Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
PERMUKIMAN warga di RW 04, Kelurahan Cipinang Melayu, Makasar, Jakarta Timur, terendam banjir hingga ketinggian air mencapai 120 sentimeter (cm) akibat luapan Kali Sunter, pada Kamis (22/1) malam.
"Untuk saat ini, yang paling dalam itu di pinggir kali mencapai 120 cm. Itu terjadi di RT 04, RT 01, dan RT 02. Sementara RT lain seperti RT 05 dan RT 07 sekitar 50 sentimeter. Sedangkan RT 06 belum
terdampak," kata Ketua Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) RW 04 Cipinang Melayu, Subagyo, di lokasi banjir, Kamis.
Tinggi banjir 120 sentimeter ini terus mengalami peningkatan sejak sore hingga malam hari. Genangan paling parah terjadi di wilayah yang berada di bantaran kali. Beberapa RT terdampak cukup serius dengan ketinggian air mendekati satu setengah meter.
Menurut Subagyo, kenaikan muka air terjadi sangat cepat. Dia menyebut air mulai meninggi signifikan sekitar pukul 18.30 WIB.
"Tadi sore saya sempat cek ke ujung, masih sekitar 40 sampai 50 cm. Setelah Magrib, sekitar jam 18.30, air naik cepat sekali. Sekarang sudah sampai ke wilayah RT 5 bagian atas," jelasnya.
Menurut Subagyo, tingginya curah hujan yang berlangsung cukup lama menjadi penyebab utama banjir. Selain itu, luapan Kali Sunter turut memperparah kondisi di permukiman warga RW 04 Cipinang Melayu.
Sementara itu, Ketua RW 04 Cipinang Melayu Yoni Triorama mengatakan, hingga saat ini belum ada warga yang mengungsi. Namun, pihaknya menyiapkan skema evakuasi apabila ketinggian air terus bertambah.
"Instruksi dari pengurus RW, bila ketinggian air sudah melebihi 150 cm, warga akan kita arahkan untuk mengungsi ke Kampus Universitas Borobudur. Itu jadi satu titik pengungsian," kata Yoni.
Untuk sementara, warga masih memilih bertahan di rumah masing-masing sambil menunggu air surut. Sebagian warga mengamankan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi.
"Warga sudah biasa dengan kondisi seperti ini, biasanya menunggu surut. Kalau memang air tidak surut atau justru naik, nanti warga akan mengungsi secara bertahap," ujarnya.
Saat ini, aktivitas warga di lokasi terdampak terpantau terbatas. Sebagian besar warga memilih bertahan di rumah dan memantau ketinggian air.
"Sekarang warga masih menunggu air. Kalau surut langsung dikuras, tetapi kalau tetap bertahan dan naik, warga akan mengungsi ke Universitas Borobudur," lanjut Yoni.
Menurut dia, wilayahnya memang kerap terdampak saat banjir terjadi. "Itu langganan. Kalau banjir pasti mereka terdampak. Dan ini hanya terjadi di satu RW saja, yaitu RW 4. Tapi untuk tahun 2026, ini pertama kali kami mengalami banjir," ucap Yoni.
Terkait bantuan dari pemerintah, Yoni menyebut hingga kini belum ada bantuan yang masuk ke lokasi. "Biasanya, bantuan akan disalurkan setelah proses pendataan warga terdampak dilakukan, terutama jika sudah ada warga yang mengungsi."
"Biasanya ada bantuan dari PMI dan Dinas Sosial. Tapi sejauh ini belum ada. Pendataan baru kita mulai setelah warga mengungsi. Setiap RT mendata warganya, lalu diserahkan ke RW, dan diteruskan ke kelurahan," jelas Yoni.
Hingga saat ini, warga RW 04 Cipinang Melayu masih bersiaga dan berharap air segera surut. Pengurus wilayah terus memantau perkembangan ketinggian air dan kesiapan lokasi pengungsian. (Ant/I-2)
Salah satu pedagang di sekitar lokasi, Rizal mengaku banjir telah merendam area lingkar luar Jakarta ini sejak Minggu (8/3).
BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan kondisi terkini genangan akibat hujan deras yang mengguyur ibu kota sejak Minggu (8/3).
Pengamat tata kota Yayat Supriyanta menilai banjir Jakarta tidak hanya dipicu curah hujan tinggi, tetapi juga menunjukkan melemahnya sistem pengendalian banjir.
BANJIR yang berulang hampir setiap tahun itu kembali memicu sorotan berbagai pihak, salah satunya terkait minimnya ruang terbuka hijau (RTH) di ibu kota.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan banjir yang terjadi di sejumlah wilayah ibu kota pada Minggu (8/3) dipicu curah hujan ekstrem.
Temukan jawaban ilmiah mengapa Kemang dan Mampang Prapatan menjadi langganan banjir. Analisis topografi, sejarah, hingga progres normalisasi 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved