Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Ratusan Rumah di Cianjur Rusak Akibat Bencana

Benny Bastiandy
04/7/2019 11:27
Ratusan Rumah di Cianjur Rusak Akibat Bencana
Ilustrasi(Antara)

RATUSAN rumah warga di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terdampak berbagai bencana selama periode Januari-Juni tahun ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat secara bertahap menyalurkan berbagai material bangunan untuk perbaikan.

"Hasil pendataan yang kami lakukan, untuk rumah kategori rusak berat ada 12 unit, rusak sedang 16 unit, dan rusak ringan 103 unit. Sedangkan yang terdampak ada 108 unit dan terendam 10 unit," tutur Sekretaris BPBD Kabupaten Cianjur, Sugeng Suprayitno, kepada Media Indonesia, Kamis (4/7).

Selama Januari-Juni tahun ini, jumlah bencana di Kabupaten Cianjur masihdidominasi tanah longsor dan pergerakan tanah. Total, bencana yang terjadi sebanyak 58 kali. Rinciannya, pada Januari sebanyak 7 kali, Februari sebanyak 2 kali, Maret sebanyak 9 kali, April sebanyak 7 kali, dan Mei sebanyak 3 kali. Sedangkan pada Juni dilaporkan tak terjadi longsor atau pergerakan tanah.

Bencananya terdiri dari banjir sebanyak 20 banjir, tanah longsor dan pergerakan tanah sebanyak 28 kali, angin puting beliung 7 kali, cuaca ekstrem 1 kali, pohon tumbang 1 kali, dan orang tenggelam 1 kali.

"Jumlah warga yang mengungsi terdata sebanyak 60 kepala keluarga atau 175 jiwa. Sedangkan yang terdampak 113 kepala keluarga atau 383 jiwa," imbuhnya.

Saat ini potensi bencana yang diwaspadai ancaman kekeringan sebagai dampak kemarau. Namun BPBD belum menetapkan status darurat kekeringan dengan alasan masih menunggu penetapan dari Provinsi Jawa Barat.

"Belum ada penetapan status darurat. Kami akan langsung menindaklajuti begitu provinsi menetapkan status kebencanaan," tuturnya.

Ia tak memungkiri di sejumlah daerah sudah mulai terjadi kekeringan. Namun BPBD belum bisa menindaklanjuti sebelum ada laporan resmi tertulis dari pihak desa.

"Kalau tidak ada laporan resmi kami belum bisa menindaklanjutinya. Kekeringan ini menyangkut pasokan air ke lahan pertanian dan konsumsi air bersih. Untuk lahan pertanian, kami akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian. Kalau krisis air bersih, kami koordinasikan dengan Dinas Rumkim atau dengan PDAM," tegasnya.

baca juga: 285 Anak Imigran di Pekanbaru Dilarang Bersekolah Formal

Sugeng mengaku, BPBD sudah mengumpulkan semua camat menyikapi kondisi kemarau saat ini. Mereka, kata Sugeng, diingatkan segera melaporkan sekecil apapun kondisi di lapangan kaitan potensi kekeringan.

"Yang pasti, BPBD selalu mewaspadai dan siap siaga menindaklanjuti semua potensi kebencanaan," pungkasnya. (OL-3)

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya