Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

BMKG Yogyakarta Terus Pantau Bibit Siklon Tropis 98S di Selatan Jawa

Agus Utantoro
16/11/2025 21:56
BMKG Yogyakarta Terus Pantau Bibit Siklon Tropis 98S di Selatan Jawa
Ilustrasi.(Dok.MI)

STASIUN Meteorologi pada BMKG Yogyakarta terus memantau pergerakan dan perkembangan bibit Siklon Tropis 98S yang berada di perairan Samudera Hindia, di sebelah selatan Pulau Jawa.

Bibit Tropis Siklon 98S ini, kata Kepala Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Warjono, berada di koordinat 9,0 derajat LS (Lintang Selatan) dan 109.2 derajat BT (Bujur Timur) dengan tekanan 1009 hPa dan kecepatan angin 20 knots (37 km/jam), serat 97S di Nusa Tenggara Barat yang terletak pada koordinat 11,4 derajat LS dan 126.4 derajat BT dengan tekanan 1006 hPa dan kecepatan angin 25 knots (47 km/jam). 

"Bibit Siklon Tropis 98S didukung oleh aktifnya gelombang Low Frequency Equatorial Rossby, MJO, Suhu Muka Laut yang hangat 28-30 derajat Celsius, Kelembapan Udara yang cukup basah disetiap lapisan 850-500 hPa yang berkisar antara 70-95%," kata Warjono dalam keterangan tertulisnya yang diterima Media Indonesia di Yogyakarta, Minggu (16/11).

Berdasarkan analisis BMKG, kata Warjono, dalam periode 24-72 jam kedepan, Bibit Siklon Tropis 98S diperkirakan akan cenderung melemah dengan kecepatan angin berkisar 10-15 knots yang bergerak ke arah timur-tenggara. Potensi Bibit Siklon Tropis 98S untuk berkembang menjadi Siklon Tropis dalam 24-72 jam kedepan, katanya, dalam kategori peluang rendah. 

Namun demikian, ia menyebut Bibit Siklon Tropis 98S akan memberikan dampak cuaca ekstrem secara tidak langsung di wilayah Pulau Jawa terutama wilayah DIY yang dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan konvektif sehingga dapat menimbulkan potensi kejadian hujan dengan intensitas Sedang – Lebat yang dapat disertai dengan petir dan angin kencang. 

Pada kesempatan itu, Warjono menjelaskan lagi,  Bibit Siklon Tropis “98S” di Samudera Hindia selatan Pulau Jawa dapat mengakibatkan terbentuknya wilayah “shearline” (belokan angin) dan “konvergensi” (pertemuan angin) di sepanjang Pulau Jawa yang berpotensi menambah massa udara dengan didukung suhu muka laut yang hangat antara 28.0 derajat Celsius hingga 30.0 derajat Celsius, gelombang Rossby serta MJO juga mempengaruhi kondisi atmosfer sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan di  sekitar wilayah Jawa khususnya di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Ia menyebutkan kelembapan udara di lapisan 1.5 – 3.5 km berkisar antara 70% – 95% yang dapat menambah potensi pertumbuhan awan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. 

"Waspada potensi cuaca ekstrem dan dapat menimbulkan terjadinya bencana hidrometeorologi seperti  banjir, tanah longsor, angin kencang dan pohon tumbang," katanya.

Daerah Terdampak Bibit Siklon Tropis

Daerah yang berpotensi terdampak, sambungnya yakni Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Gunungkidul. 

"Waspada daerah rawan banjir dan potensi angin kencang yang dapat menyebabkan dampak susulan lainnya seperti pohon tumbang di wilayah Kota Yogyakarta," katanya. 

Lalu, masyarakat Kabupaten Sleman diminta meningkatkan kewaspadaannya terutama di daerah rawan longsor atau sekitar daerah Lereng Merapi antara lain Kepanewon Turi, Pakem, Cangkringan dan Prambanan. 

"Waspada daerah rawan banjir dan potensi angin kencang yang dapat menyebabkan dampak susulan lainnya seperti pohon tumbang di wilayah Minggir, Seyegan, Tempel, Sleman dan Mlati," ujarnya. 

Warga Kabupaten Kulon Progo diminta waspada terutama di daerah rawan longsor yakni wilayah Kepanewon Girimulyo, Samigaluh, Kalibawang, Nanggulan dan Kokap serta waspada daerah rawan banjir di sekitar wilayah Panjatan, Lendah dan Galur.  

Sedangkan untuk Kabupaten Gunungkidul, masyarakat di  Kepanewon Semanu, Patuk, Gedangsari, Wonosari, Playen, Paliyan, Patuk, Gedangsari, Ngawen dan Semin diminta waspada terhadap potensi tanah longsor dan banjir.  Di Kabupaten Bantul, ada potensi bencana banjir di wilayah Kepanewon Sedayu, Kasihan, Sewon, Banguntapan, Piyungan, Imogiri dan Dlingo.

Stasiun Klimatologi, kemudian merekomendasikan agar semua jajaran baik masyarakat, Pemkab dan jajaran lainnya serta para relawan mengantisipasi risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan genangan air, terutama di wilayah rawan. 

Sementara selama ada peringatan dini cuaca ekstrem,  masyarakat diimbau tidak melewati jalur rawan longsor saat hujan sedang hingga lebat. 

"Bagi penduduk di daerah berpotensi rawan longsor agar selalu waspada saat terjadi  potensi cuaca ekstrem serta mengikuti arahan petugas dari BPBD, Pemerintah Daerah  serta instansi terkait selama periode peringatan dini yaitu tanggal 17 - 22 November 2025," katanya. (H-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik