Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Semeru Erupsi Tujuh Kali dalam Semalam, Masyarakat Diminta Waspada Hingga Radius 13 Km

Basuki Eka Purnama
20/2/2026 09:08
Semeru Erupsi Tujuh Kali dalam Semalam, Masyarakat Diminta Waspada Hingga Radius 13 Km
Gunung Semeru kembali erupsi dengan tinggi letusan mencapai 1 km di atas puncak pada Jumat (20/2/2026) pagi.(ANTARA/HO-PVMBG)

AKTIVITAS vulkanik Gunung Semeru, yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, menunjukkan peningkatan signifikan pada Jumat (20/2) pagi. 

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru mencatat setidaknya terjadi tujuh kali erupsi beruntun dengan tinggi kolom letusan bervariasi antara 500 meter hingga 1 kilometer di atas puncak.

Rangkaian letusan dimulai pada tengah malam, tepatnya pukul 00.14 WIB. Erupsi pertama ini melontarkan kolom abu setinggi 700 meter berwarna putih hingga kelabu ke arah utara. 

Hanya berselang sepuluh menit, tepatnya pukul 00.24 WIB, erupsi kedua kembali terjadi dengan parameter visual yang serupa.

Memasuki waktu subuh, aktivitas gunung tertinggi di Pulau Jawa ini semakin intens. Tercatat dua erupsi berturut-turut pada pukul 05.18 WIB dan 05.23 WIB, meskipun secara visual kolom letusan tidak teramati dengan jelas. 

Tidak lama kemudian, pada pukul 05.48 WIB, Semeru kembali memuntahkan abu vulkanik dengan ketinggian mencapai 1 kilometer yang mengarah ke sisi timur.

Letusan terus berlanjut pada pukul 05.56 WIB dengan tinggi kolom 500 meter, dan ditutup dengan erupsi yang cukup kuat pada pukul 07.15 WIB. 

Erupsi terakhir tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm selama 125 detik, menghasilkan kolom abu tebal setinggi 900 meter ke arah utara dan timur laut.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, menegaskan bahwa saat ini Semeru berada pada status Level III (Siaga). Atas dasar tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan sejumlah rekomendasi ketat bagi masyarakat setempat.

"Masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 kilometer dari puncak (pusat erupsi)," kata Liswanto dalam laporan tertulisnya.

Selain zona merah tersebut, masyarakat diminta menjauhi sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan. 

"Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak," tambahnya.

Liswanto juga mengingatkan bahaya sekunder berupa lontaran batu pijar yang rawan terjadi dalam radius 5 kilometer dari kawah. 

Masyarakat diimbau untuk terus mewaspadai potensi awan panas dan guguran lava, terutama di sepanjang aliran sungai Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Kewaspadaan ekstra perlu ditingkatkan pada anak sungai Besuk Kobokan yang berpotensi menjadi jalur aliran lahar dingin saat curah hujan tinggi di wilayah puncak. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya