Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
GELOMBANG tinggi dan air laut pasang (rob) di perairan utara Jawa Tengah masih berlangsung Rabu (7/1) berdampak terganggunya aktivitas pelayaran hingga ribuan nelayan terjerat rentenir dan kegiatan warga di kawasan pesisir sejumlah daerah di Pantura Jawa Tengah.
Pemantauan Media Indonesia Rabu (7/1) ribuan kapal dan perahu nelayan di sejumlah daerah di Pantura Jawa Tengah masih bertahan sandar di sejumlah pelabuhan perikanan dan muara sungai, gelombang tinggi yang masih berlangsung disertai hujan badai mengakibatkan ribuan nelayan berhenti melaut sejak Desember lalu.
Warga berada di kawasan pesisir Pantura Jawa Tengah juga tidak dapat tenang karena air laut pasang dengan ketinggian maksimum 1 meter berlangsung pada malam sekitar pukul 20.00-24.00 WIB. "Kalau malam harus terjaga dan tidak dapat tidur nyenyak, karena banjir datang pada malam hingga dini hari," ujar Kasno,45, warga Sriwulan, Kabupaten Demak.
Hal serupa juga diungkapkan Anjani,38, warga Kaliwungu , Kendal mengaku khawatir banjir semakin meninggi akibat air laut pasang yang berlangsung pada malam hari, meskipun tidak melakukan kegiatan malam namun banjir kerap masuk ke dalam rumah dengan ketinggian mencapai 50 centimeter.
Sementara itu Waluyo,50, nelayan di Wedung, Demak mengungkapkan sudah cukup lama menganggur tidak melaut, karena gelombang tinggi disertai hujan badai terjadi di perairan utara cukup berisiko terhadap aktivitas pelayaran, sehingga untuk memenuhi kebutuhan sebagian besar nelayan muda bekerja serabutan.
"Jika kondisi seperti ini, kami hidup mengandalkan hutang ke bos ikan atau pinjam ke bank titik dengan jaminan perahu bermesin 40 PK untuk bertahan hidup dan dikembalikan setelah kembali melaut," ujar Waluyo.
Nelayan lain Suryono,55, nekayan di Wonokerto, Pekalongan mengaku pada kondisi gelombang tinggi ini ada ribuan nelayan di Pantura Jawa Tengah tidak berani melaut dan memilih istirahat, sedangkan untuk menopang kebutuhan terpaksa berhutang ke pemilik (bos) kapal yang dibayar saat kembali melaut.
Demikian juga Karmidi, nelayan lain di Sarang, Rembang mengungkapkan situasi sulit akibat gelombang tinggi ribuan nelayan dihadapi kesulitan karena tidak ada pendapatan, sehingga memaksakan diri mencari jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan dengan meminjam uang dari rentenir. "Gelombang di pantai sekitar 1,5 meter, tetapi di tengah bisa 3 meter," imbuhnya.
Prakirawan BMKG Stasiun Maritim Tanjung Emas Semarang Shafira Tsanyfadhila Rabu (7/1) mengatakan selain air laut pasang pada makam hari, kondisi perairan utara Jawa Tengah masih bergejolak dengan ketinggian 1,25-2,5 meter sehingga cukup beresiko terhadap aktivitas pelayaran terutama nelayan dan tongkang saat kecepatan angin diatas 15 knot.
"Waspada terhadap gelombang tinggi dan rob di perairan utara, karena cukup berisiko terhadap aktivitas baik pelayaran maupun transportasi," ujar Shafira Tsanyfadhila.
Sejumlah kawasan perairan utara, ungkap Shafira Tsanyfadhila, terjadi gelombang tinggi seperti Pekalongan-Kendal, Semarang-Demak, Jepara, Karimunjawa, Pati-Rembang, juga air laut pasang berdampak terhadap terganggunya aktivitas warga di pesisir sejumlah daerah di Pantura Jawa Tengah terutama transportasi. (H-2)
Cuaca buruk berupa hujan dengan intensitas tinggi dan angin kencang kembali melanda sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Selatan dalam beberapa hari terakhir.
Pola hujan pada awal tahun 2026 di Pulau Jawa menunjukkan karakter yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Harga ikan di Pasar Tradisional Naikoten 1 dan Pasar Ikan Oeba, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur mengalami kenaikan signifikan akibat cuaca buruk.
CUACA buruk berupa angin kencang dan gelombang tinggi mulai melanda perairan Sumba, Nusa Tenggara Timur. Kondisi ini berpotensi membahayakan keselamatan pelayaran.
BMKG juga menyampaikan peringatan dini gelombang sedang hingga tinggi di sejumlah perairan, termasuk Perairan Kuala Pembuang, Teluk Sampit, dan Kuala Kapuas.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang, Sti Nenot'ek, mengatakan, saat ini Bibit Siklon Tropis 97S yang berada di wilayah utara Benua Australia
Cuaca ekstrem tersebut berupa hujan deras yang diikuti dengan angin kencang. Kondisi tersebut bisa menimbulkan terjadinya gelombang tinggi yang berbahaya untuk nelayan
Data BMKG selama 16 tahun terakhir (2010–2025) juga memperlihatkan tren peningkatan kejadian banjir dan tanah longsor yang sejalan dengan kenaikan suhu dan perubahan iklim.
Selain pengaruh siklon tropis, kondisi cuaca ekstrem juga dipicu oleh menguatnya Monsun Asia serta aktifnya Gelombang Ekuatorial Rossby dan Kelvin.
Pada periode tersebut, kata dia, suhu udara diprakirakan berada pada kisaran 25-33 derajat Celcius dengan tingkat kelembapan udara berkisar 62-95 persen.
INTENSITAS cuaca ekstrem yang melanda wilayah Banten dan sekitarnya dalam beberapa pekan terakhir mulai berdampak serius pada sektor industri maritim.
Gelombang tinggi 1,25-2,5 meter disertai hujan badai juga masih berlangsung di perairan utara dan selatan Jawa Tengah pada Kamis (5/2) hingga cukup berisiko terhadap aktivitas pelayaran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved