Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Tahu dan Tempe, Sumber Protein Murah Penopang Gizi Anak Indonesia

Basuki Eka Purnama
11/11/2025 10:04
Tahu dan Tempe, Sumber Protein Murah Penopang Gizi Anak Indonesia
Ilustrasi(Freepik)

KONSUMSI protein, baik yang berasal dari hewani maupun nabati, menjadi hal penting untuk mendukung proses tumbuh kembang anak, khususnya dalam upaya menurunkan angka stunting di Indonesia. 

Guru Besar IPB University, Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS, mengungkapkan, protein merupakan zat gizi utama yang berperan dalam pembentukan sel dan jaringan tubuh anak. 

“Masalah stunting yang masih terjadi pada balita dan anak usia sekolah antara lain disebabkan oleh rendahnya konsumsi protein, terutama yang berasal dari pangan hewani seperti susu, daging, dan ikan,” jelasnya.

Ia menambahkan, rendahnya tingkat konsumsi pangan hewani di masyarakat menjadi salah satu faktor utama kekurangan asupan protein. 

“Kalau kita melihat data, konsumsi susu, daging dan ikan di Indonesia masih rendah. Padahal kekurangan protein akan berdampak langsung terhadap pertumbuhan anak,” tegas Prof Ali.

Prof Ali kemudian menyoroti peran penting dari pangan nabati seperti kacang kedelai, yang juga memiliki kandungan protein tinggi dan telah lama menjadi bagian dari budaya makan masyarakat Indonesia. 

“Kedelai yang diolah menjadi tahu dan tempe adalah sumber protein nabati yang digemari masyarakat. Ini keberuntungan bagi kita karena sumber nabati ini harganya relatif lebih murah dibandingkan dengan protein hewani,” katanya.

Meski demikian, Prof Ali mengingatkan bahwa kualitas protein hewani masih lebih baik dibandingkan protein nabati. 

“Tahu dan tempe bagus, tetapi kandungan asam aminonya tidak bisa disamakan dengan protein hewani seperti daging atau susu. Idealnya, keduanya dikonsumsi bergantian agar asupan protein tetap seimbang,” tambahnya.

Prof Ali juga menekankan bahwa susu kedelai bisa menjadi solusi bagi anak-anak yang memiliki alergi terhadap susu sapi atau intoleransi laktosa. 

“Dalam kasus tertentu, susu protein nabati seperti susu kedelai bisa menjadi alternatif yang baik,” ungkapnya.

Ia mengajak masyarakat untuk kembali menghargai kearifan lokal yang telah mengenal tempe sejak abad ke-18. 

“Tempe adalah makanan fermentasi yang bergizi, murah dan relevan untuk masyarakat Indonesia. Tradisi konsumsi tempe dan tahu harus dilestarikan sebagai bagian dari pola makan bangsa,” tegasnya.

Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas) konsumsi kedelai nasional saat ini diperkirakan mencapai sekitar 2,75 juta metrik ton di 2025. 

Tingginya kebutuhan tersebut salah satunya karena pelaksanaan program MBG. Sebagian besar kebutuhan kedelai nasional tersebut saat ini
belum bisa dipenuhi dari hasil produksi pertanian dalam negeri. Hal ini menunjukkan masih besarnya potensi pengembangan produksi kedelai lokal di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan nasional. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya