Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Harga Cabai dan Bawang di Pasar Induk Cibitung Melonjak Jelang Nataru

Anton Kustedja
16/12/2025 22:23
Harga Cabai dan Bawang di Pasar Induk Cibitung Melonjak Jelang Nataru
Ilustrasi(Dok Pemkab Bekasi)

JELANG perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), harga sejumlah komoditas sayur mayur di Pasar Induk Cibitung, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mengalami kenaikan signifikan, khususnya cabai dan bawang merah.

Harga cabai rawit merah yang pada kondisi normal berada di kisaran Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram, kini melonjak hingga Rp70 ribu bahkan mendekati Rp80 ribu per kg. Sedangkan cabai keriting yang biasanya dijual Rp30 ribu–Rp35 ribu per kg, kini berada di kisaran Rp65 ribu per kg.

Kenaikan ini dipicu oleh berkurangnya pasokan dari daerah sentra produksi serta faktor cuaca.

Staf Operasional Bahan Pokok dan Penting (Bapokting) Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pasar Induk Cibitung dan Sukatani, Abdul Rahman, menyampaikan, sejak awal November hingga Desember terjadi lonjakan harga cabai dan bawang merah akibat pasokan yang menurun. 

Menurutnya, bawang merah yang biasanya dipasok dari beberapa daerah seperti Brebes, Malang, dan wilayah lainnya, saat ini hanya mengandalkan pasokan dari Brebes.

"Kondisi pasokan berkurang. Untuk bawang merah, hari ini hanya dari Brebes saja. Begitu juga dengan cabai rawit, pasokannya menurun sejak awal Desember," ujarnya di Kantor UPTD Pasar Induk Cibitung, dalam keterangannya yang dikutip Selasa (16/12).

Rahman menjelaskan, faktor cuaca menjadi penyebab utama kenaikan harga. Curah hujan tinggi di awal Desember membuat proses panen atau petikan cabai berkurang, terutama di daerah perbukitan yang rawan longsor. Selain itu, cabai yang dipanen berisiko cepat busuk jika tidak segera terjual.

"Kondisi ini hampir setiap tahun terjadi saat Natal dan Tahun Baru. Namun jika dibandingkan dengan tahun lalu, kenaikan harga sekarang masih lebih rendah. Tahun kemarin harga cabai rawit merah sempat tembus hampir Rp100 ribu per kg," katanya.

Abdul Rahman menambahkan, di tingkat pasar eceran atau pasar tradisional, harga bisa lebih tinggi dari Pasar Induk. Jika di Pasar Induk mencapai Rp70 ribu, maka di pasar eceran dapat menyentuh Rp80 ribu per kg.

Terkait kondisi itu, pihak UPTD Pasar Induk Cibitung mengaku rutin melakukan pendataan dan melaporkan perkembangan harga setiap hari kepada Dinas Perdagangan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pangan, serta Satgas Pangan.
 
"Kami laporkan kondisi lapangan agar ada langkah atau solusi dari pemerintah untuk menekan kenaikan harga, supaya tidak berkepanjangan," ujarnya.

Daya beli turun

Sementara itu, salah seorang pedagang cabai di Pasar Induk Cibitung, Fahir, mengungkapkan, kenaikan harga berdampak langsung pada menurunnya daya beli. Penjualan cabai yang biasanya mencapai sekitar 20 kg per hari, kini hanya sekitar 10 kg.

"Daya beli turun karena harga melonjak. Pelanggan terbesar biasanya dari katering, kalau rumah tangga beli sedikit-sedikit," katanya.

Ia mengaku, dalam kondisi harga tinggi seperti sekarang, keuntungan hampir tidak ada. Pedagang hanya berusaha memutar modal agar usaha tetap berjalan. 

Baik pengelola pasar maupun pedagang berharap adanya perhatian dan langkah konkret dari pemerintah untuk menjaga stabilitas harga serta daya beli masyarakat, terutama menjelang hari besar keagamaan. Mereka menilai kenaikan harga yang terlalu tinggi akan memberatkan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga. (H-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya