Selasa 15 November 2022, 10:00 WIB

Musim Hujan Bikin Harga Kopi Arabika Gayo di Aceh Turun

Amiruddin A.R | Nusantara
Musim Hujan Bikin Harga Kopi Arabika Gayo di Aceh Turun

MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE
Warga sedang menjemur kopi di Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, beberapa waktu lalu.

 

AKIBAT turun hujan terus menerus sejak sekitar 1 terakhir, harga biji kopi Arabika Gayo, di kawasan Provinsi Aceh turun. Pasalnya gabah kopi yang baru dipanen itu tidak bisa dijemur karena tidak terik matahari.

Hal ini dialami para petani kopi di dataran tinggi Gayor yang meliputi Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah dan Kabupaten Gayo Lues. Mereka serba salah, yakni kalau dipanen harganya turun. Lalu dibiarkan tidak dipetik biji kopi yang kelewatan matang itu akan gugur sendiri.

Penelusuran Media Indonesia di Redelong, Kabupaten Bener Meriah misalnya, harga biji kopi Gayo gelondongan dari sebelumnya Rp15.000/bambu, sekarang turun menjadi Rp12.000/bambu. Bahkan dengan berbagai alasan akibat cuaca tidak bersahabat para pedagang pengumpul bisa saja membanting harga hingga Rp11.000/bambu.

"Sayangnya kalau sudah dipetik, tidak bisa disimpan lama begitu saja. Tentu harus dijemur untuk menjaga mutu dan aroma khas. Tapi seperti sekarang bagaimana menjemur sedangkan tiap hari hujan terus" tutur Maimun tokoh masyarakat Takengon, Aceh Tengah, kemarin (14/11).

Dikatakan Maimun, karena tidak bisa tahan lama, petani harus berupaya biji kopi itu kering panen walau tidak sempurna. Kondisi seperti ini sangat berisiko pada harga.

Menurut Maimun kekhawatiran petani kopi Aceh sangat tinggi. Apalagi sekarang di wilayah provinsi paling ujung barat Indonesia itu masih awal musim hujan. Dua hingga tiga belanja kedepan diperkirakan kelembaban tinggi masih tinggi.

"Risiko pane musim penghujan memang sangat tinggi dan menyusahkan. Kalau tidak rajin melakukan berbagai usaha, tentu sangat berpotensi tidak mencapai hasil memuaskan" tutur Maimun.

Adapun pedagang pengum di Kabupaten Bireuen, Husaini mengaku kwalitas biji kopi baru panen sekarang memang sangat tinggi kandungan air. Hal itu disebabkan sering diguyur hujan dan kelembaban tinggi.

Karena itu petani harus melakukan beberapa teknik memanen. Antara lain yaitu harus memanen saat cuaca agak cerah. Dengan cara demikian, biji kopi tidak basah kuyup dan bisa tahan sebelum dijemur.

Ketika cuaca cerah langsung dapat dijemur walau tidak matahari tidak terlalu panas. Kemudian kondisi tempat penyimpanan tidak lembam. "Mungkin ada teknik lain yang lebih sempurna, itu biasanya terjadi sendiri dari pengalaman petani," tandasnya. (OL-13)

Baca Juga: Melihat Keunikan Kopi di Pegunungan Meratus

 

 

Baca Juga

Dok. PRibadi

Komisi II DPRD Maluku Koordinasikan Persediaan Bahan Pangan 

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 28 November 2022, 22:00 WIB
Pemda melalui dinas terkait harus mengambil berbagai langkah strategis dalam mencegah terjadinya kelangkaan mulai dari Bahan Bakar Minyak,...
DOK MI

Bangka Gencarkan Vaksinasi Covid-19 Dosis Booster Kedua

👤Rendy Ferdiansyah 🕔Senin 28 November 2022, 21:49 WIB
UNTUK mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19 saat libur Natal dan Tahun Baru, Pemkab Bangka, Babel menggencarkan vaksinasi booster dosis...
MI/HO

Wamen ATR/BPN Serahkan Sertifikat Tanah SD Muhammadiyah Banjarmasin

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 28 November 2022, 21:32 WIB
Berdiri pada 1964 dan sempat mengalami kebakaran pada 2015, SD Muhammadiyah 9 Banjarmasin akhirnya mendapatkan sertifikat...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya