan 17-21.

Apriyani Rahayu tidak menampik adanya kekecewaan mendalam atas hasil ini. Namun, peraih medali emas Olimpiade Tokyo tersebut menekankan bahwa saat ini fokus utama mereka adalah membangun chemistry sebagai pasangan baru.

"Pasti ada rasa penyesalan, ada rasa marah, dan tentu ada rasa kesal dengan hasil hari ini. Tapi kami harus kembali melihat ini sebagai bagian dari proses kami berdua," ujar Apriyani dalam keterangan resmi PP PBSI di Jakarta.

Ia mengingatkan bahwa kebersamaan mereka di panggung internasional masih sangat belia. Jerman Terbuka 2026 tercatat sebagai turnamen ketiga yang mereka lalui sejak dipasangkan. 

"Saya dan Lanny memang baru menjalani beberapa pertandingan bersama, sejauh ini baru tiga turnamen. Jadi masih banyak hal yang harus kami benahi," tambahnya.

Kegagalan Mempertahankan Momentum

Jalannya pertandingan sebenarnya sempat memberikan harapan bagi kubu Indonesia, terutama di gim kedua. 

Apriyani/Lanny sempat memegang kendali permainan dan unggul cukup jauh dengan skor 15-10. Namun, keunggulan tersebut gagal dikonversi menjadi kemenangan gim setelah lawan berhasil mengejar dan menyamakan kedudukan menjadi 15-15, hingga akhirnya berbalik unggul 17-15.

Apriyani menyoroti inkonsistensi dan kurangnya ketenangan sebagai faktor utama kegagalan mereka mempertahankan keunggulan. 

“Di momen itu kami kurang konsisten satu sama lain dan kurang tenang dalam mengambil keputusan. Jadi memang masih banyak proses yang harus kami jalani bersama sebagai pasangan,” ungkapnya.

Senada dengan sang senior, Lanny Tria Mayasari mengakui bahwa hilangnya fokus saat berada di atas angin menjadi titik balik kekalahan mereka. 

Menurut Lanny, mereka gagal merespons perubahan ritme yang dilakukan oleh pasangan Jepang.

“Di gim kedua sebenarnya dari awal kami sudah mendapatkan pola permainan dan sempat memimpin sampai 15-10. Tapi setelah itu kami terlalu lengah. Saat lawan mulai mengejar hingga menyamakan kedudukan, kami justru jadi bingung sendiri dan tidak bisa menjaga ritme permainan,” kata Lanny.

Bagi Lanny, menjaga fokus dan ketenangan saat posisi unggul akan menjadi pekerjaan rumah (PR) utama yang harus segera dibenahi sebelum terjun ke turnamen berikutnya. Kekalahan di Jerman ini pun menjadi modal penting bagi pasangan baru ini untuk mematangkan strategi dan mentalitas bertanding mereka di level dunia. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya