Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

UMKM Yogyakarta Terpukul Covid-19

Agus Utantoro
26/4/2020 12:30
UMKM Yogyakarta Terpukul Covid-19
Designer dari komunitas designer Rencang Rancang membuat design promosi di Panembahan, Kraton.(ANTARA/Hendra Nurdiyansyah)

DEKRANASDA (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Kota Yogyakarta  memperkirakan setidaknya 70% anggotanya yang kebanyakan adalah
pelaku usaha mikro, kecil dan menengah terdampak pandemi Covid-19.

Ketua Dekranasda Kota Yogyakarta Ana Haryadi, Sabtu (25/4), di Yogyakarta, mengatakan dampak yang paling terasa adalah usaha mereka tidak bisa dijalankan.

"Yang paling terdampak adalah pelaku usaha di bidang fesyen seperti batik dan kerajinan tangan karena pasar utamanya adalah wisatawan yang datang ke Kota Yogyakarta," ujarnya.

Baca juga: 1,8 Juta Warga Jateng Terima JPS Covid-19

Ana menjelaskan, karena sektor pariwisata terdampak dan bahkan hampir tidak ada wisatawan yang datang, sektor UMKM menerima pukulan pertama yang sangat berat.

Di sisi lain, ujarnya, UMKM juga memiliki keandalan menghadapi situasi. Ia menambahkan, UMKM cepat beradaptasi dengan situasi dan kesulitan yang dihadapi dan dengan cepat akan mencari peluang usaha.

"Salah satunya mengalihkan jenis produk yang diproduksi sesuai permintaan pasar," katanya.

Ia kemudian menyontohkan, pelaku usaha pembuatan busana atau penjahit batik kini banyak yang beralih menjadi pembuat masker kain yang banyak diminati pasar.

"Ada pula yang kemudian mengalihkan kegiatan dengan membuat pakaian yang santai dan nyaman untuk bekerja di rumah karena adanya work from home," katanya.

Sedangkan usaha kuliner, banyak yang kemudian melayani penjualan daring dan bahkan bahan masakan lengkap.

Peralihan produksi tersebut, katanya, mampu membantu pelaku UMKM untuk tetap bertahan di tengah kondisi yang serba sulit.

Istri Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti itu pun kemudian mengungkapkan cara pemasarannya pun berubah dan kini banyak memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi baik melalui WA ataupun aplikasi media sosial lainnya.

"Adaptasi para pelaku UMKM ini patut diapresiasi," katanya.

Bidang Usaha Kecil Mikro Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan  Transmigrasi Kota Yogyakarta Rihari Wulandari mengatakan dalam  menghadapi pandemi covid-19 diperlukan inovasi dari pelaku usaha.

"Inovasi yang banyak dilakukan adalah mengalihkan produksi dengan  memproduksi barang yang dibutuhkan pasar, seperti masker kain dan
inovasi pemasaran. Banyak pelaku usaha yang kini mulai belajar pemasaran secara daring," katanya.

Di Kota Yogyakarta terdapat sekitar 24 ribu pelaku UMKM dari berbagai sektor usaha, dengan sekitar 6 ribu di antaranya sudah mengantongi izin usaha mikro. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya