Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Umum Komite Olimpiade Indonesia Raja Sapta Oktohari kembali menegaskan bahwa peristiwa All England yang menimpa tim atlet Indonesia merupakan tanggung jawab penuh dari Federasi Badminton Dunia (BWF). Menurutnya, karena kecerobohan BWF, Indonesia gagal tampil di ajang turnamen bergengsi tersebut.
Sebagaimana diketahui, para atlet Indonesia setelah dinyatakan tidak dapat bertanding kembali di babak selanjutnya mereka diminta untuk kembali ke penginapan. Namun dalam prosesnya mereka tidak diperbolehkan naik bus shuttle dan harus berjalan kaki serta tidak dapat mempergunakan lift untuk ke lokasi kamar di lantai 3.
"Apa pun yang dialami atlet-atlet kita di Birmingham akan jadi catatan buat dunia bagaimana BWF menunjukkan ketidakprofesionalan mereka," ungkap Okto kepada media Jumat (19/3).
Ia pun menyebut BWF tidak dapat menghindari tanggung jawab dan berlindung dibalik pemerintah Inggris akan peraturan protokol kesehatan.
"Tidak ada celah lagi buat mereka untuk saling menyalahkan. Ini fakta yang kita terima di sini bagaimana mereka memperlakukan atlet kita di sana. Ini akan jadi komplain resmi kita ke mereka," jelasnya.
Baca juga : Menpora: Suarakan Reformasi di Tubuh BWF
Ia menyatakan, faktanya setiap negara memang memiliki regulasi terkait penanganan covid-19. Sehingga bila ada kegiatan di suatu negara tersebut, kegiatan tersebut harus beradaptasi dengan protokol kesehatan yang diterapkan. Hal tersebut tidak terjadi di ajang kali ini, dimana BWF tidak membuat ketentuan yang menyesuaikan dengan regulasi tersebut.
“Kami dalam hal ini, memberikan pernyataan yang sangat tegas agar tidak buang badan ke pemerintah Inggris, kami sudah melayangkan surat dan NOC Inggris. Ke BWF sifatnya protes, dan kalau ke NOC Inggris meminta dukungan agar kita tidak di fait accompli atas kepentingan BWF, karena yang melaksanakan kegiatan bukan pemerintah Inggris tetapi panitia kegiatan all england,” ungkap Oktohari.
“Ini sangat mengecewakan, BWF seharusnya bertanggung jawab penuh dengan keteledoran yang terjadi di all england,” imbuh ketum NOC tersebut.
Ia pun menegaskan, ke depannya KOI akan mengkaji betul berbagai regulasi terkait penanganan covid-19 di suatu negara bersama dengan seluruh cabor dan stakeholder terkait agar peristiwa ini tidak terulang dan merugikan Indonesia nantinya, khususnya di ajang Olimpiade Tokyo.
Dalam kesempatan tersebut Oktohari juga mempertanyakan permintaan maaf resmi dari BWF kepada Indonesia. Menurutnya hingga saat ini BWF belum mengeluarkan permohonan maaf resmi akan peristiwa ini. Dalam pernyataan resminya BWF baru menyatakan ‘apology for inconvenience’,
"Mereka (BWF) menyatakan bahwa ada ketidaknyamanan. Ibarat kepala kita dijitak sama orang, orang itu bukannya minta maaf, malah bilang maaf karena ketidaknyamanan. BWF sangat tidak profesional, kami sudah koordinasi dengan PBSI, Kemenpora, Kemenlu, Asian Badminton Federation, dan kami akan teruskan ke level paling tinggi Arbitrase Internasional," ujar Oktohari. (OL-7)
Kriteria ketat diberlakukan bagi para peserta. PBSI merujuk pada hasil Kejuaraan Nasional (Kejurnas) 2025 serta peringkat nasional per 24 Desember 2025.
Adnan mengaku fokus utamanya saat ini adalah memulihkan kondisi fisik.
Kurniahu Tjio Kay Kie, mantan atlet sekaligus ayahanda dari legenda ganda putra Marcus Fernaldi Gideon, meninggal dunia pada Kamis (29/1) dini hari.
Pelatih ganda campuran Rionny Mainaky menjelaskan Felisha mengeluhkan gangguan pada lengan kanannya setelah tampil pada semifinal Indonesia Masters 2026.
Bagi barisan pemain muda Indonesia, ajang Super 500 ini menjadi ujian mental yang sesungguhnya. Ainur menyoroti kiprah Joaquin/Raymond yang meski gagal meraih gelar.
BERHASIL melaju ke babak final Indonesia Masters 2026, rupanya tak membuat tunggal putra Indonesia, Alwi Farhan tinggi hati. Ia mengaku tidak menyangka bisa memenangkan pertandingan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved