Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGAMAT tata kota Yayat Supriyanta menilai kondisi darurat sampah yang kini membayangi Kota Tangerang dan Tangerang Selatan (Tangsel) merupakan akumulasi kegagalan perencanaan kota sejak awal. Darurat sampah Tengerang dan Tangsel disebutnya sebagai bukti dari kegagalan tata kota dan pengelolaan sampah dalam jangka panjang.
Menurut dia, sebagian besar kota di Indonesia tidak pernah merancang tempat pembuangan akhir (TPA) secara terintegrasi dalam rencana tata ruang.
“Pada umumnya, kota-kota di Indonesia itu tidak memiliki TPA yang direncanakan. TPA berkembang berdasarkan sejarah dan dinamika kota, bukan berdasarkan perencanaan yang matang,” ujar Yayat saat dihubungi, Kamis (8/1).
Ia menjelaskan, pertumbuhan penduduk yang terus meningkat tidak pernah diantisipasi secara memadai dalam kebijakan pengelolaan sampah. Akibatnya, banyak TPA dibangun di luar kerangka perencanaan kota yang komprehensif, tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan dampak sosial ekonomi.
Masalah semakin kompleks karena keterbatasan cadangan lahan di kawasan perkotaan. Di sisi lain, pola pengelolaan sampah di banyak daerah, termasuk Tangerang, masih bertumpu pada metode open dumping yang konvensional dan minim penerapan teknologi.
“Cadangan tanah kita terbatas, tapi pengelolaan sampahnya masih sangat tradisional. Ini kombinasi yang berbahaya untuk kota yang terus tumbuh,” kata Yayat.
Upaya kerja sama antarwilayah pun dinilai tidak mudah direalisasikan. Yayat menegaskan, penolakan daerah lain bukan semata-mata soal pembagian keuntungan atau tipping fee, melainkan lebih pada dampak keberadaan TPA terhadap kehidupan warga.
“Yang diprotes masyarakat itu impact-nya, pencemaran lingkungan, gangguan sosial ekonomi. Itu yang membuat banyak daerah menolak kerja sama pengembangan TPA dengan Tangerang atau Tangerang Selatan,” ujarnya.
Penolakan kian menguat ketika lokasi TPA berdekatan dengan kawasan properti. Menurut Yayat, pengembang perumahan hampir selalu bereaksi keras jika ada rencana pembangunan fasilitas pengelolaan sampah di sekitar wilayah mereka.
“Nilai properti bisa jatuh, nilai tanah turun. Ada stigma kuat, kalau dekat sampah, rumah susah dijual. Bau dan pencemaran udara itu sangat mempengaruhi nilai jual,” katanya.
Ia mencontohkan sejumlah kasus, seperti di Kabupaten Bogor, di mana keberadaan TPA memicu resistensi terhadap pembangunan perumahan. Fenomena serupa juga terjadi pada proyek RDF di Rorotan yang ditolak warga karena kedekatannya dengan kawasan hunian skala besar.
Menghadapi situasi tersebut, Yayat menilai sudah saatnya pemerintah meninggalkan pola open dumping dan beralih ke pengembangan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Ia menyebut, sinyal kebijakan ke arah tersebut mulai terlihat.
“Pemerintah melalui Danantara sudah meminta PLN untuk menerima sambungan listrik dari hasil pengelolaan sampah. Ini peluang besar yang harus dikembangkan,” ucapnya.
Yayat pun mengajak pemerintah daerah belajar dari praktik negara lain, seperti Singapura, yang dinilainya berhasil mengelola sampah tanpa meninggalkan persoalan visual maupun lingkungan.
“Kita tidak pernah lihat tumpukan sampah di Singapura. Sampah diolah jadi energi listrik dan fasilitasnya dikembangkan di bawah tanah. Ini yang seharusnya menjadi arah kebijakan ke depan,” pungkasnya. (H-3)
Guru kelas 1 UPTD SDN Sawah 01, Mulyani, mengungkapkan dirinya telah mengabdikan diri mengajar di sekolah tersebut selama lebih dari 30 tahun.
Menurutnya, saling bantu antara daerah ini perlu dilakukan guna memudahkan menyelesaikan sebuah permasalahan.
Konsentrasi partikel halus () di Tangerang Selatan kerap melampaui ambang batas aman yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pemerintah Kota Tangerang Selatan mengungkapkan bahwa pembuangan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) milik PT Aspex Kumbong di Cileungsi dilakukan dengan kuota 200 ton per hari.
Tim Satuan Tugas (Satgas) akan dikerahkan secara intensif untuk melakukan pengangkutan sampah yang masih menumpuk di berbagai wilayah pemukiman maupun protokol.
Kerja sama itu diharapkan bisa menangani masalah sampah sekaligus menghasilkan energi listrik.
Setiap kemasan plastik yang dipilah oleh warga dapat disetorkan ke bank sampah terdekat lalu dikonversi menjadi poin yang setara dengan tabungan emas di rekening tabungan emas Pegadaian.
PESISIR Kota Cirebon kembali dipenuhi tumpukan sampah. Kesadaran bersama diminta untuk bisa mengatasi permasalahan sampah. Tumpukan sampah terlihat di sepanjang pesisir pantai.
Kabupaten Banyumas dianggap telah berhasil mengelola sampah secara menyeluruh, mulai dari pemilahan hingga pemanfaatan akhir.
Setiap hari, Jakarta memproduksi sekitar 8.300 ton sampah yang harus dikelola secara berkelanjutan.
Data Pemerintah Kabupaten Tegal menunjukkan timbulan sampah mencapai 670,38 ton per hari. Namun, sampah yang berhasil diolah baru sekitar 5,3 persen.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved