Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Sumur Kering, 5.000 Warga Aceh Utara Konsumsi Air Sungai

Amiruddin Abdullah Reubee
05/3/2019 12:45
Sumur Kering, 5.000 Warga Aceh Utara Konsumsi Air Sungai
(MI/Amir MR)

SEKITAR 5.000 warga di Kecamatan Pirak Timu dan Kecamatan Paya Bakong sejak dua bulan terakhir krisis air bersih. Pasalnya sekitar 1.000 unit sumur milik mereka terjadi kekeringan.

Namun sebaliknya bila musim hujan tiba, kawasan Pirak Timu sangat rawan dilanda banjir kiriman dari hulu sungai Krue Pirak dan Sungai Krueng Peutoe.

Sedikitnya ada delapan desa sedang dilanda kekeringan akibat kemarau tersebut. Diantaranya adalah Kecamatan Pirak Timu, meliputi Desa ALue Rime, Serdang, Paya Lueng Jalo, Ara Tonton dan Ulee Blang. 

Sementara di kawasan Kecamatan Paya Bakong, yaitu meliputi Desa Alue Lhok, Seunebok Aceh dan Desa Buket Pidie.

Tokoh Masyarakat Kecamatan Pirak Timu, Abdullah kepada Media Indonesia, Selasa (5/3) mengatakan kekeringan cukup parak itu karena sejak awal bulan Januari 2019 di kawasan setempat tidak turun hujan. 

Cuaca kemarau langsung memicu kekeringan mata air, sehingga sumber air sumur mengering.

"Kalau musim kemarau disini sangat cepat sumber mata air dalam tanah menghilang, sehingga sumur langsung mengering dan krisis air bersih."

 

Baca juga: Tanggul Jebol, Ratusan Hektare Lahan Sawah Terancam Kekeringan

 

Dikatakan Abdullah, untuk menutupi kebutuhan air bersih warga harus menggunakan air sungai Krueng Pirak. Untuk mengngkut air sejauh berkisar 1 km (kilometer) hingga 6 km itu warga menggunakan jeriken.

Sebagian warga lainnya harus membeli dari truk pengangkut dan penjual air keliling seharga Rp130.000 hingga Rp 280.000 (tergantung banyaknya air). Truk bak tersbuka tersebut didesain dengan menggunakan plastik pada sekeliling dinding dan bagian lantai supaya tidak bocor.

"Itupun kadang saat kita pesan, empat hari airnya belum dibawa" ujar Abdullah.

Adapun untuk kebutuhan mandi dan cuci warga banyak pergi ke sungai walaupun jarak yang mencapai 6 km dari rumah mereka. Ironisnya tidak sedikit yang menggunakan aliran sungai sebagai tempat buang hajat. Hal itu sangat berbahaya terhadap kesehatan warga.

Warga berharap, pemerintah membangun jaringan air bersih atau fasilitas PDAM di kawansan perkampungan pedalaman Aceh Utara tersebut. 

Mereka ingin kondisi krisis air sumur saat musim kemarau dan banjir besar ketika musim hujan yang sudah puluhan tahun silam terjadi, dapat segera berakhir seiring kemajuan zaman dalam mengisi dan menikmati kemerdekaan ini. (OL-3)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya