Rabu 21 April 2021, 12:26 WIB

Harga Sawit Anjlok, Petani di Aceh Rugi

Amiruddin Abdullah Reubee | Nusantara
Harga Sawit Anjlok, Petani di Aceh Rugi

Mi/Amiruddin Abdullah Reubee
Wakil Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang membidangi ekonomi dan pertanian, Abdullah Puteh (kanan)

 

TURUNNYA harga hasil panen petani kelapa sawit yang diduga akibat permainan pengusaha besar atau pemilik PKS (Perusahan Kelapa Sawit). Apalagi penurunan harga sawit TBS (Tandan Buah Segar) itu dinilai sangat tidak wajar dan terkesan dalam tempo waktu sangat singkat.

Yakni dari dua pekan lalu atau sebelum Ramadan seharga Rp1.850 per kg, sekarang turun menjadi Rp1.300 per kg. Bahkan penurunan itu dilakukan sepihak oleh pembeli dan tidak peduli kondisi kekecewaan petani. Kondisi pasar yang tidak berpihak kepada petani sawit itu mendapat perhatian dari Wakil Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang membidangi ekonomi dan pertanian, Abdullah Puteh.

Mantan Gubernur Aceh tersebut kepada mediaindonesia.com, Selasa (20/4) mengatakan anjloknya harga sawit milik petani antara lain tidak ada kehadiran pemerintah pascapanen. Pengusaha besar atau PKS berani membeli hasil panen masyarakat dengan harga rendah. Lalu pembentuan harga dilakukan sepihak yang bebas dari kontrol pemerintah.

Petani yang terkena imbas tidak tahu harus berbuat apa ketika hasil produksi panen mereka turun harga sangat rendah dan sudah tidak sesuai lagi dengan biaya produksi. Petani terpaksa menahan rugi.

"Dimana-mana seluruh Indonesia demikian. Tidak ada kehadiran pemerintah untuk mengontrol harga. Beda dengan hasil gabah padi," tutur Abdullah Puteh.

Senator asal daerah pemilihan Provinsi Aceh itu menuturkan, seharusnya pemerintah daerah tidak tinggal diam dalam hal ini. Apalagi menyangkut kesejahteraan atau perekonomian petani.

Keluhan terkait anjloknya harga sawit juga disampaikan tokoh masyatakat petani sawit di Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara. Petani sawit tidak berdaya dan harus mengadu kemana saat harga biji bahan baku minyak goreng itu turun pada level terendah.

baca juga: Kelapa Sawit Aceh

Persoalan harga hasil panen adalah paling penting bagi petani. Apalagi biaya pupuk, saprodi dan ongkor kerja cukup besar dikeluarkan petani agar produksi melimpah.

"Petani hanya mengandalkan dan berharap dari hasil panen. Sejak tanaman mulai berbunga mereka sudah menaruh harapan untuk kebutuhan sanak keluarga. Ternyata saat panen tiba harga anjlok, bagaimana perasaan mereka tentu cukup kecewa dan hilang motovasi untuk beraktivitas kembali," tutur Teungku Zakaria, yang juga petani sawit di Desa Matang Peusangan, Kecamatan Matangkuli. (OL-3)

 

Baca Juga

MI/Tosiani

Harga Minyak Goreng di Palu Masih Mahal

👤M. Taufan SP Bustan 🕔Rabu 19 Januari 2022, 17:55 WIB
Harga minyak goreng kemasan saat ini di Palu bertahan di harga Rp40 ribu per kilo gram dari harga sebelumnya Rp30 ribu per kilo...
MI/Ardi Teristi

Relokasi PKL Malioboro Jalan Terus

👤Ardi Teristi 🕔Rabu 19 Januari 2022, 17:41 WIB
SEKDA DIY, Kadarmanta Baskara Aji menegaskan relokasi PKL Malioboro tetap berjalan sesuai rencana. Ia menegaskan, pihaknya tidak masalah...
DOK MI

Kota Cirebon Siaga Hadapi Lonjakan Kasus Covid-19

👤Nurul Hidayah 🕔Rabu 19 Januari 2022, 17:34 WIB
PEMERINTAH Kota (Pemkot) Cirebon, Jawa Barat memintah rumah sakit-rumah sakit bersiap menghadapi peningkatan kasus...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya