Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
GANGGUAN hama wereng cokelat terhadap tanaman padi musim rendengan (musim tanam pertama) di kawasan Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, telah menjadi momok menakutkan bagi petani setempat. Apalagi dari 22 kecamatan yang memiliki lahan sawah produktif, sebanyak 19 diantaranya telah menyebar serangan hama berbahaya itu.
Anehnya, peredaran benih galur (benih ilegal tidak ada izin sebar) di kawasan Kabupaten Pidie dan sekitarnya terjadi dengan sangat bebas. Lalu cukup akrab dengan petani dan mudah didapati di pasaran, toko-toko penjualan benih, pada agen penyalur atau dimana saja.
Padahal sesuai penelusuran Media Indonesia, sejak dua pekan lalu hingga Minggu (25/2), meluasnya serangan hama wereng cokelat dan tinggi populasi hama penghisap cairan batang padi itu diduga terpicu karena banyak pemakaian benih galur oleh petani setempat.
Baca juga : Hama Ulat Penggerek Batang Serang Lahan Sawah di Aceh
Benih galur itu selain lemah imun kekebalan, juga sangat rawan terserang dan mudah berkembang hama penyakit. Sehingga menjadi sumber penyebaran hama ke lahan sawah varietas benih lain (benih sudah uji laboratorium yang dianjurkan tanam pemerintah).
Dari penelusuran Media Indonesia, berbagai varietas benih galur dijual bebas di kawasan Kabupaten Pidie dan sekitarnya. Antara lain yaitu Cibatu (Ciherang batu), Bojeng (persilangan Cibatu-Boma), Kabir (Karawang Bireuen), dan Srikandi.
Adapun jenis paling banyak digunakan petani di Pidie dan sekitarnya adalah varietas Cibatu. Alasannya Cibatu bisa menghasilkan produksi panen lebih besar dari jenis galur lainnya yakni mencapai 12 ton/Ha (hektare).
Baca juga : Petani Padi di Pidie Diharapkan Selesai Tanam di Bulan Januari
Karena cukup diminati petani, benih ilegal varietas Cibatu pun berbagai turunan. Yaitu Cibatu F 1, Cibatu F 2, Cibatu F3, Cibatu F 4 dan Cibatu F5. Karena banyaknya jenis benih galur sehingga hampir sama jumlahnya dengan benih penangkar resmi dan sangat sulit membedakan, kecuali yang ilegal tidak tertera label dari pemerintah terkait.
Karena demikian, siapa saja yang hendak memperoleh benih galur berbagai corak sangat mudah mendapatkan dipasaran. Itu tersedia di toko penjualan benih, pada agen penyalur dan banyak juga dijual oleh orang-orang tertentu yang memiliki jaringan benih.
Benih galur yang sebenarnya ilegal atau liar itu ternyata tidak tersembunyi penjualannya sedikitpun. Bahkan para penjual atau agen penyalur dengan gamblang menawarkan kepada petani atau pemilik lahan sawah.
Baca juga : Mentan Amran Dukung Jatim Menjadi Penghasil Pangan Nasional Terbesar Di Indonesia
Pakar Ilmu Tanah yang Dosen Pertanian Universitas Syi'ah Kuala (USK), kepada Media Indonesia, Senin (26/2) mengatakan, maraknya peredaran benih galur di pasaran Aceh itu sangat merugikan petani. Pasalnya benih tanpa sertifikasi dan tidak memiliki izin sebar itu tidak sangat diragukan kekebalan dari serangan hama penyakit.
Apalagi benih liar tersebut sebelum dipasarkan tidak dilakukan uji laboratorium untuk mengetahui apakah layak digunakan oleh petani atau malah mengundang masalah serius. Dalam hal ini pemerintah harus mencari dan mendeteksi siapa pelakunya.
Helmi yang merupakan lulusan Doktoral Universitas Nagoya Jepang itu mewanti-wanti, akibat peredaran benih galur itu sangat merugikan petani. Misalnya pemicu cepatnya populasi hama wereng cokelat di Kabupaten Pidie akibat petani ramai menanam benih galur.
Baca juga : Benih Palsu Padi Dominasi Pasar Nasional. Waduh!
Lalu juga sangat merugikan penangkaran benih resmi yang memiliki izin sebar dari pemerintah. Selain mereka membayar pajak kepada negara juga merugikan usaha di sektor pertanian.
"Ini sama dengan menipu pemerintah dan membajak bisnis penangkar profesional. Kalau tidak ditertibkan sangat berbahaya serta merugikan. Apalagi di tengah gonjang ganjing persoalan beras dan tingginya harga beras" tutur lelaki kelahiran Pidie itu.
(Z-9)
Satgas PRR Pascabencana Sumatera menargetkan seluruh pengungsi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat keluar dari tenda darurat sebelum Idul Fitri 2026
Ditambah lagi cuaca ekstrem seperti angin kencang dan hujan deras masih sering menghantui kawasan provinsi di ujung barat Indonesia itu.
Perubahan jalur jelajah akibat bencana hidrometeorologis seperti banjir dan tanah longsor juga diduga kuat mengubah pola pergerakan serta habitat alami gajah.
Diduga akibat tersengat kawat yang dialiri arus listrik bertegangan tinggi. Saat ditemukan, belalai gajah masih dalam kondisi terlilit kawat listrik.
Tahun 2024 Study Abroad Aide menempatkan USK tersebut di tangga 22 persen kampus terbaik dunia kategori universitas tujuan mahasiswa internasional.
BRIN menjelaskan lubang besar di Aceh Tengah bukan fenomena sinkhole, melainkan longsoran geologi akibat batuan tufa rapuh, hujan lebat, dan faktor gempa bumi.
Seorang petani di Bener Meriah, Aceh, meninggal dunia setelah diserang kawanan gajah liar saat mencoba mengusir satwa tersebut dari kebunnya.
Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong Gerakan Pramuka menjadi kekuatan strategis dalam pembangunan pertanian nasional, khususnya dalam mencetak generasi muda petani.
Petani di berbagai wilayah Provinsi Aceh tengah dilanda keresahan besar pada musim tanam padi rendengan, musim tanam utama yang sangat menentukan produksi pangan tahunan
CUACA ekstrem akhir-akhir ini memicu curah hujan tinggi yang meningkatkan potensi gagal panen. Pemerintah setempat mulai ancang-ancang mengantisipasi potensi tersebut.
SERANGAN organisme pengganggu tanaman (OPT) atau hama tikus yang semakin masif di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, memaksa para petani mengambil langkah ekstrem.
Mak Comblang Project, sebuah inisiatif yang bertujuan mempertemukan langsung petani dengan dapur MBG.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved