Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

PBSI Bidik Hasil Optimal di Kumamoto Masters dan Australia Terbuka 2025

Khoerun Nadif Rahmat
11/11/2025 21:51
PBSI Bidik Hasil Optimal di Kumamoto Masters dan Australia Terbuka 2025
Ilustrasi.(ANTARA/M RISYAL HIDAYAT)

PERSATUAN Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) menargetkan hasil maksimal pada dua turnamen BWF World Tour Super 500, yakni Kumamoto Masters 2025 di Kumamoto, Jepang, pada 11–16 November dan Australia Terbuka 2025 di Sydney pada 18–23 November.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Eng Hian, menegaskan kedua ajang tersebut menjadi momentum penting bagi atlet pelatnas untuk menambah poin peringkat BWF sekaligus menguji konsistensi performa. PBSI menurunkan kombinasi pemain senior dan muda guna menjaga keseimbangan regenerasi.

“Untuk Kumamoto Masters saya menginginkan Alwi, Ubed, dan Dhinda bisa memperlihatkan performa terbaiknya dan mengalahkan pemain unggulan. Sementara untuk Grego dan Apri/Fadia saya berharap mereka bisa comeback dengan permainan terbaik mereka seperti sebelumnya,” ujar Eng Hian.

Ia menambahkan, target di Australia Terbuka adalah merebut gelar juara, terutama dari sektor tunggal putra dan ganda putra yang selama ini menjadi andalan Indonesia. 

“Saya berharap Fajar/Fikri bisa menjadi juara di Australia Open ini setelah tiga kali beruntun menjadi runner up di Korea Open, Denmark Open, dan French Open. Hasil di Australia Open ini menjadi sangat penting bagi Fajar/Fikri untuk bisa mengikuti World Tour Final,” ujarnya.

Eng Hian menjelaskan, semula Fajar/Fikri dijadwalkan tampil di Kumamoto Masters, namun batal karena kendala proses pembuatan visa Jepang yang memakan waktu lama. Akibatnya, PBSI menyesuaikan program dengan membagi keikutsertaan pemain antara Hylo Open dan Kumamoto Masters.

Sementara itu, Kepala Bidang Hubungan Luar Negeri PBSI, Bambang Roedyanto, mengungkapkan aturan visa khusus bagi peserta turnamen di Jepang menjadi kendala tersendiri.

“Untuk pemain, pelatih, fisioterapis, dan dokter yang akan mengikuti turnamen di Jepang harus menggunakan visa khusus yaitu visa entertainer yang prosesnya berkisar antara dua hingga enam minggu,” jelas Bambang.

Ia menambahkan, sebelum pengajuan visa, pihaknya harus memperoleh Certificate of Eligibility (COE) dari pemerintah Jepang yang memakan waktu hingga tiga minggu. Setelah COE disetujui, pengurusan visa membutuhkan waktu sekitar dua minggu lagi. 

“Karena proses itu, pemain yang berlaga di Hylo Terbuka tidak bisa tampil di Kumamoto Masters,” ujarnya. (I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Budi Ernanto
Berita Lainnya