Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Gelombang Tinggi tidak Dapat Melaut Nelayan di Pantura Jawa Tengah Terjerat Rentenir

Akhmad Safuan
07/1/2026 10:59
Gelombang Tinggi tidak Dapat Melaut Nelayan di Pantura Jawa Tengah Terjerat Rentenir
Ilustrasi(MI/Akhmad Safuan)

GELOMBANG tinggi dan air laut pasang (rob) di perairan utara Jawa Tengah masih berlangsung Rabu (7/1) berdampak terganggunya aktivitas pelayaran hingga ribuan nelayan terjerat rentenir dan kegiatan warga di kawasan pesisir sejumlah daerah di Pantura Jawa Tengah.

Pemantauan Media Indonesia Rabu (7/1) ribuan kapal dan perahu nelayan di sejumlah daerah di Pantura Jawa Tengah masih bertahan sandar di sejumlah pelabuhan perikanan dan muara sungai, gelombang tinggi yang masih berlangsung disertai hujan badai mengakibatkan ribuan nelayan berhenti melaut sejak Desember lalu.

Warga berada di kawasan pesisir Pantura Jawa Tengah juga tidak dapat tenang karena air laut pasang dengan ketinggian maksimum 1 meter berlangsung pada malam sekitar pukul 20.00-24.00 WIB. "Kalau malam harus terjaga dan tidak dapat tidur nyenyak, karena banjir datang pada malam hingga dini hari," ujar Kasno,45, warga Sriwulan, Kabupaten Demak.

Hal serupa juga diungkapkan Anjani,38, warga Kaliwungu , Kendal mengaku khawatir banjir semakin meninggi akibat air laut pasang yang berlangsung pada malam hari, meskipun tidak melakukan kegiatan malam namun banjir kerap masuk ke dalam rumah dengan ketinggian mencapai 50 centimeter.

Sementara itu Waluyo,50, nelayan di Wedung, Demak mengungkapkan sudah cukup lama menganggur tidak melaut, karena gelombang tinggi disertai hujan badai terjadi di perairan utara cukup berisiko terhadap aktivitas pelayaran, sehingga untuk memenuhi kebutuhan sebagian besar nelayan muda bekerja serabutan.

"Jika kondisi seperti ini, kami hidup mengandalkan hutang ke bos ikan atau pinjam ke bank titik dengan jaminan perahu bermesin 40 PK untuk bertahan hidup dan dikembalikan setelah kembali melaut," ujar Waluyo.

Nelayan lain Suryono,55, nekayan di Wonokerto, Pekalongan mengaku pada kondisi gelombang tinggi ini ada ribuan nelayan di Pantura Jawa Tengah tidak berani melaut dan memilih istirahat, sedangkan untuk menopang kebutuhan terpaksa berhutang ke pemilik (bos) kapal yang dibayar saat kembali melaut.

Demikian juga Karmidi, nelayan lain di Sarang, Rembang mengungkapkan situasi sulit akibat gelombang tinggi ribuan nelayan dihadapi kesulitan karena tidak ada pendapatan, sehingga memaksakan diri mencari jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan dengan meminjam uang dari rentenir. "Gelombang di pantai sekitar 1,5 meter, tetapi di tengah bisa 3 meter," imbuhnya.

Prakirawan BMKG Stasiun Maritim Tanjung Emas Semarang Shafira Tsanyfadhila Rabu (7/1) mengatakan selain air laut pasang pada makam hari, kondisi perairan utara Jawa Tengah masih bergejolak dengan ketinggian 1,25-2,5 meter sehingga cukup beresiko terhadap aktivitas pelayaran terutama nelayan dan tongkang saat kecepatan angin diatas 15 knot.

"Waspada terhadap gelombang tinggi dan rob di perairan utara, karena cukup berisiko terhadap aktivitas baik pelayaran maupun transportasi," ujar Shafira Tsanyfadhila.

Sejumlah kawasan perairan utara, ungkap Shafira Tsanyfadhila, terjadi gelombang tinggi seperti Pekalongan-Kendal, Semarang-Demak, Jepara, Karimunjawa, Pati-Rembang, juga air laut pasang berdampak terhadap terganggunya aktivitas warga di pesisir sejumlah daerah di Pantura Jawa Tengah terutama transportasi. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik