Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
STASIUN Meteorologi pada BMKG Yogyakarta terus memantau pergerakan dan perkembangan bibit Siklon Tropis 98S yang berada di perairan Samudera Hindia, di sebelah selatan Pulau Jawa.
Bibit Tropis Siklon 98S ini, kata Kepala Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Warjono, berada di koordinat 9,0 derajat LS (Lintang Selatan) dan 109.2 derajat BT (Bujur Timur) dengan tekanan 1009 hPa dan kecepatan angin 20 knots (37 km/jam), serat 97S di Nusa Tenggara Barat yang terletak pada koordinat 11,4 derajat LS dan 126.4 derajat BT dengan tekanan 1006 hPa dan kecepatan angin 25 knots (47 km/jam).
"Bibit Siklon Tropis 98S didukung oleh aktifnya gelombang Low Frequency Equatorial Rossby, MJO, Suhu Muka Laut yang hangat 28-30 derajat Celsius, Kelembapan Udara yang cukup basah disetiap lapisan 850-500 hPa yang berkisar antara 70-95%," kata Warjono dalam keterangan tertulisnya yang diterima Media Indonesia di Yogyakarta, Minggu (16/11).
Berdasarkan analisis BMKG, kata Warjono, dalam periode 24-72 jam kedepan, Bibit Siklon Tropis 98S diperkirakan akan cenderung melemah dengan kecepatan angin berkisar 10-15 knots yang bergerak ke arah timur-tenggara. Potensi Bibit Siklon Tropis 98S untuk berkembang menjadi Siklon Tropis dalam 24-72 jam kedepan, katanya, dalam kategori peluang rendah.
Namun demikian, ia menyebut Bibit Siklon Tropis 98S akan memberikan dampak cuaca ekstrem secara tidak langsung di wilayah Pulau Jawa terutama wilayah DIY yang dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan konvektif sehingga dapat menimbulkan potensi kejadian hujan dengan intensitas Sedang – Lebat yang dapat disertai dengan petir dan angin kencang.
Pada kesempatan itu, Warjono menjelaskan lagi, Bibit Siklon Tropis “98S” di Samudera Hindia selatan Pulau Jawa dapat mengakibatkan terbentuknya wilayah “shearline” (belokan angin) dan “konvergensi” (pertemuan angin) di sepanjang Pulau Jawa yang berpotensi menambah massa udara dengan didukung suhu muka laut yang hangat antara 28.0 derajat Celsius hingga 30.0 derajat Celsius, gelombang Rossby serta MJO juga mempengaruhi kondisi atmosfer sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah Jawa khususnya di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ia menyebutkan kelembapan udara di lapisan 1.5 – 3.5 km berkisar antara 70% – 95% yang dapat menambah potensi pertumbuhan awan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
"Waspada potensi cuaca ekstrem dan dapat menimbulkan terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang dan pohon tumbang," katanya.
Daerah Terdampak Bibit Siklon Tropis
Daerah yang berpotensi terdampak, sambungnya yakni Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Gunungkidul.
"Waspada daerah rawan banjir dan potensi angin kencang yang dapat menyebabkan dampak susulan lainnya seperti pohon tumbang di wilayah Kota Yogyakarta," katanya.
Lalu, masyarakat Kabupaten Sleman diminta meningkatkan kewaspadaannya terutama di daerah rawan longsor atau sekitar daerah Lereng Merapi antara lain Kepanewon Turi, Pakem, Cangkringan dan Prambanan.
"Waspada daerah rawan banjir dan potensi angin kencang yang dapat menyebabkan dampak susulan lainnya seperti pohon tumbang di wilayah Minggir, Seyegan, Tempel, Sleman dan Mlati," ujarnya.
Warga Kabupaten Kulon Progo diminta waspada terutama di daerah rawan longsor yakni wilayah Kepanewon Girimulyo, Samigaluh, Kalibawang, Nanggulan dan Kokap serta waspada daerah rawan banjir di sekitar wilayah Panjatan, Lendah dan Galur.
Sedangkan untuk Kabupaten Gunungkidul, masyarakat di Kepanewon Semanu, Patuk, Gedangsari, Wonosari, Playen, Paliyan, Patuk, Gedangsari, Ngawen dan Semin diminta waspada terhadap potensi tanah longsor dan banjir. Di Kabupaten Bantul, ada potensi bencana banjir di wilayah Kepanewon Sedayu, Kasihan, Sewon, Banguntapan, Piyungan, Imogiri dan Dlingo.
Stasiun Klimatologi, kemudian merekomendasikan agar semua jajaran baik masyarakat, Pemkab dan jajaran lainnya serta para relawan mengantisipasi risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan genangan air, terutama di wilayah rawan.
Sementara selama ada peringatan dini cuaca ekstrem, masyarakat diimbau tidak melewati jalur rawan longsor saat hujan sedang hingga lebat.
"Bagi penduduk di daerah berpotensi rawan longsor agar selalu waspada saat terjadi potensi cuaca ekstrem serta mengikuti arahan petugas dari BPBD, Pemerintah Daerah serta instansi terkait selama periode peringatan dini yaitu tanggal 17 - 22 November 2025," katanya. (H-4)
CENS merupakan pergerakan massa udara dingin dari wilayah Tiongkok Selatan yang mampu melintasi garis ekuator hingga mencapai wilayah Indonesia.
Kondisi ini dipicu oleh penguatan Monsun Asia dan adanya sistem tekanan rendah di selatan Nusa Tenggara Barat yang membentuk pola konvergensi atau pertemuan angin.
Kondisi ini dipicu oleh aktivitas Bibit Siklon Tropis 91W dan penguatan Monsun Asia yang meningkatkan potensi hujan lebat disertai angin kencang di jalur Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
Berikut prakiraan cuaca Senin 12 Januari 2026 untuk kota-kota besar di Indonesia dikutip dari BMKG
Peta sebaran bencana sepanjang 2025 menunjukkan Pulau Jawa dan Sumatra masih menjadi wilayah dengan jumlah kejadian bencana tertinggi di Indonesia.
Pemerintah daerah diminta mempercepat identifikasi ulang zona merah dan membatasi aktivitas warga di wilayah rawan selama periode peringatan dini.
BMKG mencatat adanya pengaruh siklon tropis, bibit siklon tropis, serta sirkulasi siklonik yang memengaruhi dinamika atmosfer di kawasan Indonesia dan sekitarnya.
Selain pengaruh siklon tropis, kondisi cuaca ekstrem juga dipicu oleh menguatnya Monsun Asia serta aktifnya Gelombang Ekuatorial Rossby dan Kelvin.
BMKG mengungkapkan bahwa kemunculan tiga bibit siklon tropis, masing-masing bernomor 94W, 92S, dan 98P, memicu belokan serta perlambatan angin yang membentuk daerah konvergensi.
Peringatan ini menegaskan pentingnya mitigasi bencana sejak awal, terutama melalui kebijakan tata guna lahan yang berbasis sains dan bukti ilmiah.
Pola hujan pada awal tahun 2026 di Pulau Jawa menunjukkan karakter yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi cuaca signifikan ini dipicu oleh penguatan Monsun Asia dan pengaruh tidak langsung dari Siklon Tropis Luana yang terpantau bergerak di selatan perairan Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved