Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Air Galon Isi Ulang Ternyata Lebih Berisiko Terkontaminasi Bakteri Dibanding Air Sumur

Thalatie K Yani
25/1/2026 12:00
Air Galon Isi Ulang Ternyata Lebih Berisiko Terkontaminasi Bakteri Dibanding Air Sumur
Ilustrasi(freepik)

DI Dataran Tinggi Barat Guatemala, sebuah paradoks kesehatan ditemukan para peneliti. Air minum kemasan dalam galon isi ulang yang selama ini dianggap masyarakat sebagai pilihan paling aman, ternyata memiliki risiko kontaminasi bakteri paling tinggi. Sebaliknya, air dari sumur bor kota yang terlindungi justru terbukti paling bersih.

Studi yang dipimpin peneliti dari Washington State University (WSU) ini menyoroti adanya kesenjangan berbahaya antara persepsi masyarakat dengan realitas keamanan air minum mereka. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Water and Health tersebut menguji 11 sumber air berbeda. Hasilnya, air kemasan justru paling mungkin mengandung bakteri coliform yang menjadi sinyal adanya kontaminasi tinja.

"Kami menemukan adanya ketidaksesuaian yang jelas antara apa yang diyakini masyarakat tentang keamanan air dengan apa yang sebenarnya terjadi di rumah mereka, dan hal ini dapat berdampak besar pada kesehatan masyarakat," ujar Dr. Brooke Ramay, penulis utama studi dari WSU College of Veterinary Medicine.

Ancaman Bakteri Kebal Antibiotik

Tim peneliti mensurvei 60 rumah tangga dan menguji sampel air untuk mendeteksi bakteri Escherichia coli (E. coli) serta organisme tahan antibiotik seperti ESBL dan CRE. Bakteri-bakteri ini sangat mengkhawatirkan karena dapat menyebabkan infeksi yang sulit diobati jika masuk ke saluran kemih atau aliran darah.

Hasil laboratorium menunjukkan data yang mengkhawatirkan bagi konsumen air kemasan:

  • Hanya 17% sampel air kemasan yang memenuhi standar keamanan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
  • Air kemasan enam kali lebih mungkin terinfeksi bakteri coliform dibandingkan sumber air lainnya.

Menurut Dr. Ramay, masalah utamanya sering kali bukan pada proses pembotolan awal. "Masalahnya biasanya bukan pada cara air dibotolkan, tetapi pada apa yang terjadi setelahnya. Galon-galon ini mungkin disimpan dengan cara yang tidak benar, dan dispenser tidak dibersihkan secara rutin, sehingga menciptakan kondisi ideal bagi pertumbuhan bakteri," jelasnya.

Sumur Kota Terbukti Lebih Aman

Menariknya, air yang diambil langsung dari sumur kota yang terlindungi dan diklorinasi menunjukkan tingkat kontaminasi terendah. Bahkan nol untuk E. coli maupun bakteri kebal antibiotik lainnya. Namun, masyarakat justru menempatkan sumber ini di peringkat bawah dalam hal kepercayaan keamanan.

Bahaya justru muncul ketika air sumur tersebut dialirkan melalui pipa ke rumah-rumah. Tercatat lebih dari 65% sampel air pipa di rumah tangga mengandung coliform, dan 28% positif E. coli.

Persepsi yang Menipu

Keyakinan masyarakat terhadap sumber air tertentu sangat memengaruhi perilaku higienitas mereka. Mereka yang sangat memercayai sumber airnya cenderung melewatkan proses perebusan atau pembersihan wadah.

"Hasil kami menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap keamanan air justru berkontribusi pada kontaminasi, karena orang tidak melakukan langkah-langkah higienis yang sama pada sumber yang mereka percayai sebagaimana yang mereka lakukan pada sumber yang kurang dipercaya," pungkas Ramay. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya