Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Rumah Hacur Disapu Banjir, Korban di Aceh Berharap Bantuan Makanan Siap Santap

Amiruddin Abdullah Reubee
14/12/2025 18:05
Rumah Hacur Disapu Banjir, Korban di Aceh Berharap Bantuan Makanan Siap Santap
Persiapan relawan Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Aceh, saat turun ke lokasi banjir bandang di Pidie Jaya.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

WARGA korban terdampak banjir di kawasan Provinsi Aceh mengharapkan ada bantuan makanan siap santap. Lalu mereka juga membutuhkan air minum dan air bersih. 

Apalagi di lokasi-lokasi paling parah yang dihantam air bah, banyak peralatan dapur tergulung arus. Lalu kayu bakar utuk memasak juga langka setelah terendam air. 

Hal itu masih ditambah dengan krisis bahan bakar gas elpiji. Kemudian sumur air bersih, jaringan pipa PDAM serta sumber air bersih lainnya juga sudah hancur atau tercemar sendimen lumpur dan sampah banjir. 

Itu sebabnya hingga pekan ke-3 puncak banjir berlalu, para korban masih sulit membangun dapur mandiri (untuk memasak sekeluarga sendiri). Mereka hanya bisa bertahan dengan bantuan dari dapur umum. 

Itupun serba kekurangan dan sangat tergantung dengan waktu makan atau jadwal masak. Kalau sedikit saja terlambat datang ke dapur umum, mereka terancam kehabisan stok makanan.

Koordinator Relawan Sukma Bangsa Pidie Peduli Banjir, Marthunis Bukari, kepada Media Indonesia, Minggu (14/12) mengatakan, banyak pengungsi di Kabupaten Pidie Jaya, meminta ada bantuan nasi segar atau makanan siap santap lainnya. 

Korban tetap menerima atau tidak menolak bantuan bahan pokok untuk kebutuhan ke depan setelah berakhirnya status darurat bencana. Tapi karena kondisi lapangan sekarang masih berlumpur, maka para warga yang terdampak sangat mengharapkan nasi segar atau makanan jenis lain yang langsung bisa dimakan dan mengenyangkan. 

"Sesuai permintaan banyak korban banjir, sudah beberapa kali kami membawa nasi bungkus siap santap. Tiap satu paket berisi nasi putih, beberapa jenis lauk atau daging ayam dan satu botol air mineral. Mereka menyambut gembira dan bersedia antrean panjang lagi tertib," tutur Marthunis. 

Dikatakannya, bantuan di antaranya didistribusikan di Desa Beurawang, Meureudu, Pidie Jaya. Selama ini para korban terdampak banjir di wilayah itu jarang makan nasi lengkap lauk penuh gizi. Untuk kebutuhan makan, mereka harus berupaya mendatangi dapur umum yang letaknya jauh dari tempat tinggal mereka. 

Karena jarak yang cukup jauh dari desa, ketika sampai di dapur umum terkadang warga harus gigit jari. Sebab, persediaan sudah habis sehingga mereka harus menahan lapar. Apalagi masakan dapur darurat itu sering kekurangan bumbu, krisis lauk atau kadang berulang kali hanya menu mie instan. 

"Sedih melihat mereka. Begitu mendapat satu paket nasi, tidak peduli sekelilingnya, langsung membuka bungkus terus menyantap dengan lahap. Meskipun duduk di pinggir jalan berlumpur atau pada puing-puing bekas rumah bekas dihantam banjir. Insya Allah lauk pun ada beberapa jenis dan isi bungkusan juga lumayan banyak. Cukuplah untuk makan siang walau belum sarapan pagi," tutur Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie itu penuh haru. 

Dikatakan Marthunis, pihaknya juga membawa bantuan bumbu dapur ke lokasi banjir di Pidie Jaya. Bumbu dapur itu sudah terpaket senilai Rp600.000 per paket.

Ada yang diserahkan untuk kebutuhan dapur umum, ada juga diberikan langsung kepada keluarga yang menghidupkan dapur mandiri. Bahan bumbu dapur-dapur darurat itu mencukupi tergolong memadai untuk memasak. 

"Penyediaan nasi bungkus, makanan siap santap, snack (makanan ringan) anak-anak dan bumbu dapur itu sesuai pengamatan kebutuhan lapangan. Meski sederhana tapi sangat berarti bagi ribuan korban. Mungkin itu termasuk bantuan yang jarang terpikirkan," pungkasnya. (MR/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik