Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
MENJELANG Idul Fitri 1446 H atau Lebaran 2025 di Kabupaten Bengkalis, Riau, kembali semarak dengan dimulainya tradisi malam 27 likur. Pada tiga malam sebelum berakhirnya Ramadan masyarakat setempat menyalakan Lampu Colok yang sudah menjadi tradisi di daerah tersebut.
Tradisi Festival Lampu Colok 2025 yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Bengkalis, melalui Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga dibuka langsung oleh Wakil Bupati Bagus Santoso. Acara dipusatkan di Jalan Bantan, Desa Senggoro, Kecamatan Bengkalis.
Festival Lampu Colok ini secara resmi dibuka oleh Wakil Bupati Bengkalis Bagus Santoso ditandai dengan pemasangan lampu colok secara simbolis di dampingi tamu kehormatan lainnya.

Untuk diketahui Festival Lampu Colok kini telah menjadi Warisan Budaya Tak Benda ini. Kembali digelarnya event tahunan Ramadan ini mendapat apresiasi dari wakil Bupati.
"Kami menyambut baik sekaligus memberikan apresiasi kepada semua pihak yang senantiasa berkomitmen tinggi untuk terus melestarikan kearifan lokal lampu colok yang kita laksanakan setiap tahun sempena menyambut datangnya Idul Fitri," kata Bagus Santoso, Kamis (27/3).
Menurutnya, keberadaan budaya lampu colok ini memang harus terus dilestarikan. Apalagi saat ini lampu colok sudah mendapat pengakuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
Selain itu, lanjut Bagus, Festival Lampu Colok yang diselenggarakan ini juga dapat dijadikan sebagai salah satu bentuk syi'ar karena ada banyak hikmah maupun tunjuk ajar kehidupan yang dapat dipetik dari penyelenggaraan festival budaya ini.
"Salah satu di antaranya adalah menumbuhkan serta mempererat semangat persaudaraan, kekompakan, kepedulian, serta gotong royong di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda kita," ujarnya.
Semangat masyarakat dan pemuda untuk kembali mengangkat budaya lampu colok ini kepermukaan tentunya perlu didukung dan diapresiasi bersama-sama. Sehingga khazanah ini tidak hilang ditelan zaman.
“Dengan kebersamaan semuanya bisa kita lakukan, termasuk dengan kebersamaan kita untuk membangun Kabupaten Bengkalis tercinta ini menjadi daerah yang bermarwah, maju dan sejahtera serta unggul di Indonesia,” pungkasnya. (H-3)
Tradisi tabayyun di kalangan ulama dan warga NU telah lama familiar dan mengakar.
Sejarah makan siang di Indonesia sendiri adalah cerminan perjalanan sosial, ekonomi, dan budaya yang selalu berubah.
Dalam tradisi masyarakat tertentu di Indonesia, telur tembean (telur ayam yang sudah berisi bakal embrio dan dianggap “hampir menetas”) dipercaya sebagai makanan berkhasiat
Upacara adat Dola Maludu yang merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat kini resmi tercatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) oleh DJKI.
Festival Jelajah Maumere III mengusung tema Wini Ronan atau lumbung benih sebagai refleksi atas tradisi dan kebudayaan di Kabupaten Sikka atau di Flores.
Pengunjung Parara festival dapat menikmati berbagai kegiatan menarik, mulai dari talkshow dan diskusi soal pangan lokal, tradisi nusantara, serta isu lingkungan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved