Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
POTENSI hujan intensitas ringan hingga sedang kembali terjadi di beberapa daerah di Jawa Tengah. Akan tetapi kekeringan masih tetap berlanjut bahkan jumlah desa dan wilayah terdampak kekeringan di pantura timur semaki meningkat.
Pemantauan Media Indonesia Kamis (12/10) kekeringan di beberapa daerah di Jawa Tengah meningkat lagi, meskipun berdasarkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) potensi hujan dengan intensitas ringan
hingga sedang di provinsi ini masih akan terjadi yakni Boyolali, Pekalongan Grobogan Salatiga Sragen Temanggung dan Kabupaten Semarang.
Kekeringan melanda Kabupaten Pati meningkat dari sebelumnya 70 desa kini menjadi 94 desa yang membutuhkan bantuan air bersih.
Baca juga: 50 Hektar Sawah di Rorotan Kekeringan, Petani Gigit Jari
"Meningkat lagi dari awal September baru 44 desa, memasuki awal Oktober 70 desa dan kini sudah 94 desa dilanda kekeringan," kata Pejabat Bupati Pati Henggar Budi Anggoro.
Mengatasi kondisi ini, lanjut Henggar Budi Anggoro, bantuan air bersih terus digelontorkan bahkan ditingkatkan berasal dari pemerintah daerah, provinsi dan CSR, bahkan untuk memenuhi kebutuhan itu.
Baca juga: Kekeringan Berdampak pada Puluhan Ribu Jiwa di Kabupaten Cirebon
"Kami sedang mempertimbangkan penambahan mobil tangki guna mempercepat pendistribusian bantuan air bersih," tambahnya.
Bantuan air bersih juga datang dari organisasi pendukung Capres Anies Baswedan, menurut Ketua Sekretariat Kolaborasi Indonesia (SKI) Pati Moh Aziz Khalimi selama tiga hari setidaknya 18 tangki air bersih telah
disalurkan ke beberapa desa di daerah ini, hal ini sebagai upaya membantu warga terlanda kekeringan.
Kepala Badan Penanggungan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Demak Agus Nugroho Luhur Pambudi secara terpisah mengatakan jumlah desa terlanda kekeringan terus bertambah dari sebelumnya 74 desa menjadi 80 desa tersebar di 14 kecamatan, setidaknya empat juta liter bantuan air bersih telah disalurkan untuk 114.714 jiwa.
Kondisi serupa juga terjadi di Jepara, hingga sebanyak 43 desa tersebar di 14 kecamatan terdampak kekeringan dan 17 desa diantaranya mengalami kesulitan air bersih.
"Ada 5.364 keluarga (10.128 jiwa) di daerah ini alami kesulitan air bersih," ujar Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kabupaten Jepara Arwin Noor.
Bahkan akibat kemarau masih panjang di ini, ungkap Arwin Noor, Penjabat (Pj) Bupati Jepara Edy Supriyanta telah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) tentang penetapan darurat kekeringan yang sebelumnya berstatus siaga
kekeringan.
Kepala Pelaksana BPBD Grobogan Endang Sulistyoningsih juga mengungkapkan jumlah desa terlanda kekeringan kembali meningkat di daerah ini, jika awal Oktober masih dibawah 100 desa kini kekeringan dan kesulitan air bersih
telah terjadi di 113 desa tersebar di 19 kecamatan.
"Kami baru dapat melayani 110 desa di 18 kecamatan dengan jumlah bantuan tersalurkan 4.343.000 liter," imbuhnya. (Z-10)
Ratusan kendaraan harus antre panjang akibat melintasi banjir yang masih merendam Jalan Kaligawe Raya di ruas Jalur Pantura Semarang-Demak.
Sejak pagi petugas gabungan terdiri dari kepolisian dan dinas perhubungan telah melakuhan penjagaan di depan exit tol di Kabupaten Kendal dan Pemalang.
Sebagian besar kendaraan roda dua memilih melintasi tanggul sungai untuk menghindari banjir rob dan mogok, sedangkan kendaraan berukuran kecil melintas di jalur alternatif.
BMKG meminta warga di daerah pesisir Pantura Jawa Tengah seperti Demak, Semarang, Kendal, Pekalongan dan Pemalang untuk kembali siaga banjir rob.
Di Kabupaten Demak banjir rob tidak hanya merendam sejumlah pemukiman warga di puluhan desa di empat kecamatan, tetapi juga merendam jalur Pantura Semarang-Demak di Kecamatan Sayung.
Kepadatan kendaraan di antaranya terlihat mulai perempatan Kanggraksan hingga perempatan Jalan Pemuda Kota Cirebon sepanjang lebih kurang 3 kilometer
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, mengingatkan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian, untuk berhati-hati dalam menyusun tata kelola pangan 2026.
Di Indonesia, bencana jenis ini menyumbang lebih dari 90% dari total kejadian bencana setiap tahunnya.
Studi terbaru mengungkap fenomena sinkronisasi krisis air global akibat siklus El Niño-La Niña. Bagaimana dampaknya terhadap ketersediaan pangan dunia?
BMKG mengungkap secara spesifik, La Nina lemah masih akan bertahan di Indonesia pada periode Januari-Februari-Maret.
Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan fenomena La Nina diprediksi akan terus terjadi hingga Maret 2026.
Pantau Gambut mengatakan kondisi 2025 masih menunjukkan pola rawan karhutla, terutama di tengah puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved