Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bersama Yayasan Arsari Djojohadikusumo menyepakati pembangunan pusat konservasi harimau sumatra yang akan dilaksanakan di zona inti cagar biosfer Giam Siak Kecil, Kabupaten Siak dan Bengkalis, Riau.
Kawasan konservasi itu memiliki kurang lebih 200 ribu hektare hutan primer rawa gambut, populasi satwa mangsa yang melimpah, dan dukungan pemerintah daerah setempat.
"Pembangunan di zona inti cagar biosfer persisnya di Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil, Desa Tasik Betung, Kecamatan Sungai Mandau, Kabupaten Siak. Di mana areal kerja sama meliputi juga di Suaka Margasatwa Bukit Batu, Desa Temiang, Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis," kata Kepala BBKSDA Riau Suharyono di Pekanbaru, Rabu (29/7).
Baca Juga: Konservasi Satwa Liar masih Terancam
Ia menjelaskan, kesepakatan kerja sama ditandatangani di Kantor Arsari Djojohadikusumo, MidPlaza 2, Jakarta. Penandatanganan dilakukan
Kepala BBKSDA Riau dengan Direktur Eksekutif Yayasan Arsari Djojohadikusumo, yang disaksikan Dirjen KSDAE, Ketua Yayasan Arsari
Djojohadikusumo, dan Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati KLHK.
"Adapun kerja sama ini dilakukan terutama untuk konservasi spicies dan habitat Harimau Sumatra khususnya pada habitat ekosistem rawa gambut," ungkap Suharyono.
Ia mengatakan, latar belakang dari kerja sama itu adalah intensitas konflik Harimau Sumatra dan manusia yang sering terjadi di Provinsi Riau. Selain itu, belum adanya tempat rehabilitasi Harimau Sumatra di Provinsi Riau. Ditambah lagi tingginya ancaman perburuan dan aktivitas ilegal, serta perubahan dan degradasi serta fragmentasi habitat yang terjadi.
Baca Juga: KLHK Bantu Selamatkan Satwa di Lembaga Konservasi Terimbas Wabah
Menurutnya, kondisi itu sebagai akibat dari menyempitnya habitat harimau karena peralihan kawasan menjadi perkebunan, pemukiman dan HTI. Sehingga area jelajahnya menjadi terbatas dan sebagian besar berada di luar kawasan konservasi.
"Kasus kematian satwa liar terkhusus Harimau Sumatra beberapa kali terjadi terutama disebabkan karena kegiatan perburuan dengan pemasangan jerat satwa. Di samping kematian, juga menimbulkan adanya luka yang perlu penanganan secara medis," papar Suharyono.
Sejauh ini, lanjutnya, upaya untuk melakukan pencegahan yang dilakukan adalah dengan melakukan kegiatan operasi atau patroli sisir jerat secara rutin.
Baca Juga: Covid 19, Satwa di Lembaga Konservasi Tetap Diperhatikan
"Dengan melihat permasalahan yang terjadi selama ini terhadap Harimau Sumatra, maka Pembangunan Pusat Konservasi Harimau Sumatra di Provinsi Riau harus segera direalisasikan," tegas Suharyono.
Ia menambahkan, pembangunan Pusat Konservasi Harimau Sumatra akan dilaksanakan di Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil, Desa Tasik Betung, Kecamatan Sungai Mandau, Kabupaten Siak. Dimana areal kerjasama meliputi juga di Suaka Margasatwa Bukit Batu, Desa Temiang, Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis.
"Keunggulan dari pusat konservasi ini adalah lokasi berada dalam Zona Inti Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu. Memiliki kurang lebih 200 ribu hektare Hutan Primer Rawa Gambut, populasi satwa mangsa yang melimpah, dan dukungan Pemerintah Daerah," jelasnya.
Adapun kemanfaatan yang ingin dicapai, terang Suharyono, yaitu kelestarian dan peningkatan populasi Harimau Sumatra. Kemudian sebagai tempat pendidikan, pelatihan, penelitian dan pengembangan, peluang usaha ekonomi bagi masyarakat sekitar, dan kegiatan ekowisata atau wisata terbatas.
"Komitmen dari Yayasan Arsari Djojohadikusumo untuk Konservasi Harimau Sumatra, mendapatkan apreasiasi yang tinggi dari Ditjen KSDAE Kementerian LHK. Semoga dengan adanya dukungan berbagai pihak kelestarian Harimau Sumatra akan terjaga," harapnya. (RK/OL-10)
Polda Riau mengungkap kasus dugaan pelanggaran konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem di Kabupaten Bengkalis.
Studi terbaru ungkap hutan hujan Australia tak lagi jadi penyerap karbon. Suhu tinggi dan kekeringan membuat hutan justru melepaskan CO2 ke atmosfer.
Regenesis juga menegaskan keselarasan APP Group dengan Rencana Aksi Strategis Keanekaragaman Hayati Indonesia (IBSAP) 2025-2045 yang diluncurkan pemerintah
KETUA Delegasi RI untuk COP29, Hashim Djojohadikusumo, mengatakan Presiden RI Prabowo Subianto telah menyetujui reboisasi atau penghijauan kembali besar-besaran.
PT Eigerindo MPI, distributor brand EIGER Adventure, berkolaborasi dengan Yayasan Wanadri untuk menanam dan merawat 10.000 bibit mangrove di Belitung
SEKRETARIS Jenderal KLHK Bambang Hendroyono mendorong pemerintah secara kolaboratif menciptakan kebijakan yang mendukung pengelolaan hutan berkelanjutan.
Lokasi rawan kebakaran gambut sebenarnya bisa diidentifikasi lebih awal. Tapi dana daerah baru bisa digunakan setelah bencana terjadi, bukan untuk antisipasi. Itu problem utamanya.
Di sebuah ladang sederhana di kawasan timur Inggris, eksperimen bersejarah tengah dilakukan. Ahli ekologi sekaligus petani padi pertama di Inggris, berhasil menumbuhkan padi.
Perkebunan monokultur skala besar di area konsesi korporasi masih menjadi penyebab utama kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun ini.
Pantau Gambut mengatakan kondisi 2025 masih menunjukkan pola rawan karhutla, terutama di tengah puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober.
YAYASAN Madani Berkelanjutan mencatat bahwa hingga Agustus 2025 terdapat sekitar 218 ribu hektare area indikatif lahan gambut terbakar.
Periset Pusat Riset Hortikultura BRIN Fahminuddin Agus menyatakan lahan gambut merupakan salah satu penyumbang emisi karbon terbesar, terutama jika tidak dikelola dengan baik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved