Rabu 14 April 2021, 11:51 WIB

Ganjar: Dolanan Tradisional Bantu Siswa Cegah Radikalisme

mediaindonesia.com | Nusantara
Ganjar: Dolanan Tradisional Bantu Siswa Cegah Radikalisme

MI/Koresponden
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo berdialog dengan para siswa saat mematau uji coba pembelajaran tatap muka di Semarang, Jateng.

 

GUBERNUR Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo menilai permainan atau dolanan tradisional bisa membantu siswa sekolah tak berpaham radikal. Mengingat dari kegiatan itu, siswa akan mampu mengambil nilai keterbukaan satu sama lain, kepemimpinan, kerja sama (teamwork), dan nilai penting lainnya.

"Paling bagus sebenarnya (mencegah paham radikal) dengan seni dan budaya. Pelajar bisa menari, main ketoprak, wayang, dolanan. Itu mengakrabkan, berhubungan, terbuka, ada teamwork, leadership. Gobak sodor, ada (nilai) leadership," kata Ganjar pada sambutannya dalam kegiatan Pemasyarakatan dan Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila, dalam rangka puncak peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK Provinsi Jawa Tengah ke 49 tahun 2021, secara daring dan luring, Rabu (14/4).

Pada kegiatan yang bertemakan, Penguatan Keluarga untuk Keluarga Berdaya Dalam Mencegah Radikalisme oleh Badan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah, Ganjar menekankan pentingnya siswa aktif pada kegiatan seni dan budaya.

Selain itu pula, Ganjar menekankan, pentingnya rasa kemanusiaan terhadap sesama. Misalnya, membantu siswa lainnya yang tengah membutuhkan. Seperti halnya, ikut membantu saat ada teman yang kesulitan, membantu tetangga yang kesusahan, atau bersikap bijak saat menggunakan media sosial.

Di media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, atau sejenisnya, biasanya bermunculan ujaran yang melenceng. Hendaknya, siswa bisa selektif dan bijak dalam menanggapi. Termasuk juga, bila di medsos terdapat konten yang menyalahkan kebaikan yang selama ini diajarkan orang tua, siswa hendaknya mengabaikan itu semua. "Kalau di medsos ada yang serem, kita beri contoh yang baik," sambungnya.

Paham radikal semacam itu, lanjutnya, biasanya bersliweran di media sosial. Dengan kecenderungan, biasanya dilakukan oleh kelompok tertentu atau sekelompok kecil yang merasa paling benar sendiri. Sedangkan pihak lain adalah salah. 

"Ciri radikal itu fanatik, menganggap diri benar, yang lain salah, intoleran, tidak mau menerima perbedaan dan keyakinan orang lain, revolusioner ingin ada perubahan secara drastis. Tidak jarang ada kekerasan, eklusif atau memisahkan diri," ujarnya.

Dengan latar belakang radikalisme atau terorisme adalah fanatisme dan fundamentalisme agama yang berlebihan, nasionalisme yang berlebihan, separatisme, dan melakukan aksi kelompok teroris secara profesional.

Dalam kesempatan itu, Ganjar sempat menanyakan beberapa hal kepada siswa se-Jawa Tengah yang hadir secara daring, kaitannya dengan penyikapan mereka bila menemukan perbedaan di sekitarnya.

Seperti halnya berbeda suku, beda agama, beda golongan, ternyata siswa seluruhnya menjawab sikap toleransilah yang dikedepankan. Bahkan, bila ada bendera yang harus dikibarkan, siswa menjawab paling utama bendera Merah Putih yang harus dikibarkan.

Ganjar menuturkan upaya menangkal radikalisme di antaranya dengan langkah preventif. Yaitu menanamkan jiwa nasionalisme, berpikiran terbuka dan toleran, waspada terhadap provokasi dan hasutan, berjejaring dalam komunitas positif dan perdamaian, dan menjalankan aktivitas keagamaan dengan toleran.

Upaya menangkal radikalisme juga secara kuratif, yakni memberikan pemahaman tentang bahaya dan dampak radikalisme, memberikan pemahaman tentang ajaran agama yang benar, serta menguatkan nilai-nilai nasionalisme, toleransi dan perdamaian. "Perdamaian, perdamaian, ada lagunya, lho," celetuk Ganjar dengan nada jenaka.

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah Siti Atikoh Ganjar Pranowo mengajak orang tua untuk lebih memerhatikan lingkungan anaknya. Bahkan, ikut juga mendampingi anak saat mengoperasikan gawai (gadget).

"Orang tua juga mendampingi saat anak memainkan gadget juga. Karena kita tidak tahu, anak kita browsing apa sejak pakai gadget. Supaya, anak-anak bisa memilih yang positif," kata Atikoh.

Menurutnya, orang tua wajib membentengi keluarga dengan mengenalkan ajaran dan sikap yang benar. Selain juga, menjadikan keluarga menjadi tempat yang nyaman. "Sehingga deteksi dini bisa lebih cepat dilakukan," tuturnya. (RO/OL-09)

Baca Juga

Dok. Pribadi

Peringati Hari Santri, Sahabat Ganjar Bantu Pesantren 

👤Cahya Mulyana 🕔Jumat 22 Oktober 2021, 23:17 WIB
"Kami mulai dari Tegal, sebagai pembuka rangkaian kegiatan grebek ponpes dengan tema santri kreatif santri muda inspiratif," kata...
Dok. Pribadi

Siswa SMA ini Ikut Bantu Buka Akses Air Bersih di NTT 

👤ediaindonesia.com 🕔Jumat 22 Oktober 2021, 23:08 WIB
Carolene pun berkolaborasi mengusung program Water For...
MI/DJOKO SARDJONO

Tangani Covid-19, Klaten Gandeng Ulama, Umara, dan FKUB

👤Djoko Sardjono 🕔Jumat 22 Oktober 2021, 22:10 WIB
Silaturahmi dengan sejumlah elemen digelar karena masih ada warga di Klaten yang menolak...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Amendemen Konstitusi antara Ambisi Elite dan Aspirasi Rakyat

Persepsi publik mengenai cara kerja presiden lebih mengharapkan pemenuhan janji-janji politik saat kampanye ketimbang bekerja berdasarkan Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN).

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya