Kamis 25 Juli 2019, 17:30 WIB

Revolusi Industri Keempat, Indonesia Bisa Belajar dari Jepang

Ghani Nurcahyadi | Nusantara
Revolusi Industri Keempat, Indonesia Bisa Belajar dari Jepang

Dok. Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)
Rachmat Gobel saat menyampaikan orasi ilmiah dalam DIes Natalis PENS

 

INDONESIA dihadapkan pada 2 fenomena positif sata ini, yaitu revolusi industri keempat (industry 4.0) dan bonus demografi Untuk memanfaatkannya, Indonesia bisa belajar dan menjalin kerja sama lebih erat dengan Jepang.

Hal itu dikemukakan Duta Investasi Presiden RI untuk Jepang, Rachmat Gobel pada Dies Natalis Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ke-31 di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (25/7).

Rachmat mencontohkan, pascaperang dunia ke-2, Jepang mengalamani Baby Boom. Dengan Semangat Monozukuri, Jepang menggenjot industrialisasi, dan mulailah inovasi-inovasi unggul mencuat ke panggung dunia. Jepang pun lepas landas menjadi jajaran negara industri maju, hingga sekarang.

Indonesia kini dihadapkan pada tantangan serupa dengan kondisi di mana populasi usia produktif lebih banyak dari usia nonproduktif. Indonesia diprediksi akan mengalami puncak bonus demografi pada 2030 mendatang.

"Kita juga melihat adanya kenaikan jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia selama beberapa tahun terakhir ini telah berdampak pada kenaikan daya beli masyarakat, yang pada gilirannya tentu diikuti dengan peningkatan konsumsi," kata Rachmat.

Baca juga : RI-Jepang Terus Perkuat Kerja Sama Regional

Tantangan itu semakin besar karena saat ini perekonomian dunia sedang masuk dalam revolusi industri keempat yang mengarah ke ekonomi digital Hal itu setidaknya bisa dilihat lewat tumbuhnya transaksi perdagangan daring atau e-commerce yang sangat pesat.

Hal ini selaras dengan adanya pembangunan proyek infrastruktur secara masif oleh pemerintah, berupa peningkatan elektrifikasi, internet-tol langit (Palapa Ring, satelit & kabel optik menjangkau  34 provinsi, 440 kota/kabupaten, panjang kabel laut 35.280 km, dan kabel darat 21.807 km), maupun berbagai infrastruktur fisik lainnya.

Sejalan dengan asumsi pertumbuhan ekonomi dan penduduk, serta kenaikan jumlah masyarakat kelas menengah dan peningkatan target rasio elektrifikasi menjadi 100% pada 2025, dipastikan kebutuhan peralatan elektronika akan terus meningkat, baik yang medium and low technology, ataupun yang high technology.   

Apalagi bila melihat saat ini tingkat penetrasi produk elektronika di Indonesia yang masih relatif rendah, maka kebutuhan atas produk elektronika sangatlah besar.

Sebagai contoh misalnya, dari data survei oleh GFK yang diolah Gabungan Elektronika pada 2016, untuk Alat Elektronika Rumah Tangga diketahui tingkat penetrasi kulkas 59%, kipas angin 55%, mesin cuci 36%, pompa air 39%, AC 26% dan TV 36%.

Situasi ini menjadikan kesempatan yang terbuka luas bagi lulusan PENS, kata Rachmat. Peran PENS sangat besar sebagai penyedia SDM mumpuni untuk sektor industri elektronika yang paling dasar, khususnya industri Alat Elektronika Rumah Tangga.

Kesiapan PENS dalam menyediakan SDM mumpuni akan memperbesar peluang pengembangan industri dalam negeri untuk mengisi pasar, agar pasar tidak dimanfaatkan oleh produsen atau pedagang impor produk dari negara lain, yang menjadi pesaing Indonesia.

"Saya menyampaikan apresiasi atas kemajuan-kemajuan yang berhasil dicapai oleh PENS menjadi salah satu Politeknik terkemuka di Indonesia, yang sekaligus juga menjadi salah satu monumen hidup keberhasilan hubungan kerjasama Indonesia-Jepang," ujar Rachmat.

Selain belajar dari Jepang, kemitraan yang lebih erat dengan Jepang, lanjut Rachmat juga penting untuk dilakukan. Ia bahkan menyebut Jepang perlu lebih meningkatkan perannya di Indonesia dalam revolusi industri keempat saat ini.

Baca juga : RI-Jepang Kembangkan Blok Masela

Hal itu karena Indonesia punya potensi ekonomi yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, selain itu pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil selama 5 tahun terakhir di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

Rachmat menjelaskan, sebagai sesama anggota dari Negara yang tergabung dalam G20, Indonesia dan Jepang harus mengembangkan kerja sama yang lebih aktif. Isu-isu seperti Green Innovation and Green Investment, Low Carbon Society, Revolusi Industri ke Empat dan  Internet of Things (IoT), merupakan wilayah kerjasama masa depan, yang perlu dibangun dengan jauh lebih sungguh-sungguh.
 
Indonesia dengan lebih dari 17.500 pulau dan 270 juta penduduk yang mayoritas di usia produktif, merupakan pasar yang sangat besar.

Apalagi dengan semakin terbukanya batas antar negara berkat kemajuan teknologi transformasi digital. Internet of Thing (IoT) sebagai teknologi utama dalam transformasi digital, membuat pasar yang ada kini tidak hanya terbatas pada 270 juta penduduk Indonesia saja, namun menjadi terbuka untuk 4,5 milyar penduduk Asia, dan bahkan 7,7 milyar penduduk dunia.

"Saya menyampaikan harapan  agar hubungan erat yang telah terjalin selama 60 tahun dan menghadapi gelombang pasang-surut, tidak akan memudar dan menjadi sayonara di masa depan," ujarnya. (RO/OL-7)

Baca Juga

DOK MI.

Polda Kepri Tangkap Polisi Talaud DPO Kasus Penipuan

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 16 Mei 2022, 20:26 WIB
Pada tanggal itulah Rigel ditangkap oleh tim kepolisian di kamar penginapannya. Setelah ditangkap, dia langsung dibawa ke Polda Kepri untuk...
Ist

Davina Dee Mampu Ramaikan Restoran yang Sempat Tutup  

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 16 Mei 2022, 20:16 WIB
Keistimewaan lain dari restoran ini, menurut Davina, adalah tempatnya yang pas bagi para pecinta binatang yang ingin membawa bintang...
Dok. Pribadi

4 Warga Binaan Lapas Waingapu Dipindahkan ke Lapas Batu Nusakambangan

👤Rahmatul Fajri 🕔Senin 16 Mei 2022, 20:12 WIB
“WBP yang kami pindahkan ke Lapas Nusakambangan ini terlaksana atas hasil kolaborasi Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Nusa...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya