Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Puluhan Ibu di Desa Darmaga Belajar Berbagai Pengolahan Produk Kedelai

Basuki Eka Purnama
24/11/2025 07:29
Puluhan Ibu di Desa Darmaga Belajar Berbagai Pengolahan Produk Kedelai
Program bertema Multisoy (Multiproduk Soybean) di Desa Darmaga, Kabupaten Subang(MI/HO)

PROGRAM bertema Multisoy (Multiproduk Soybean) di Desa Darmaga, Kabupaten Subang digelar pada 1, 2, 8, dan 15 November 2025. Kegiatan itu diikuti oleh 34 ibu-ibu desa yang antusias mempelajari berbagai pengolahan kedelai menjadi produk pangan bernilai gizi tinggi. 

Produk yang diperkenalkan meliputi tempe, tahu, susu kedelai, hingga inovasi terbaru berupa nougat kedelai yang kaya nutrisi.

Kegiatan itu digelar oleh mahasiswa Departemen Biologi dan Departemen Gizi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (PM-BEM). 

Fransiska, selaku Project Manager dari tim Biologi, menjelaskan bahwa program Multisoy dirancang sebagai upaya konkret meningkatkan kemandirian pangan masyarakat desa sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

"Melalui pembuatan multiproduk ini diharapkan warga Desa Darmaga bisa membuat produk dari kacang kedelai untuk konsumsi masyarakat dan meningkatkan kesehatan juga konsumsi keluarga di rumah. Kami ingin menunjukkan bahwa kedelai bukan hanya untuk tempe dan tahu, tetapi bisa diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomis," ujar Fransiska.

Program ini merupakan kelanjutan dari peluncuran PM-BEM UPI yang telah dimulai sejak 11 Oktober 2025 lalu. Dengan melibatkan 36 mahasiswa dari multidisiplin ilmu, program pemberdayaan ini mengusung empat pilar utama, salah satunya adalah Multisoy yang fokus pada diversifikasi produk olahan kedelai.

Nougat Kedelai, Inovasi Sehat untuk Semua Usia

Fiina, Project Manager dari tim Teknologi Pangan, menekankan bahwa inovasi produk kedelai yang dikembangkan bukan hanya bernutrisi tinggi, tetapi juga mudah dibuat dan digemari berbagai kalangan usia.

"Nougat kedelai ini rasanya enak, permen manis namun tetap sehat karena kedelai yang disangrai dan tanpa melalui proses yang begitu rumit. Semoga anak-anak suka dan ibu-ibu bisa mempraktikkannya di rumah. Ini solusi camilan sehat yang bisa menggantikan jajanan kurang bergizi," jelas mahasiswa dari jurusan Teknologi Pangan itu.

Produk nougat kedelai menjadi salah satu inovasi unggulan dalam program ini. Dengan tekstur yang lembut dan rasa manis alami, nougat ini menjadi alternatif camilan sehat yang kaya protein nabati, cocok untuk anak-anak hingga lansia.

Kolaborasi Berkelanjutan Perguruan Tinggi dan Masyarakat

Program Multisoy sejalan dengan visi PM-BEM yang didanai oleh Kemendikbudristek untuk mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam bidang ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat.

Melalui bimbingan Prof. Didik Priyandoko, M.Si. Ph.D, Dr. Hernawati, M.Si., dan Dr. Duden Saepuzaman, M.Si., program ini tidak hanya memberikan pelatihan sesaat, tetapi juga membangun ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan.

Antusiasme para peserta terlihat jelas selama kegiatan berlangsung. Berdasarkan hasil wawancara dengan tim mahasiswa UPI, seluruh ibu-ibu yang mengikuti pelatihan mengaku senang dan terbantu dengan ilmu praktis yang diberikan.

"Rasanya senang bisa membuat tahu sendiri, susu kedelai sendiri. Jadi lebih hemat dan rasanya bisa diatur sendiri. Kita bisa menghadirkan yang terbaik buat anak-anak di rumah. Apalagi sekarang harga tahu dan tempe di pasar mahal, kalau bisa bikin sendiri kan lebih murah," ungkap Tati, salah satu peserta.

Para peserta juga mengapresiasi pendampingan intensif yang diberikan mahasiswa UPI. Dalam empat hari pelatihan, mereka tidak hanya mendapat teori, tetapi juga praktik langsung dengan bimbingan step-by-step hingga mahir membuat berbagai produk olahan kedelai. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya