Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Antisipasi Virus Nipah, Dinkes Bali Larang Warga Makan Buah Sisa Kelelawar

Arnoldus Dhae
29/1/2026 16:05
Antisipasi Virus Nipah, Dinkes Bali Larang Warga Makan Buah Sisa Kelelawar
Kepala Bidang Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Bali I Gusti Ayu Raka Susanti(MI/Arnoldus Dhae)

DINAS Kesehatan Provinsi Bali saat ini melakukan berbagai langkah antisipasi terhadap merebaknya virus Nipah, seperti yang dialami beberapa negara lainnya di dunia. Kepala Bidang Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Bali I Gusti Ayu Raka Susanti menjelaskan, hingga saat ini belum terdeteksi adanya virus Nipah di Bali. 

"Hingga saat ini di Bali dan juga di Indonesia belum terkonfirmasi ada yang positif. Namun mengingat kasus di beberapa negara, maka Bali sudah melakukan berbagai langkah antisipasi terhadap merebaknya virus Nipah di Bali," ujarnya Jumat (29/1). 

Makan Buah Bekas Gigitan Kelelawar

Menurut Susanti, berdasarkan penelitian, virus ini berasal dari kelalawar sebagai inangnya. Untuk itu ia meminta kepada seluruh warga Bali agar tidak memakan buah apa saja hasil atau bekas gigitan Kelalawar. Sebab, kebiasaan warga adalah suka mengkonfirmasi buah bekas gigitan kelalawar karena dianggap matang natural dan enak.

Selain Kelalawar, hewan yang sudah menjadi host virus Nipah adalah babi. Dalam konteks babi, Bali menjadi provinsi dengan produksi ternak babi yang banyak.

"Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Peternakan seluruh kabupaten dan kota di Bali untuk menghimbau warga agar tidak mengkonsumsi makanan setengah matang sebab babi sudah menjadi host virus Nipah. Karena saat ini virus Nipah sudah menjadi zoonosis," ujarnya.

Risiko Kematian Virus Nipah

Selain itu, Dinas Kesehatan Provinsi Bali juga mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh warga agar selalu menerapkan pola hidup sehat, tidak mengkonsumsi makanan setengah matang, selalu cuci tangan, dan pola hidup sehat lainnya. Sebab, risiko kematian Virus Nipah jauh lebih tinggi dari virus covid beberapa tahun sebelumnya. 

Risiko kematian Virus Nipah antara 40-70 persen. Sebab penularan virus Nipah adalah melakukan sentuhan langsung dengan penderita terutama melalui air liur dan droplet. 

Untuk mekanisme penanganan hampir sama dengan penanganan penanganan covid 19. Bila akhirnya terdeteksi maka akan dilakukan karantina ketat. Saat ini Pemprov Bali menyiapkan 120 Puskesmas yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota untuk penanganan kasus virus Nipah dengan seluruh infrastruktur dan fasilitas yang memadai. Sementara untuk rumah sakit rujukan sudah dikondisikan di RSUP Prof. Ngurah Sanglah Denpasar. (OL/E-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya