Minggu 28 Februari 2021, 16:15 WIB

Tarik Sis Semongko, Para Petani Milenial Pampang

Iis Zatnika | Nusantara
Tarik Sis Semongko, Para Petani Milenial Pampang

MI/IIS ZATNIKA
Sejumlah pemuda di Pampang, Kabupaten Gunungkidul, yang bergiat di lahan pertanian

 

Guyuran hujan serta mendung yang menggelayut di langit di Desa Pampang, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul membuat  Rahmad Asnawi, 43, harus bolak-balik memasukkan karung-karung berisi 1,3 ton gabah hasil panennya dari rumah menuju pekarangan.

Saat matahari bersinar optimal, cukup sehari saja gabah itu dijemur, namun kini, saat curah hujan tinggi, waktu menjemur bisa hingga empat hari.

Namun, di antara kesibukannya, Rahmad punya optimisme baru, sawah-sawah di desanya akan segera semarak, termasuk di lahan 2.000 meter persegi milik orangtua yang kini dikelolanya. Setelah padi dipanen, giliran bibit semangka yang disemai dan siap panen pada akhir April mendatang.

Seperti Agrowisata Semangka Pampang perdana yang digelar pada 2020 lalu, pematang-pematang di Pampang akan diramaikan para wisatawan. Mereka turun ke sawah, memilih langsung buah-buah yang telah matang, menimbang dan langsung menikmati segar dan manisnya semangka itu.

“Sejak 2020 lalu, untuk meningkatkan nilai tambah, dari sebelumnya menanam holtikultura seperti  sayuran, kami merintis Agrowisata Semangka Pampang. Dengan menjual langsung di sawah, harga jual yang semula Rp3.000 hingga Rp4.500 per kg, bisa mencapai Rp5.000 hingga Rp8.000 per kg dengan total panen 20 ton,” ujar Rahmad, tim humas Petani Milenial Pampang yang bertugas mempromosikan lewat media sosial, termasuk lewat pampangsemangka.blogspot.com, kepada Media Indonesia, Jumat (26/2).

Kelompok tani yang dikelola Rahmad dan anak-anak muda petani di Pampang itulah yang merintis program Agrowisata Semangka Pampang.
Sawah-sawah, semangka dan wajah-wajah petani Pampang pun kini berseliweran di sosial media, mengungkit semangat warga desa dan para pemudanya untuk mengoptimalkan kerjanya mengolah berkah alam, tanah vulkanik nan subur.

Dirintisnya wisata Semangka juga didukung oleh kehadiran pompa-pompa listrik yang mengalirkan air dari sumur di pesawahan yang mulai dioperasikan juga pada 2020. Pompa listrik yang terhubung dengan tiang-tiang PLN yang melintasi sawah itu memungkinkan penanaman di lahan tadah hujan itu kini dilakukan sepanjang tahun, bermodal air dari sumur sawah galian sedalam 25 meter dan sumur bor hingga 100 meter.

“Tanpa pompa listrik kami harus menggaji buruh tani yang mengangkut air hingga delapan orang untuk sawah seluas 2.000 m2. Namun sejak akhir 2020, kami menggunakan pompa listrik, cukup dua orang uantuk menggarap lahan ini. Saat ditanami sawah yang siklusnya setahun sekali, kami menyalakan pompa selama 10 jam seminggu sekali, sedangkan untuk semangka, pompa menyala selama 5 jam sehari selama dua bulan masa penanaman,” kata ayah dua anak itu yang berkolaborasi dengan anggota-anggota kelompok tani yang berusia 30 hingga 45 tahun itu.

Para petani, kata Rahmad, menggunakan paralon untuk mendistribusikan air dari dua pompa yang digerakkan dengan listrik pulsa yang sebulannya diisi senilai Rp500 hingga Rp1 juta untuk lahan seluas 2,3 hektar milik 23 petani. “Ini penghematan besar, bisa hemat 80% dari biaya.”

Masing-masing petani yang tergabung secara kolektif dalam program Electrifying Agriculture itu, kata Rahmad, harus membayar Rp50 ribu-Rp70 ribu per bulan untuk urunan membeli pulsa listrik ketika menanam semangka yang memang ditanam saat musim kemarau sehingga harus disiram setiap hari.

Sementara pada masa tanam padi, biasanya cukup urunan Rp10 ribu karena suplai air tertolong hujan. Di Pampang, listrik yang mengungkit pertanian itu berwujud tenaga penggerak, namun di komoditas dan daerah lain menjadi daya pemanas dan pengolah mesin.

Terus berinovasi, memadukan kesuburan alam, listrik internet dan kolaborasi, Petani Milenial Pampang terus mengembangkan usahanya, salah satunya dengan mendirikan pasar tani.  “Di pasar tani, petani menjual langsung ke konsumen yang datang langsung ke sini, memilih sendiri semangka, bawang merah, cabai, dan komoditas lainnya. Ini bisa menghilangkan biaya tengkulak sehingga pendapatan petani bisa naik 40%. Sama seperti  wisata semangka, kami yakin dengan promo media sosial,  masyarakat akan meresponsnya.”
 
Rahmad optimistis, pasar tani dan agrowisata bisa sama-sama berkembang karena produk pertanian yang dihasilkan Pampang berkualitas, berkah lapisan vulkanik Gunung Merapi berpadu dengan keuletan para petaninya yang kini dilanjutkan para pemuda. Keuntungan lainnya, Pampang dilewati jalur alternatif menuju pantai-pantai di Gunung Kidul, di antaranya Pantai Baron hingga Pantai Indrayanti.

“Saat wisata semangka dibuka, turis dari Yogyakarta banyak yang datang, baik wisatawan nusantara maupun mancanegara. Mereka senang sekali, pergi atau pulang ke pantai lalu mampir ke sini untuk memetik dan makan langsung buah segar di kebun,” kata Rahmad.

Agenda berikutnya, Petani Milenial Pampang akan menyelenggarakan wisata edukasi pertanian yang akan membuka peluang usaha dan lahan pekerjaan bagi warga desa, sekaligus mengungkit citra pertanian di kalangan masyarakat.

Pampang, kata Rahmad, terbilang beruntung karena sebagian besar generasi muda desanya menjadi generasi penerus petani. Latar belakang pendidikan hingga perguruan tinggi tak menghalangi mereka terjun ke sawah dan kebun.

“Sebagian besar anggota Petani Milenial Pampang menjadikan pertanian sebagai pekerjaan utama. Memang ada yang memiliki aktivitas di luar seperti saya yang PNS, tapi kami tetap seorang petani karena turun ke sawah dan kebun setiap pagi dan sore, namun tentu dengan melibatkan teknologi untuk mendapatkan nilai tambah,” ujar Rahmad yang bersama anggota kelompok taninya menanam semangka jenis biji, non biji serta inul yang lonjong dan lebih kecil sehingga cocok untuk konsumsi perorangan.  

Wisata edukasi pertanian akan memperlihatkan wajah baru pertanian Pampang, kata Rahmad, akan melibatkan kekuatan komunitas serta teknologi seperti tenaga listrik dan internet.

Rahmad dan kawan-kawan kini tengah mencari lahan, pun mematangkan program yang akan berisi kegiatan menanam padi, cabai serta aneka gim edukatif.

Pretasi Pampang yang terpampang nyata dalam komoditas semangka menjadi bagian dari pencapaian sektor pertanian yang tumbuh paling tinggi di kala pandemi hingga 16,24% pada triwulan pertama 2020, ketika perekonomian nasional turun 5,32%. Kontribusi pertanian itulah yang melatari hadirnya meteran-meteran kolektif serta tiang-tiang listrik di antara pematang dan kebun.  

“Dalam wisata edukasi, kami akan perkenalkan pertanian yang tidak marjinal, melibatkan terobosan.Modal kami di sini adalah keinginan untuk melakukan perubahan. Karena untuk menanam semangka saja, kami perlu proses untuk menyakinkan orang tua yang punya tradisi holtikultura. Ternyata, kami bisa membuktikan, semangka yang paling menghasilkan, bisa 2 hingga 3 kali panen setahun. Penanaman pun kami atur supaya panen bergilir,” jelasnya. (N-2)

Baca Juga

Ist

Kabupaten Paser, Kaltim Memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Surya

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 12 April 2021, 13:11 WIB
Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, Kideco terus berupaya mendukung berbagai kebijakan pemerintah Indonesia yang berkaitan...
MI/Yose Hendra

Balimau di Masjid, Tradisi Silaturahim Ramadan di Agam

👤Yose Hendra 🕔Senin 12 April 2021, 11:52 WIB
Masyarakat Nagari Kampuang Pinang, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, gelar balimau dengan cara menjalin silaturahmi di masjid...
MI/Dok Humas Riau

Pariwisata Riau Kembali Bangkit

👤Rudi Kurniawansyah 🕔Senin 12 April 2021, 11:38 WIB
Setelah terpuruk akibat covid-19, Pemprov Riau membangkitkan lagi sektor pariwisata  dengan meluncurkan Calendar of Event (CoE)...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Modal Bikin Bank Baru kian Besar

 Di ketentuan RPOJK Bank Umum, bagi perbankan yang baru mau berdiri, diwajibkan memenuhi modal inti Rp10 triliun, termasuk untuk pendirian bank digital.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya