Selasa 06 April 2021, 09:35 WIB

Suara Gemuruh Disangka Erupsi Gunung, Ternyata Banjir Bandang

Alexander P Taum | Nusantara
Suara Gemuruh Disangka Erupsi Gunung, Ternyata Banjir Bandang

MI/Alex P Taum
Suasana evakuasi jenazah warga Desa Waimatan, Kecamatan Ile Ape Timur, Lembata, NTT, Selasa (6/4/2021).

 

ERUPSI Gunung Ile Lewotolok pada 29 Desember 2020 menyebabkan warga di sekitar gunung mengungsi. Pemulangan terakhir pengungsi dampak erupsi Gunung Ile Lewotolok berasal dari Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur, Lembata pada 9 Februari 2021. Pascaerupsi, suara gemuruh kecil dan kadang keras masih terdengar. Saat terjadi banjir bandang, warga mendengar suara gemuruh disangka berasal dari Gunung Ile Lewotolok.

"Kami tidak pernah menduga, gemuruh yang terdengar Sabtu tengah malam itu adalah banjir bandang yang mengubur Sekretaris Desa bersama rumah dan seluruh dokumen penting Desa," ujar Kepala Desa Waimatan, Osesimus Sili Betekeneng, Selasa (6/4).

Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur, Senin (5/4/2021) menjelaskan, lebih dari 20 warga Ile Ape telah ditemukan tewas, 42 korban masih dalam pencarian, dan lebih dari 50 warga luka-luka dirawat di RSUD Lewoleba. Kemudian sekitar 370 warga mengungsi dan dipastikan jumlah pengungsi akan bertambah.

Desa Waitaman dikenal sebagai desa wisata kuliner dan sedang naik daun.Desa Waimatan di bawah kendali Kapala Desa Osesimus Sili Betekeneng dan Sekretaris Desa Randus Rupa, berhasil menciptakan lokasi wisata kuliner dengan memaksimalkan Dana Desa dan APBD II. Kini desa itu sekali lagi menghadapi bencana besar. Setelah erupsi, kini terjadi banjir bandang. Pembangunan desa kini terhambat di saat desa tersebut sedang memulihkan perekonomian di tengah pandemi. 

Kepedihan makin menyayat hati karena 25 warga desa setempat tertimbun material banjir dan longsor. Salah satunya adalah Randus Rupa, Sekretaris Desa Waimatan, tokoh yang dikenal bekerja ekstra membangun desa tersebut.

"Data terbaru desa saat ini lenyap karena diamankan Sekdes yang sampai saat ini masih tertimbun longsoran. Seluruh data administrasi desa, printer maupun laptop diamankan sekdes di kediamannya karena pekerjaan  yang buru cepat, dapat dikerjakan di rumah sekdes," ujar Kepala Desa Waitaman, Osesimus Sili Betekeneng.

Ia menunjukkan batu besar yang menimbun sekitar 19 rumah di Dusun 1 Desa Waitaman. Kini di atas batu besar itu dinyalakan lilin sebagai penanda bahwa di situlah ada 25 warga dusun meninggal termasuk Sekdes bersama ibu dan dua adiknya.

"Saat kejadian hujan lebat, saya minta Sekdes untuk mengevakuasi warga Desa Waimatan ke tempat yang lebih aman, karena kami antisipasi ancaman erupsi Gunung Ile Lewotolok. Sekdes kemudian melaporkan kepada saya melalui telepon seluler bahwa dirinya sudah mengevakuasi warga di titik kumpul desa," ungkapnya. 

Setelah itu sekitar pukul 02.00 WITA, Sekdes melaporkan baterai ponselnya hampir habis karena listrik padam.

"Terus mulai lampu padam. Hujan masih sangat lebat. Terus bunyi gemuruh,  seperti orang giling jagung. Tiba tiba gemuruh itu langsung stop. Rumah saya dapat lemparan batu satu kali. Saya langsung bangunkan istri saya, bahwa ini erupsi. Bangun kita cari tempat aman dulu," paparnya.

Ia terkejut pada pagi harinya mendapati 19 rumah warganya yang berjarak sangat dekat itu rata dengan tanah. Desa Waimatan terisolir sejak terjadinya banir bandang dan baru bisa diakses Senin (5/3). Tim Basarnas dan relawan melakukan evakuasi korban lainnya yang masih terjebak material banjir. Aliran sungai yang semula kecil dan dangkal kini menjadi lebar dan dalam. Aliran Sungai di Desa Waimatan ini telah memutus total ruas jalan utama menuju Lemau, ibu kota Kecamatan Ile Ape Timur.

Menurut Betekeneng, sebagai Desa yang berada persis di lereng gunung berapi Ile Lewotolok, selama ini, pihaknya mewaspadai aktivitas vulkanis gunung tersebut. Pada erupsi Gunung Ile Lewotolok tidak ada korban jiwa. 

"Jujur pada saat hujan deras itu kami mewaspadai letusan gunung berapi. Usai misa malam Paskah, Sekretaris Desa mengumumkan kepada warga untuk selalu waspada. Sekdes menyampaikan prakiraan cuaca dari BMKG melalui pengeras suara tentang kemungkinan badai di NTT," ujar Kades Waimatan. 

baca juga: Jenazah Korban Banjir Dimakamkan Secara Massal

Air matanya mulai berlinang menatap tumpukan material banjir bandang yang mengubur Sekdesnya bersama 22 warga lainnya, serta 19 rumah penduduk. Ia sempat mengajak Sekda keluar rumah untuk pindah ke tempat aman, namun ragu karena hujan deras tidak berhenti.

"Jadi mereka itu mati dalam kondisi sadar, karena sedang ada upaya evakuasi mengantisipasi longsoran. Namun banjir ini datangnya tiba-tiba dan sangat besar. Kami benar benar tidak memprediksi sebelumnya. Banyak yang lari tetapi saya bilang jangan lari karena ini gunung meletus," lanjut Betekeneng.

Kini upaya evakuasi jenazah sekdes Randus Rupa dan warga lainnya  menunggu pertimbangan teknis operator alat berat dengan mempertimbangkan topografi desa yang sangat rentan mengalami longsor susulan. (OL-3)

Baca Juga

MI/Bayu Anggoro

Jabar Quick Response Bantu Korban Banjir Bandang di Garut

👤Bayu Anggoro 🕔Selasa 30 November 2021, 23:50 WIB
Tim JQR harus bekerja keras karena jalur menuju lokasi sempat terputus akibat longsoran dan jembatan penghubung desa yang...
MI/Bayu Anggoro

PDIP Diminta Beri Sanksi pada Junimart Girsang

👤Bayu Anggoro 🕔Selasa 30 November 2021, 23:45 WIB
Pemuda Pancasila Jawa Barat menyampaikan aspirasi dan tuntutan mereka dengan mendatangi kantor DPRD Jawa...
Dok. Pribadi

Nadiem Minta Germas BBI Aroma Maluku Tercium Lintas Benua 

👤Mediaindoensia.com 🕔Selasa 30 November 2021, 23:31 WIB
Dia menjelaskan, berdasarkan catatan pelaut Portugis pada abad 16, Kepulauan Maluku disebut dengan Spice Island. Tenun Maluku juga...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya