Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Perjuangan Korban Banjir Aceh Jalan Kaki 180Km dari Gayo ke Pidie Jaya Bertemu Keluarga

Amirudddin Abdullah Reubee
03/12/2025 11:32
Perjuangan Korban Banjir Aceh Jalan Kaki 180Km dari Gayo ke Pidie Jaya Bertemu Keluarga
Para orang tua wali santri dari Takengon Kabupaten Aceh Tengah yang menempuh jalan lalu menyusuri hutan dan cuaca buruk melintasi pegunungan dan menyeberang sungai melalui jalur Nasional Takengon, Aceh Tengah-Bireuen-Pidie Jaya.(MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE)

LIMA lelaki paruh baya asal Kabupaten Aceh Tengah, rela berjalan kaki sekitar 180 kilometer (km) dari Gayo untuk melihat keadaan putra/putri mereka di Pesantren Darul Munawarah, Kuta Krueng, Ulee Gle, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya

"Itu para wali santri yang ingin menjenguk anaknya ke Dayah Almarhum Abu Kita Krueng, Ulee Glee. Mereka dari Takengon, Aceh Tengah" tutur Teungku Budiyansyah, Ketua Kafilah Santri Tanah Gayo penuntut ilmu di Pesantren Darul Munawarah. 

Selama perjalanan, mereka hanya  mengandalkan  tongkat kayu dan persediaan stok makanan siap saji atau kue kering yang dimasukkan dalam tas ransel. Jarak yang harus di tempuh dari Aceh Tengah harus melewati Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Bireuen, baru Sampai Ke Kabupaten Pidie Jaya sebuah kawasan paling parah di hantam air bah. 

Setelah sehari semalam melewati jalur Nasional Takengon-Bireuen dengan mendaki bukit, melewati jalan amblas dan mengarungi lembah banjir,  mereka  terkendala karena satu unit jembatan putus diterjang banjir arus Sungai Krueng Juli, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, pada Minggu (30/11) pagi. 

Kemudian, mereka menunggu sampai arus sungai surut.  Esok hari setelah air mulai surut, mereka mengarungi derasnya sungai. Lalu melanjutkan jalan kaki melintasi kota Bireuen hingga Ke Ulee Glee sekitar 70 km. 

Pada Senin (1/12), menjelang siang lima wali santri itupun tiba di Pesantren Dayah Darul Munawarah Kuta Krueng, Ulee Glee Glee, Kabupaten Pidie Jaya. Peluk tangis pun membahana melepaskan kerinduan pada anak-anak mereka.

"Mungkin waktu pulang perjalanannya sudah berbeda. Kalau ada mobil atau lenderaan menuju satu arah mereka bisa menpang walau harus sambungenyambunga" tutur Teungku Budiyansyah. 

Ia menjelaskan masih banyak orangtua santri yang datang dari Tanah Gayo seperti Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan kabupaten lainnya.

"Hingga hari ini masih banyak yang datang dari Aceh Tengah dan Bener Meriah. Sebagian mereka menjenguk anaknya di Dayah Kawasan Ulee Glee, Kabupaten Pidie Jaya dan kawasan Kabupaten Bireuen, termasuk ke Dayah Mudi Mesra" tutur Budiyansyah. (H-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya