Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Kabupaten Garut, Jawa Barat, melalui Dinas Pertanian akan membangun 10 titik sumur bor untuk mengantisipasi musim kemarau berdampak kekeringan lahan persawahan dan air bersih. Pembangunan tersebut bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Beni Yoga, mengatakan kekeringan yang terjadi di tahun ini akan berdampak pada air bersih dan lahan pertanian sehingga pemerintah berupaya membangun sumur bor menggunakan APBN di 10 lokasi. Sekarang baru memasuki proses lelang untuk pengeboran sumur agar lahan dan warga tidak kesulitan air bersih.
"Pembangunan sumur bor yang dilakukan berada di bagian selatan dan utara, mengingat lokasi tersebut paling parah jika terjadi musim kemarau yang berdampak pada kurangnya air bersih dan lahan pertanian kekeringan. Akan tetapi, untuk sentra produksi sayuran, terutama cabai merah, bawang, sebagai penyumbang inflasi terbesar akan menjadi priotitas," ujar Beni, Sabtu (12/8/2023).
Baca juga: Purbalingga Siapkan Asuransi untuk 1.500 Hektare Sawah
Pembangunan sumur bor yang menjadi prioritas berada di Cikajang dan Cisurupan karena sentra produksi berada di sana. Setiap masa panen, sayuran dikirim ke wilayah Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Pangandaran, dan Bandung. Satu titik sumur bor berkapasitas cukup besar dan diharapkan bisa mengairi 50 hingga 75 hektare lahan sawah serta masyarakat dapat mengambilnya.
"Di Kabupaten Garut secara keseluruhan ada 3.000 hektare lahan masih mengalami intensitas kekeringan ringan tidak gagal panen. Akan tetapi, 70% produksi pertanian diklaimnya masih bisa diselamatkan," ujarnya.
Baca juga: Pesan Cinta Lingkungan dalam Parade Budaya SMAN 1 Aesesa
Selain membangun sumur bor, pemerintah daerah mengajak petani mengikuti program asuransi usaha tani padi (AUTP) dan bentuk jaminan perlindungan untuk minimalisasi kerugian yang disebabkan kekeringan lahan pertanian. Sudah terdaftar 2.000 hektare luas lahan pertanian dalam program tersebut dan nanti terkait dengan komoditas padi dan jagung.
"Untuk tahun depan menargetkan luas lahan yang akan mendapatkan AUTP pada musim kemarau bisa bertambah dari yang sekarang dan paling tidak tahun depan bisa mencapai 5 ribu hektare. Program asuransi tani selama ini memiliki kewajiban iuran sebesar Rp180 ribu per hektare per musim tanam dan klaim keuntungan jika ada pertanian yang rusak atau gagal panen bisa diklaim Rp6 juta per hektare," pungkasnya. (Z-2)
MASYARAKAT wilayah Cirebon, yang meliputi Kota dan Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Indramayu dilanda suhu panas beberapa hari terakhir.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan cuaca untuk Rabu, 8 Oktober 2025. Pekan pertama Oktober, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki masa peralihan.
KEMARAU panjang semakin berlanjut menyelimuti kawasan Provinsi Aceh.
Masyarakat NTT diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi angin kencang yang bersifat kering. Angin kencang ini berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan.
"Jadi saat wilayah yang mudah terbakar meluas, kami mohon bantuan, dukungan yang berada di Provinsi Riau benar-benar menjaga jangan sampai lahan itu terbakar,"
MUSIM kemarau menyebabkan krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Krisis air bersih terjadi di Desa Lebaksiu Kidul, Kecamatan Lebaksiu, yang terdampak
Studi terbaru mengungkap rangkaian kekeringan panjang berperan besar dalam kemunduran Peradaban Lembah Indus, memicu penyusutan kota dan pergeseran permukiman secara bertahap.
Kebutuhan untuk penanganan kekeringan dari tahun ke tahun terus bertambah sehingga perlu dicari upaya lain seperti mencari sumber air baru.
Gelombang panas, terutama pada siang hari, mempercepat penguapan air dari daun dan tanah, menurunkan ambang kekeringan.
BEBERAPA desa di kawasan lereng Gunung Merapi, di Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, kini mengalami kekeringan
Pemantauan Media Indonesia, Kamis (31/7) hujan masih turun di sejumlah daerah di Jawa Tengah terutama di kawasan pegunungan dan dataran tinggi, namun dengan intensitas yang menurun.
Mundurnya musim tanam disebabkan adanya revitalisasi atau perbaikan saluran irigasi baik air yang mengalir melalui Saluran Induk Cipelang dan Saluran Induk Sindupraja.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved