Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
BERBAGAI potensi dampak dari kemarau di Kota Sukabumi, Jawa Barat, mulai diantisipasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Utamanya potensi krisis air bersih yang biasanya terjadi di wilayah tersebut saat kemarau.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Imran Whardhani, menuturkan sampai saat ini secara teknis di Kota Sukabumi belum ada penetapan status siaga darurat kekeringan. Penetapannya akan dilakukan sesuai arahan dari BPBD Provinsi Jawa Barat.
"Untuk prediksi (bencana), itu biasanya ditetapkan provinsi. Jadi sampai saat ini kami masih menunggu," kata Imran, Rabu (13/7).
Namun demikian, sebut Imran, upaya antisipasi bakal terjadinya potensi kemarau harus dilakukan sejak sekarang. Utamanya penanganan ketika terjadi krisis air yang biasanya berpotensi saat kemarau.
"Untuk antisipasi, kita nanti akan berkoordinasi dengan PDAM, PMI, ataupun dengan Dinas PUTR untuk menyiagakan mobil tangki yang digunakan mendistribusikan bantuan air bersih bagi warga yang mengalami dampak kemarau," sebut Imran.
Potensi lain dampak kemarau di Kota Sukabumi, lanjut Imran, yakni kebakaran lahan dan hutan (karhutla). Potensinya bisa dipicu hal kecil, di antaranya seperti pembakaran ilalang secara sembarangan oleh masyarakat.
"Saat kemarau, lahan akan mudah terbakar kalau kena percikan api. Itu juga harus diwaspadai," tuturnya.
Karena itu, Imran mengimbau masyarakat sejak sekarang bisa menghemat penggunaan air. Artinya, masyarakat harus lebih bijak menggunakan air untuk kebutuhan yang sifatnya penting.
"Kami juga mengimbau masyarakat tidak membakar lahan sembarangan. Harus lebih berhati-hati karena saat kemarau akan mudah terbakar," pungkasnya. (OL-15)
BMKG peringatkan fenomena Godzilla El Nino picu kemarau ekstrem di Jambi mulai Mei 2026. Waspada kekeringan dan karhutla di lahan gambut akibat curah hujan rendah.
PTPN IV PalmCo menetapkan status siaga dalam menghadapi potensi musim kemarau tahun ini, seiring prediksi kemungkinan munculnya fenomena El Nino.
BMKG memprediksi, sebagian besar wilayah Indonesia pada tahun ini akan mengalami musim kemarau lebih awal dan lebih panjang dari biasanya. Kondisi itu membuat potensi karhutla meningkat.
Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, dengan durasi yang disebut lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Sumsel Wandayantolis di Palembang, Senin, mengatakan sejumlah wilayah di Sumsel berpotensi mengalami kemarau lebih awal dibandingkan daerah lainnya.
MEMASUKI musim kemarau, suhu udara yang panas membuat banyak orang mengandalkan pendingin ruangan agar aktivitas di rumah tetap nyaman.
Potensi ketersediaan air di Indonesia mencapai 3,9 miliar meter kubik per tahun. Dengan 80% air nasional digunakan sektor pertanian/irigasi.
Menurut dia, salah satu langkah yang dilakukan Pemprov Jabar adalah mendorong pengembangan komoditas pertanian yang lebih hemat air.
BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Indonesia akan lebih kering dibanding 2025. Awal kemarau maju ke April 2026. Simak daftar wilayah terdampak di sini.
Derita korban banjir Sumatra yang terjadi pada 24-27 November 2025 hingga kini, tiga bulan kemudian, tampaknya belum juga berakhir.
Durasi perbaikan fisik sangat bergantung pada kondisi cuaca di lapangan.
Peneliti memperingatkan ancaman global amoeba bebas yang mampu bertahan dari suhu ekstrem dan disinfektan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved