Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Guci Tegal Kembali Diterjang Banjir Bandang, Tiga Jembatan Putus, Pancuran 13 Hancur

Supardji Rasban
24/1/2026 10:30
Guci Tegal Kembali Diterjang Banjir Bandang, Tiga Jembatan Putus, Pancuran 13 Hancur
Warga menyaksikan lokasi Pancuran 13 di komplek Ow Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, yang rusak diterjang banjir bandang.(MI/SUPARDJI RASBAN)

BANJIR bandang kembali menerjang kawasan wisata Guci, di Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Hujan deras yang tetur mengguyur lereng Gunung Slamet tersebut sejak Kamis hingga Sabtu (24/1/2026) pagi memicu banjir bandang disertai longsor.

Air bah berwarna kecoklatan menggelontor dari hulu Gunung Slamet, membawa material lumpur, pasir, hingga ranting kayu. 

Akibat nanjir bandang itu  tiga jembatan di kawasan wisata Guci putus, yakni Jembatan Jedor, Jembatan Kaligung di Pancuran 13, serta jembatan gantung di Pancuran 5. Ketiganya merupakan akses utama penghubung antarobjek wisata dan menuju ke Desa Guci.

Menurut keterangan warga, debit air meningkat drastis secara tiba-tiba pada Jumat (23/1/2026) sore sekitar pukul 16.30 WIB. Suara gemuruh dari arah hulu sungai terdengar sebelum banjir bandang menerjang kawasan wisata.

“Awalnya cuma hujan deras, tapi tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Air langsung datang besar dan keruh,” ujar Taufik, warga Desa Guci, Sabtu (24/1/2026).

Taufik menuturkan puncaknya terjadi pada pukul 02.00 WIB dini hari. Tinggi air dilaporkan mencapai sekitar tujuh meter, membuat jembatan tak mampu menahan hantaman arus deras bercampur lumpur dan pasir.

“Air naik sangat cepat. Jembatan yang biasa dilewati wisatawan tidak kuat menahan hantaman air yang membawa material lumpur dan pasir,” terang Taufik.

Menurut Taufik tidak hanya memutus akses utama menuju Pancuran 13 dan Pancuran 5, banjir bandang juga menyebabkan kerusakan parah fasilitas wisata. Pancuran 13 Guci hancur dan tertimbun lumpur, satu unit alat berat beko rusak, sejumlah lapak pedagang hanyut, serta pagar pembatas di sepanjang aliran sungai porak-poranda.

"Longsor cukup parah dan menambah kepanikan warga. Sebanyak 700 bibit pohon yang rencananya akan ditanam di lereng Gunung Slamet pada 7 dan 15 Februari 2026 ikut hanyut terbawa banjir," jelas Taufik.

Bencana ini kembali mengundang sorotan terhadap kerusakan hutan di lereng Gunung Slamet.

Ketua Masyarakat Adat Reksawana Guci, Sobirin, menyebut kondisi hutan saat ini sangat memprihatinkan.

“Ratusan hektare hutan produksi dan sekitar 50 hektare hutan lindung sudah beralih fungsi jadi lahan sayuran. Kalau ini terus dibiarkan, lereng Gunung Slamet benar-benar jadi bom waktu,” tegas Sobirin.

Sobirin mendesak pihsk terkait penanaman pohon berakar kuat secara berkelanjutan, bukan sekadar seremonial.

“Kami minta penanaman kopi, alpukat, dan tanaman keras lainnya. Harus kontinyu, tidak hanya sekali,” ujar Sobirin yang juga Ketua Kelompok Tani Hutan Berkah Wana Guci. 

Sobirin memperingatkan, jika pola tanam tak segera diubah, dampak bencana berpotensi meluas ke desa-desa lain di lereng Slamet. "Seperti Dukuh Pekandangan Desa Rembul Kecamatan Bojong, serta Desa Guci, Batumirah, dan Sigedong di Kecamatan Bumijawa," jelas Sobirin. 

Saat ini  Forkopimcam Bojong bersama relawan masih bersiaga di lokasi bencana. Petugas melakukan pendataan kerusakan serta memastikan tidak ada wisatawan yang terjebak di seberang sungai akibat putusnya jembatan.(H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya