Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
SATUAN Brimob Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali mendistribusikan air bersih dan siap minum secara gratis kepada warga yang dilanda kekeringan di Kabupaten Kupang, Senin (26/9). Distribusi air bersih itu merupakan kedua kalinya dalam dua pekan terakhir.
Untuk distribusi air pada Senin siang, difokuskan di Dusun I, Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah yang berpenduduk 1.000 keluarga. Di dusun yang bersebelahan dengan Kampus Universitas Katolik Widya Mandira Kupang ini, tak kurang dari 1.000 warga termasuk mahasiswa menderita krisis air sebagai imbas dari kekeringan.
Untuk memenuhi kebutuhan air, warga dusun setempat membeli air bersih seharga Rp60 ribu per tangki ukuran 5.000 liter untuk kebutuhan mandi dan cuci. Sedangkan, untuk kebutuhan minum, mereka membeli air galon dengan harga bervariasi mulai Rp5.000 sampai Rp10.000 per galon untuk air reverse osmosis (RO).
Brimob Polda NTT mendistribusikan air mengunakan mobil water treatment yakni unit pengolahan air bersih yang biasa dioperasikan untuk menyiapkan air siap minum kualitas RO di daerah bencana atau daerah yang dilanda kekeringan. Ada juga mobil watergen yang berfungsi mengisap air dari udara kemudian diolah menjadi air dingin maupun air panas yang disiap diminum.
"Prosesnya dimulai dari menyedot air dari mobil tangki ke wadah yang disiapkan kemudian disedot ke water treatment untuk diolah. Air yang kotor dibuang sedangkan air yang bersih dimasukan ke dalam galon siap diminum," kata Wakil Komandan Batalyon A Pelopor, Satuan Brimob Polda NTT, AKP Rudi Silvester kepada wartawan.
Menurut Rudi, pihaknya masih terus mendistribusikan air siap minum kepada warga di tengah kekeringan saat ini yang berimbas kepada krisis air. "Siapa yang minta air, kami datang untuk melayani," ujarnya.
Kepala Dusun I Desa Penfui Timur, Eduard Taetio yang sudah bermukim di wilayah itu sejak 2003, mengatakan krisis air yang dialami warga sudah lebih dari 20 tahun.
"Wilayah kami berada di ketinggian sehingga tidak bisa dilintasi pipa air (milik PDAM), padahal sumber air untuk kebutuhan warga di Kota Kupang berasal dari Kabupaten Kupang," kata Eduard.
Kondisi tersebut yang membuat kesulitan air yang dialami warga belum berhasil diatasi. "Kami perhatian penuh dari pemerintah untuk mengatasi kesulitan air di sini," harapnya.
Warga setempat, Titin Suri yang juga pemilik kosan mahasiswa di wilayah itu mengatakan, distribusi air siap minum sangat membantu mahasiswa. Pasalnya, harga air galon dinilai mahal. "Saya bawa lima galon untuk diisi air di sini," kata Titin.
Setiap bulan sepuluh mahasiswa tinggal di kosan miliknya membeli empat tangki air bersih untuk kebutuhan mandi dan cuci, belum termasuk air galon. "Bantuan air ini sangat membantu kami, apalagi diberikan secara cuma-cua," tutupnya. (OL-15)
Berdasarkan penelusuran Media Indonesia, Sabtu (17/1) di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh misalnya, ratusan ribu penyintas banjir masih krisis kebutuhan dasar.
Ketersediaan air bersih tidak hanya diperlukan untuk konsumsi, tetapi juga untuk menjaga sanitasi lingkungan, mencegah penyebaran penyakit, serta menunjang aktivitas harian.
Transformasi digital ini merupakan komitmen nyata pemerintah dalam menjamin kedaulatan air di Ibu Kota
Perluasan pelanggan ini didukung oleh ketersediaan sumber air baku yang semakin stabil, baik dari Sungai Ciliwung maupun Kali Angke.
Program ini ditujukan untuk membantu masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan akses terhadap air bersih di Sumut, Sumbar, Riau, Lampung, Jateng, Jatim, Kalsel dan Sulsel.
Pasokan air bersih Aceh Tamiang kembali normal setelah SPAM IKK Rantau beroperasi pascabanjir. Menteri PU memastikan kualitas air aman dan layak konsumsi.
Kecamatan Pauh dan Kuranji mengalami krisis air bersih akibat sumur mengering serta kerusakan bendungan dan irigasi pascabencana November 2025.
Berdasarkan penelusuran Media Indonesia, Sabtu (17/1) di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh misalnya, ratusan ribu penyintas banjir masih krisis kebutuhan dasar.
Program ini ditujukan untuk membantu masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan akses terhadap air bersih di Sumut, Sumbar, Riau, Lampung, Jateng, Jatim, Kalsel dan Sulsel.
Ratusan pengungsi banjir di Aceh Tamiang mendesak bantuan air bersih dan MCK. PDAM rusak fatal, kondisi tenda pengungsian memprihatinkan.
Menurut anggota tim pengabdian Dr Imam Muslem, kegiatan tersebut dilakukan secara adaptif mengikuti dinamika pasca bencana.
BANJIR bandang dan tanah longsor yang puncaknya terjadi pada 26-27 November lalu sedikitnya telah meluluhlantakkan 52 kabupaten/kota di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved