Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH dilanda banjir dan longsor besar pada Rabu 26-Kamis 27 November bulan lalu, ribuan wrga perantau di Kabupaten Aceh Tengah dan Menerima Meriah, meninggalkan kawasan setempat untuk kembali ke kampung halaman mereka. Pergerakan itu sudah berlangsung sejak dia pekan terakhir setelah kondisi di Aceh Tengah dan Bener Meriah semakin Sulit.
Mereka meninggalkan Aceh Tengah dan Bener Meriah untuk kembali ke daerah asal seperti Kabupaten Aceh Utara, Bireuen, Pidie dan daerah lain termasuk berbagai provinsi lan hingga Pulau Jawa. Pada sebagian mereka ada yang sudah puluhan tahun merantau di dataran tinggi nan dingin itu.
"Ya, bayak yang pulang kampung masing-masing atau ingi menjenguk keluarga nya di tempat lain. Ada juga kawan saya yang pulang jalan kaki," kata Rahmi Zul Maulida, dosen pendidikan matematika UIN Sultanah Nahrasiah Lhok Seumawe yang juga tokoh masyarakat Takengon, Aceh Tengah.
Kepulangan perantau harus meninggalkan lokasi kerja dan terpaksa menutup tempat usaha dagang karena di kabupaten itu sudah terkurung akibat bencana. Lalu kalau terus bertahan merak takut ancaman kelaparan karena kawasan dataran tinggi penghasil kopi gayo itu sekarang krisis bahan makanan dan langka kebutuhan pangan lainnya.
Sebagian besar mereka yang berasal dari berbagai kabupaten/kota di Aceh pulang jalan kaki ratusan kilometer (Km) dengan melewati jalur setapak hutan belantara dan menembus bukit terjal. Hanya separuh perjalanan melalui badan jalan yang sudah rusak parah dan menyeberangi sangai jembatan putus.
"Ada yang menembus jalur nasional keluar ke Kabupaten Bireuen melewati melewati jalan longsor dan jembatan putus. Cukup banyak juga keluar menelusuri jalur KKA tembus ke Aceh Utara dan tidak sedikit menebus hutan melalaui perbatasan Bener Meriah ke arah Waduk Keureutoe, Kecamatan Paya Baking, Aceh Utara," kata Muslim warga Takengon, Aceh Tengah.
Ada juga sebagian keluar melalui Bandara Rembembele Bener Meriah. Sebagian parantau yang keluar melalui Bandara perintis itu warga asal pulau Jawa. Mereka umumnya menumpang pesawat herculesilik TNI saat pulang dari mengangkut bantuan logistik melalui Rembele.
Setelah menebus jalan sulit dan sampai di Bireuen atau Aceh Utara, bagi yang pulang ke daerah lain biasanya mencari angkutan umum. Ada juga yang menumpang mobil siapa saja di jalur nasional Banda Aceh-Medan.
Pera perantau itu sangat sulit bertahan di Aceh Tengah dan Bener Meriah, karena dari hari ke hari kondisinya semakin tidak menentu. Selain kelangkaan bahanakanan dan barang lainnya. Kalaupun ada yang diangkut oleh pedagang kecil dari pasar Kamp perbatasan Bener Meriah-Aceh Utara, tapi harganya cukup mahal, tidak sesuai kemapuan masyarakat umum.
Lebih parah lagi untuk kehidupan psrantau pekerja harian, untuk mencari warung tpat makan tiga hari sekali cukup sulit. Karena situasi kota Takengon lengang dan warung-warung makanan tutup.
"Saya mencari mie Aceh di Kota Takengon hanya dapat pada satu pedagang. Ketika saya tanganengama masih buka sedangkan yang sudah tutup. Jawabnya itu hanya bahan pokok yang tersisa," jelas Rahmi, menirukan pedangan mie Aceh.
Sayangnya kepulangan ribuan perantau itu semakin lengang Kota Takengon dan Bener Meriah. Lalu banyak kebun kopi, lahan sayuran seperti kol, kentang, cabai, wortel, brokoli dan lainnya ditinggalkan begitu saja.
Kondisi demikian sangat berpengaruh terhadap pemulihan ekonomi masyarakat setempat. Lalu akan semakin memperparah kehidupan sosial di sana.
"Kalau pemulihan jalur menuju ke dataran tinggi Takengon dan bener Meriah tidak di kebut dari lima arah jalan keluar masuk itu, tentu akan berujung ganguan ekonomi lebih parah. Lalu semakin terisolasi kehidupan warga di sana. Padal itu daerah melimpah hasil bumi dan memiliki kekayaa wisata alam," kata M Adli Abdullah, budayawan Aceh dan juga akademisi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. (H-1)
LIMA lelaki paruh baya asal Kabupaten Aceh Tengah, rela berjalan kaki sekitar 180 kilometer (km) dari Gayo untuk melihat keadaan putra/putri mereka di Pesantren Darul Munawarah, Pidie Jaya
Berjalan kaki sekitar 7.000 langkah setiap hari terbukti memberikan dampak besar bagi kesehatan dan memperpanjang harapan hidup.
Setiap langkah yang diambil saat berjalan kaki, mulai dari 60 detik hingga satu jam penuh, dapat memberikan dampak positif bagi tubuh.
Berjalan mundur ternyata memiliki banyak manfaat kesehata. Simak tujuh manfaat berjalan mundur.
Apakah kamu tahu bahwa kebiasaan sederhana seperti berjalan kaki bisa menjadi senjata ampuh melawan kanker?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved