Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
KABAR baik datang bagi para penderita asam urat. Selama ini banyak orang mengira produk berbahan dasar kedelai, seperti tahu, tempe, atau susu kedelai, bisa memperparah penyakit asam urat karena kandungan purinnya. Namun, hasil penelitian yang dikutip dari laman Sing Health justru berkata sebaliknya.
Sebuah studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari Duke-NUS Graduate Medical School dan National University Hospital (NUH) Singapura menemukan bahwa mengonsumsi kedelai dan kacang-kacangan tidak meningkatkan risiko asam urat, bahkan bisa memberi efek perlindungan bagi tubuh.
Penelitian ini merupakan bagian dari Singapore Chinese Health Study, yang dimulai sejak 1993 dan melibatkan lebih dari 50.000 orang Tionghoa berusia 45 hingga 74 tahun.
Para peserta diminta menjawab pertanyaan tentang pola makan mereka, lalu peneliti melakukan tindak lanjut selama beberapa tahun untuk memantau perkembangan kesehatan mereka. Dari seluruh peserta, sekitar 2.197 orang tercatat mengidap asam urat selama masa penelitian.
Hasilnya, mereka yang paling sering mengonsumsi produk kedelai seperti tahu, tempe, atau susu kedelai ternyata memiliki risiko lebih rendah terkena asam urat dibandingkan mereka yang jarang memakannya.
Menurut konsultan senior di divisi reumatologi NUH, Teng Gim Gee, kedelai bahkan bisa memiliki efek perlindungan terhadap asam urat. Ia menambahkan bahwa kebanyakan penderita asam urat bisa dengan aman mengonsumsi kedelai dan kacang-kacangan tanpa takut kambuh.
Sebelumnya, banyak dokter menyarankan pasien asam urat untuk menghindari makanan berpurin tinggi seperti daging merah, jeroan, dan makanan laut.
Karena kedelai juga mengandung purin, sebagian orang beranggapan efeknya sama. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa purin dalam kedelai bekerja berbeda dengan purin dari daging.
Hasil riset serupa di Jepang dan Taiwan juga mendukung temuan ini. Para ilmuwan menduga bahwa zat dalam kedelai membantu tubuh membuang kelebihan asam urat melalui urin, sehingga kadar asam urat dalam darah tetap stabil.
Namun, penelitian tersebut juga mengungkapkan hal menarik lainnya. Kelompok yang paling sering mengonsumsi daging unggas seperti ayam dan bebek memiliki risiko 27% lebih tinggi terkena asam urat, sedangkan yang paling banyak makan daging merah (terutama babi) hanya mengalami peningkatan risiko sekitar 8%. Hal ini diduga karena perbedaan kandungan purin dan pola konsumsi masyarakat.
Profesor Koh Woon-Puay dari Saw Swee Hock School of Public Health menegaskan, hasil ini menjadi pesan penting bagi penderita asam urat untuk mulai mengganti sebagian konsumsi daging dan seafood dengan sumber protein nabati seperti kedelai. Ia menyarankan, satu porsi tahu atau segelas susu kedelai setiap hari bisa menjadi pilihan sehat.
Meski begitu, Dr. Teng tetap mengingatkan bahwa setiap tubuh bisa bereaksi berbeda. Temuan ini menunjukkan bahwa tidak semua makanan berpurin tinggi berbahaya, dan pola makan seimbang tetap menjadi kunci dalam menjaga kadar asam urat tetap normal.
“Jika seseorang merasakan nyeri asam urat setelah makan kedelai, sebaiknya ia menghindarinya,” ujar dikutip dari laman yang sama. (Sing Health/Z-1)
Kebutuhan kedelai nasional mencapai sekitar 2,9 juta ton per tahun, sementara serapan dari kedelai lokal saat ini tidak sampai 100 ribu ton.
Tempe adalah makanan fermentasi yang bergizi, murah dan relevan untuk masyarakat Indonesia.
Meski idealnya asupan protein utama berasal dari sumber hewani, menurut ahli gizi, protein nabati dapat menjadi solusi efektif di tengah keterbatasan biaya dan akses terhadap bahan pangan.
Menurut perajin tahu dan tempe di Provinsi Lampung Sendi, kedelai impor memiliki kualitas yang lebih bagus dibandingkan kedelai lokal.
NAIKNYA harga kacang kedelai impor memukul usaha pembuatan tahu di Purwakarta, Jawa Barat.
Kegiatan ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, komunitas budaya, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat umum
Kebutuhan kedelai nasional mencapai sekitar 2,9 juta ton per tahun, sementara serapan dari kedelai lokal saat ini tidak sampai 100 ribu ton.
Tempe adalah makanan fermentasi yang bergizi, murah dan relevan untuk masyarakat Indonesia.
Meski idealnya asupan protein utama berasal dari sumber hewani, menurut ahli gizi, protein nabati dapat menjadi solusi efektif di tengah keterbatasan biaya dan akses terhadap bahan pangan.
Menurut perajin tahu dan tempe di Provinsi Lampung Sendi, kedelai impor memiliki kualitas yang lebih bagus dibandingkan kedelai lokal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved