Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
PETENIS Jerman Tatjana Maria bangkit setelah kalah di set pertama untuk menjungkalkan Jelena Ostapenko demi mencapai perempat final Wimbledon dengan kemenangan 5-7, 7-5, dan 7-5 atas juara Prancis Terbuka itu di putaran keempat di London, Minggu (3/7).
Itu jadi kemenangan terbesar Maria, yang belum sampai setahun kembali berkompetisi setelah proses persalinan. Ibu dua anak tersebut bakal berupaya memelihara mimpinya saat bertemu rekan senegaranya Jule Niemeier di babak perempat final Wimbledon.
Petenis, yang pada Maret lalu masih berada di luar peringkat 250 besar dunia itu, mengakui betapa manisnya kemenangan kali ini, terlebih bila mempertimbangkan masa jedanya dari kompetisi profesional.
Baca juga: Jabeur Melaju ke Perempat Final Wimbledon
"Ini sungguh membuat saya bangga jadi seorang ibu, dan itu adalah perasaan terbaik di dunia," katanya dalam wawancara tepi lapangan pascalaga.
"Saya menyayangi kedua anak saya... bisa melakukan ini bersama-sama... Rasanya begitu istimewa," lanjut Maria.
Maria mampu mengawali pertarungan dengan baik sementara Ostapenko, yang mencapai semifinal Wimbledon hanya setahun setelah gelar Grand Slam pertamanya lewat Roland Garros 2017, banyak membuang servis sehingga tertinggal 1-3.
Namun, petenis asal Latvia itu bisa menemukan ketenangannya untuk menyamakan kedudukan dan berbalik memimpin 6-5 sebelum mengantungi set pertama setelah memaksa Maria melakukan kesalahan sendiri di poin-poin krusial.
Maria, yang merupakan petenis tertua di antara pesaing di nomor tunggal putri di usia 34 tahun, kemudian melanjutkan penampilan mengesankan yang ia sajikan saat menyisihkan unggulan kelima Maria Sakkari di babak sebelumnya. Ia bangkit dari ketertinggalan 1-4 di set berikutnya untuk memaksakan penentuan.
Sukses menyelamatkan dua match poin di set kedua pada kedudukan 4-5, Maria, yang dihujani derasnya gelombang dukungan, memanfaatkan kesalahan Ostapenko untuk berbalik memimpin 6-5 pada set ketiga sebelum menutup pertandingan dengan pukulan servis.
Maria menyebut derasnya dukungan di lapangan satu All England Lawn Tennis & Croquet Club telah menyuntik kepercayaan dirinya hingga akhir pertarungan.
"Ya Tuhan, tidak akan ada kata-kata yang bisa mewakili betapa luar biasanya para penonton. Bahkan saat saya tertinggal 4-5 di set ketiga, mereka tetap berada di belakang saya. Kepada diri sendiri, saya berkata, 'Baiklah mereka percaya pada saya, saya juga harus percaya pada saya'," tutup Maria. (Ant/OL-1)
Boris Becker baru berusia 17 tahun, tujuh bulan, dan 15 hari ketika ia mengalahkan Kevin Curren pada 1985, menjadikannya juara tunggal putra Wimbledon termuda sepanjang masa.
Swiatek mengalahkan Guo Hanyu, petenis dari babak kualifikasi, dengan skor meyakinkan 6-3, 6-1.
Sinner memilih untuk fokus ke pemulihan cedera yang didapatnya di Wimbledon 2025.
Juara Wimbledon 2025 Jannik Sinner memberikan hadiah berupa bola tenis bertanda tangan kepada Pangeran George dan Putri Charlotte.
Carlos Alcaraz mengaku kekalahannya atas Jannik Sinner di Wimbledon memotivasinya untuk terus berkembang.
Jannik Sinner berhasil mengukir sejarah di Wimbledon setelah menundukan rivalnya Carlos Alcaraz 4-6, 6-4, 6-4, 6-4.
Duel antara Tatjana Maria, 38 dan Venus Williams, 45, mencatatkan rekor sebagai kombinasi usia tertua dalam satu pertandingan tur WTA sejak organisasi tersebut didirikan pada 1973.
Kemenangan Tatjana Maria di Queen's Club menjadi puncak penampilan bagi ibu dua anak, yang hanya kehilangan satu set dalam tujuh laga selama sembilan hari.
"Saya hanya mencoba menginspirasi sebanyak yang saya bisa. Saya ingin melihat lebih banyak pemain Arab dan Afrika dalam tur."
"Selepas pertandingan ini, saya akan menemui anak-anak saya dan akan melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan setiap harinya."
Sakkari menjadi pemain 10 besar pertama yang berhasil melaju ke babak kedua setelah mengalahkan Maria 6-4 dan 7-6 (7-2) di Arena Rod Laver.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved