Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Dari Jalanan Menuju Kemandirian

Lilik Darmawan
15/1/2021 10:39
Dari Jalanan Menuju Kemandirian
Anak-anak yang dipungut dari jalanan Mojokerto, Jawa Timur, tengah dilatih menjadi barista di Kedai Kopie Banyumas, Jawa Tengah.(MI/Lilik Darmawan)

IA biasa dipanggil Pitik. Itu bukan nama sebenarnya, tetapi semacam julukan yang disematkan di jalanan. Panggilan Pitik diberikan karena sejak kecil hingga lulus SMP, dia tak pernah memakai alas kaki saat  berjalan. Sebulan lalu, pemuda berusia 22 tahun itu masih menyanyikan lagu-lagu di jalanan Mojokerto, Jawa Timur (Jatim). Lagu andalannya adalah Kenangan Masa Kecilku. Entah isinya mencerminkan kehidupan dirinya atau tidak, namun itu menjadi semacam lagu wajib ketika mengamen di jalanan.

Sekitar dua pekan belakangan, nama Pitik tak lagi terdengar di jalanan Mojokerto. Cerita berubah saat Pitik bertemu dengan Menteri Sosial Tri Rismaharini. Pitik sangat beruntung bisa langsung bertemu dengan Mensos yang tengah blusukan di kota itu. Tak sekadar dialog saja, sebab Mensos kemudian memerintahkan anak buahnya untuk membawa anak-anak jalanan supaya diberi keterampilan agar mandiri.

Kini, Pitik mendapat mengikuti program rehabilitasi di Balai Satria Baturraden, Banyumas. Penampilan Pitik tak lagi dekil. Sudah relatif bersih dan tidak lagi membawa gitar kecil ke mana-mana. Sewaktu ditemui pada Kamis (14/1) ia terlihat sibuk. Di belakangnya ada MF, 15, adik dari Pitik. Ia ikut serta, karena sewaktu di Mojokerto, adiknya yang masih kelas 9 SMP tersebut ikut mengamen. Keduanya mencermati betul bagaimana caranya meracik kopi. Karena Pitik dan adiknya tertarik menjadi seorang barista.

Pitik mulai mempraktikkan bagaimana cara meracik kopi. Ia mengambil kopi jenis arabica dan menimbangnya. Ukurannya 10 gram dan dicampur air bersuhu 85 derajat Celcius dengan volume 150 ml. Setelah air dituang, dia terlihat mencium aroma kopi yang diseduh. Begitulah yang diajarkan kepada keduanya, salah satunya oleh instruktur bernama Lutfi Hakim, 26. Sementara ini, Hakim memang ikut mengajari bagaimana meracik kopi kepada anak-anak yang direhabilitasi di Balai Satria Baturraden. 

"Dulu saya kan juga anak yang direhabilitasi di sini akibat kecanduan Napza. Banyak pelatihan yang diberikan mulai dari tata boga, barber shop, sablon dan paling terakhir barista," kata laki-laki asal Pontianak tersebut.

Jadi, kata Hakim, dirinya tidak hanya direhabilitasi agar tidak lagi kecanduan Napza saja, melainkan dilatih berbagai kemampuan sesuai peminatan. Sehingga kalau selesai program rehabilitasi dan kembali ke masyarakat, maka talenta yang ada dijadikan modal untuk kemandirian. 

"Saya belum akan pulang ke Pontianak, tetapi saya akan membuka usaha di Banyumas," ungkap Hakim.

Apa yang dialami oleh Hakim, kini juga dilakoni Pitik. Dia mengaku tidak hanya dilatih keterampilan seperti meracik kopi, namun juga kedisiplinan ibadah, bagaimana sopan santun dan etika.

"Saya menyadari, jalanan adalah dunia keras dan kurang ada sopan santun. Meski di sini baru dua minggu, tetapi saya merasakan perubahannya," ungkap Pitik.

Tak hanya Pitik, Jreng, 25, juga berubah. Jreng adalah nama jalanan ketika ia mengamen di Mojokerto. Ia dilatih bagaimana memasarkan produk secara daring. Jreng memmpunyai minat sebagai perajin sepatu. Sebab, sebelumnya ia pernah menjadi buruh sepatu di Mojokerto. Jalanan kemudian menjadi cerita harian, tatkala Jreng harus di-PHK dari tempat usaha  pembuatan sepatu di Mojokerto. 

"Di sini, saya dilatih bagaimana memasarkan produk melalui internet. Semoga nanti jika sudah pulang kembali ke Mojokerto, saya membuka usaha pembuatan sepatu dan dipasarkan 
secara online," ungkapnya.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Balai Satria Baturraden Hendra Permana mengatakan ada lima anak jalanan dari Mojokerto yang kemudian dibawa ke Baturraden untuk direhabilitasi. 

"Pada saat bertemu dengan Bu Menteri, mereka punya keinginan untuk berubah dan tidak turun jalan lagi. Ada yang bercita-cita membuka warung kopi dan menjadi perajin sepatu. Nah, di Balai Baturraden ini, kami memfasilitasinya sampai tuntas nantinya," kata Hendra.

Target rehabilitasi sekitar dua bulan, namun jika dirasa belum rampung bakal ditambah waktunya. 

"Paling awal ketika masuk adalah dengan melakukan rehabilitasi napza. Mereka tergolong masih ringan, baru coba-coba saja sehingga cepat rehabilitasinya. Kemudian ada terapi mental spiritual misalnya kedisiplinan dalam beribadah. Ada juga psikososial serta fisiknya juga dijaga. Sehingga pada waktu kembali ke masyarakat, bisa adaptif dan bersosialisasi secara baik, menjalani kehidupan normal dengan etika dan norma dalam masyarakat," jelasnya.

Hendra mengungkapkan bagi anak jalanan yang memiliki keinginan untuk menjadi perajin sepatu, maka nantinya akan mengikuti pelatihan di Cibaduyut, Bandung. Untuk yang ingin menggeluti barista maka pelatihannya di Kedai Kopie, kafe yang dikelola oleh Balai Satria Baturraden. 

"Mereka nantinya kami dampingi sampai tuntas. Kami akan mendampingi pada saat mereka kembali ke daerahnya masing-masing, bahkan nantinya akan difasilitasi permodalannya. Ini sesuai dengan arahan Bu Mensos agar didampingi sampai tuntas. Sehingga monitoring dan evaluasi juga dilakukan," ujar Hendra.

baca juga: Upaya Bank Indonesia Kembalikan Kejayaan Bawang Putih di Tegal

Sejauh ini, Balai Satria Baturraden telah banyak mengentaskan dan merehabilitasi para korban napza. Tak hanya sampai pada tidak lagi bergantung pada barang haram itu, tetapi sampai bagaimana memulai hidup yang baru dengan kemandirian.  Ada yang berhasil dalam beternak kambing di Banyumas, ada pula menjadi petani kentang di Wonosobo. Kini, waktunya anak-anak jalanan Mojokerto diambil dari jalanan dilatih menuju kemandirian. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya