Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Rekaman CCTV Ungkap Aksi Terduga Pelaku sebelum Ledakan di SMAN 72 Jakarta

Siti Yona Hukmana
11/11/2025 09:38
Rekaman CCTV Ungkap Aksi Terduga Pelaku sebelum Ledakan di SMAN 72 Jakarta
Personel Brimob Polda Metro Jaya dan TNI-AL berjaga di depan SMAN 72 Jakarta, usai insiden ledakan di sekolah tersebut, Jumat (7/11/2025)(MI/Usman Iskandar)

REKAMAN kamera pengawas (CCTV) di SMAN 72 Jakarta menjadi salah satu kunci penting dalam mengungkap kronologi sebelum terjadinya ledakan yang mengguncang sekolah tersebut pada Jumat (7/11/2025) siang. Dalam tayangan CCTV, terlihat jelas siswa terduga pelaku datang ke sekolah dengan membawa dua tas. Satu tas sekolah di punggung dan satu tas jinjing di tangan.

"Lalau dilihat dari CCTV kedatangan anak ini sudah membawa tas sekolah dengan tas yang dijinjing. Itu semua barang-barang berada di dalam situ," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Bhudi Hermanto di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (10/11).

Ada 7 Peledak di Area Sekolah

Rekaman tersebut kini menjadi bukti penting yang tengah dianalisis Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri. Dari hasil penyelidikan sementara, ada tujuh bahan peledak yang dibawa pelaku ke lingkungan sekolah. Empat di antaranya meledak di dua titik berbeda, sementara tiga lainnya ditemukan dalam kondisi utuh.

"Artinya, dari tujuh bahan peledak tadi yang sudah meledak adalah empat, tersisa tiga yang belum. Ini secara detail, secara komperensif nanti akan dijelaskan dari pihak Gegana dan pihak Densus, dan Puslabfor ya, karena itu hasil olah TKP," terang Bhudi.

Motif Masih Didalami

Selain mengidentifikasi pergerakan pelaku melalui CCTV, polisi juga tengah menelusuri jejak digital dan aktivitas daring siswa tersebut. Langkah ini dilakukan untuk memastikan apakah ada pihak lain yang mengajari atau memengaruhi pelaku dalam merakit bahan peledak.

"Pada saat pak Kapolri (Jenderal Listyo Sigit Prabowo) ada di RS Islam, akan mendalami pihak pihak lain apabila ada yang mengajari pembuatan bom termasuk dari media sosial, bapak Kapolda (Irjen Asep Edi Suheri) akan membangun sinergi dalam hal ini Komdigi untuk sama-sama melihat konten-konten yang tidak layak dikonsumsi anak-anak ini harus ada batasan," terang perwira menengah (pamen) Polri itu.

Dalam menangani kasus ini, kepolisian juga menekankan aspek perlindungan anak. Sebab, baik korban maupun terduga pelaku sama-sama masih berstatus pelajar.

Untuk itu, Polri bekerja sama dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan tim trauma healing guna memberikan pendampingan psikologis bagi siswa yang terdampak ledakan. (Ant/P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya