Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
INTENSITAS hujan deras yang melanda wilayah Banyumas, Jawa Tengah sejak Rabu (10/9) sore hingga Kamis (11/9) dini hari menyebabkan banjir luapan dan tanah longsor di beberapa kecamatan.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas mencatat setidaknya 10 kecamatan terdampak. Bencana longsor paling banyak terjadi, kebanyakan tanah menutup akses jalan di sejumlah titik. Plt Kepala Pelaksana BPBD Banyumas Budi Nugroho mengungkapkan ada longsor terjadi di jalur Rawalo–Patikraja pada Kamis dini hari.
Material tanah yang bercampur dengan pohon pinus dan jati menutup jalan dan sempat menimpa sebuah mobil sedan yang melintas.
“Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa ini. Namun akses jalan sempat terputus akibat tertutup longsor dan pohon tumbang,” jelas Budi.
Hasil kaji cepat BPBD menunjukkan longsor menutupi area sepanjang 30 meter, lebar 10 meter, dan tinggi mencapai 7 meter. Tiang lampu penerangan jalan (LPJU) dilaporkan miring ke arah jalan, sementara kabel listrik masih terjepit pohon tumbang.
“Material longsor masih tersisa di beberapa titik, termasuk yang menutup separuh badan jalan sekitar 200 meter dari lokasi utama. Kami terus berupaya melakukan pembersihan secepatnya,” tambahnya.
Selain lokasi tersebut, longsor juga melanda Desa Paningkaban dan Kedungurang menyebabkan penutupan akses jalan Ajibarang–Lumbir. Kemudian di Desa Tambaknegara dan Sidamulih, robohnya jembatan Kali Sungkalan, serta jebolnya tanggul Sungai Perwaton di Desa Sawangan. Longsor juga terjadi di Desa Kalisalak dan Karangmangu, menghambat akses jalan.
Lokasi lainnya adalah longsor di Desa Gununglurah dan Cipete, banjir luapan Sungai Tajum di Desa Kracak, serta longsor di Desa Banjaranyar. Ada juga pohon tumbang menutup jalan di Desa Plana dan Jalan Ampel Desa Kedungwringin. Sementara di Purwokerto Selatan): Pohon tumbang menutup akses di Jalan Veteran, Kelurahan Tanjung. Meski berbagai titik terdampak, BPBD memastikan tidak ada rumah yang rusak atau terancam, dan nihil korban jiwa.
BPBD Banyumas bersama Pusdalops Penanggulangan Bencana berkoordinasi dengan pemadam kebakaran, Dinas Pekerjaan Umum, Perhutani, Dinas Perhubungan, dan PLN untuk penanganan darurat. Berbagai peralatan seperti kendaraan operasional dan chainsaw digunakan untuk membersihkan material longsor dan pohon tumbang.
“Pohon tumbang sudah berhasil kami singkirkan sehingga akses jalan kembali terbuka. Namun, material tanah di beberapa lokasi masih menumpuk dan akan segera dibersihkan,” ujar Budi.
Dia juga mengingatkan masih ada potensi longsor susulan akibat curah hujan tinggi dan kondisi tanah yang labil. Masyarakat terutama di wilayah perbukitan dan bantaran sungai diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan.
Meski kerusakan tidak signifikan, BPBD menegaskan pentingnya mitigasi bersama. “Kami harap masyarakat tetap waspada, tidak panik, dan segera melapor jika menemukan tanda-tanda longsor atau banjir di lingkungan sekitar,” tambahnya. (H-2)
“Sampai hari ini belum ada permintaan, meskipun prakiraan musim kemarau sebenarnya sudah dimulai pada dasarian ketiga bulan Mei. Tapi kita siapkan,”
"Angin kencang terjadi akibat adanya bibit siklon tropis yang memicu peningkatan kecepatan angin di Banyumas. Kami meminta warga untuk waspada,"
Total korban meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi di tiga provinsi mencapai 1.198 orang, sementara korban hilang tercatat sebanyak 144 orang.
Kondisi ini dipicu oleh penguatan Monsun Asia dan adanya sistem tekanan rendah di selatan Nusa Tenggara Barat yang membentuk pola konvergensi atau pertemuan angin.
Bahkan banjir merendam sejumlah daerah tersebut, juga mengakibatkan kerusakan sejumlah infrastruktur seperti tanggul jebol, jalan l, jembatan hingga sejumlah perkantoran dan sekolah rusak
Kementerian Pertanian mulai bergerak memulihkan ribuan hektar lahan pertanian yang rusak akibat bencana hidrometeorologi di Sumatra Barat (Sumbar).
Di Indonesia, bencana jenis ini menyumbang lebih dari 90% dari total kejadian bencana setiap tahunnya.
Selain itu, perhatikan tanda alam seperti awan Cumulonimbus yang berbentuk seperti bunga kol berwarna gelap, yang seringkali menjadi penanda akan terjadinya hujan lebat disertai petir.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved