Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Sebulan Pascabencana, Data Kerusakan dan Nasib Pengungsi Tapteng masih Dipertanyakan

Januari Hutabarat
30/12/2025 13:46
Sebulan Pascabencana, Data Kerusakan dan Nasib Pengungsi Tapteng masih Dipertanyakan
Warga Kecamatan Sitahuis membersihkan material longsor dari pekarangan rumah mereka pascabencana.(MI/Januari Hutabarat)

MEMASUKI lebih dari satu bulan pascabencana banjir dan longsor di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, kejelasan penanganan dan pemulihan bagi warga terdampak masih menjadi sorotan.

Sejumlah pengungsi tercatat masih bertahan di posko pengungsian. Sementara itu, data final kerusakan rumah serta realisasi bantuan belum sepenuhnya terbuka ke publik.

Hingga kini, pemerintah daerah belum menyampaikan secara rinci jumlah final rumah warga yang mengalami kerusakan berat, sedang, maupun ringan akibat bencana. Padahal, data tersebut menjadi dasar penting dalam penyaluran bantuan, pembangunan hunian sementara (huntara), serta perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Keberadaan pengungsi yang masih bertahan di posko pengungsian juga menimbulkan pertanyaan. Faktor penyebab warga belum kembali ke rumah apakah karena bangunan tidak layak huni, ancaman bencana susulan, atau keterbatasan bantuan perlu dijelaskan secara transparan.

Pembangunan huntara bagi korban dengan rumah rusak berat pun menjadi perhatian. Hingga kini belum ada kepastian kapan hunian sementara tersebut mulai ditempati, sementara sebagian korban masih menggantungkan hidup di posko darurat dengan fasilitas terbatas.

Dari sisi anggaran, penggunaan dana tanggap darurat oleh BPBD Tapteng juga dinilai perlu disampaikan secara terbuka, termasuk besaran anggaran yang telah direalisasikan dan peruntukannya.

Di tengah potensi cuaca ekstrem yang masih berlangsung, langkah konkret pemerintah daerah untuk mencegah banjir dan longsor susulan menjadi krusial. 

Upaya mitigasi seperti normalisasi sungai, penanganan daerah rawan longsor, serta penguatan sistem peringatan dini dinilai mendesak agar bencana serupa tidak kembali menimbulkan korban.

Namun, upaya konfirmasi Media Indonesia kepada Sekretaris Daerah Tapteng, Binsar Sitanggang, terkait data kerusakan dan pengungsi tidak membuahkan hasil. 

Dihubungi melalui pesan WhatsApp Senin (29/12) hingga berita ini diterbitkan yang bersangkutan memilih bungkam.

Sikap serupa ditunjukkan Pelaksana Tugas Kepala BPBD Tapteng, Leonardus Sinaga. Pejabat yang seharusnya memiliki data teknis kebencanaan tersebut juga tidak merespons saat dihubungi Senin (29/12) melalui pesan WhatsApp.

Salah seorang korban bencana di Kecamatan Pandan, Selasa (30/12), mengaku rumahnya terendam banjir. Ia menilai penanganan di lapangan berjalan lamban dan petugas kurang memahami strategi pembersihan material banjir dan longsor dari permukiman warga.

Sementara itu, warga di Kecamatan Badiri menyebutkan pembersihan yang dilakukan petugas lebih difokuskan pada fasilitas umum. Adapun pembersihan di area permukiman warga harus dilakukan secara swadaya.

Hasil pantauan Media Indonesia di lapangan menunjukkan tidak semua pengungsi yang masih bertahan di posko merupakan pemilik rumah rusak parah. Namun, material banjir masih menutupi rumah mereka, sehingga warga belum dapat kembali dan terpaksa tetap tinggal di posko pengungsian. (JH/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya