Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
Lantunan lagu Lilin-Lilin Kecil dan sorot lampu telepon genggam dari para penonton membuat suasana syahdu terasa di Taman Budaya Yogyakarta, Selasa (25/2) malam. Malam itu, James F Sundah sengaja membawakan lagu ciptaannya dengan iringan Kuaetnika untuk acara Ibadah Musikal 100 Hari Djaduk Ferianto.
"Saya sengaja mempercepat kepulangan saya (ke Indonesia) untuk acara ini," kata James yang sekarang berdomisili di Amerika. Saat meninggalnya Djaduk, imbuh James, dia tidak bisa ikut melayat karena saat itu dirinya berada di Amerika.
Keluarga, kerabat, sahabat, dan para pecinta musik memperingati seratus hari Djaduk dengan menikmati sajian musik yang ditampilkan. Selain James dan Kuaetnika, beberapa musisi yang ikut tampil, antara lain Syaharani, Soimah, Endah Laras, hingga Tashoora.
Kuaetnika menampilkan tiga buah lagu baru malam itu. Dua lagu yang berjudul Dua Benua dan Angin Gunung merupakan komposisi yang dibuat Kuaetnika dari siulan Djaduk semasa masih hidup. Satu lagu yang lain, yaitu Nguntabke merupakan lagu yang khusus dibuat untuk mengenang sang maestro tersebut.
"Ini (Ibadah Musikal) untuk memberi jalan terbaik bagi Djaduk," kata sang kakak, Butet Kertaradjesa mewakili keluarga. Ia mengakui, keluarga dan rekan-rekan berat untuk belajar mengikhlaskan Djaduk.
Baca juga: Keinginan Djaduk Berkolaborasi Dengan Rhoma Irama
Namun, malam itu, Butet mengajak semua yang hadir untuk mengikhlaskan Djaduk pergi jauh. "Djaduk boleh pergi, tetapi kalian hendaknya mewarisi apinya, tidak cuma abunya," kata Butet.
Malam itu, Sardono W Kusumo juga menyampaikan kenangannya pada sosok Djaduk. Sardono menilai Djaduk memilih jalan berkesenian secara bersama-sama seperti yang tampak dalam Ibadah Musikal malam itu.
Pada kesempatan itu, James memuji kreativitas Djaduk dalam berkesenian, terutama seni musik. Ia mencontohkan, Djaduk bersama Kuaetnika sudah melalang buana ke banyak negara. "Tidak ada yang seperti Kuaetnika. Ini harusnya menjadi kebanggaan kita," kata dia.
James pun berjanji, dia akan mendaftarkan copy right karya Djaduk di copy right office di Amerika. Menurut dia, proteksi copy right di Amerika Serikat berlaku seluruh dunia. (OL-14)
Melalui Chocolate, Papion dan Dept mengeksplorasi analogi cinta yang lebih kompleks: sebuah rasa yang mendewasakan karena mengandung unsur manis sekaligus pahit.
Melalui lagu Senyum Papa, Lindee Cremona memotret sosok ayah dari kacamata seorang anak; sosok yang kerap terlihat kuat dan selalu melempar senyum.
Menurut Dewi Gita, membuat soundtrack sulit karena penulis lagu harus menyesuaikan dengan cerita film serta tujuan dari film tersebut.
Marcell Siahaan sengaja membawakan lagu ini tanpa upaya untuk membesarkannya secara berlebihan.
Do What You Gotta, hasil kolaborasi dengan Sunset Rollercoaster, ditetapkan sebagai single utama dari EP terbaru PREP yang bertajuk One Day in the Sun.
Jakarta Concert Orchestra (JCO) kembali membuktikan daya tarik musik anime di panggung orkestra melalui konser bertajuk an Anime Symphony: Re-Awakening.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved