Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGAMAT terorisme global, Hamidin, menilai ledakan yang terjadi di SMA Negeri 72 Jakarta pada Jumat siang, 7 November 2025, bukan sekadar peristiwa kriminal biasa. Menurutnya, peristiwa itu merupakan simbol dari luka sosial yang lama terpendam di dunia pendidikan.
“Ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta pada Jumat siang, 7 November 2025, bukan sekadar dentuman fisik yang mengguncang sekolah. Ia adalah ledakan simbolik dari luka sosial yang selama ini terpendam, melukai puluhan siswa dan guru, meninggalkan trauma, dan memunculkan pertanyaan besar: apa yang mendorong seorang anak sekolah menyalurkan amarahnya dengan cara paling tragis?” kata Hamidin, melalui keterangannya, Sabtu (8/11).
Mantan Deputi Kerja Sama Internasional pada BNPT RI itu mengutip informasi awal dari aparat yang menyebut bahwa pelaku diduga merupakan siswa sendiri berusia sekitar 17 tahun. Polisi, kata dia, tidak menutup kemungkinan bahwa pelaku adalah korban bullying atau tekanan sosial di sekolah.
“Bila dugaan itu benar, ledakan ini lebih dari insiden kriminal; ia adalah tindakan regresif-balasan, manifestasi luka psikologis yang lama terpendam dan akhirnya meledak dalam bentuk kekerasan fisik,” ujarnya.
Hamidin menekankan bahwa bullying kerap diremehkan padahal memiliki efek psikologis serius. “Korban bisa kehilangan harga diri, merasa terasing, hingga menumpuk kemarahan yang tak tersalurkan. Dalam banyak kasus, tekanan yang dibiarkan menumpuk ini dapat memuncak dalam tindakan ekstrem,” katanya.
Ia juga menyinggung kemungkinan lain, yakni keterkaitan dengan ideologi ekstrem atau lone wolf terrorism. Namun, menurutnya, dalam konteks Indonesia, kemungkinan itu kecil berkat keberhasilan program kontra-radikalisasi yang dijalankan BNPT dan Densus 88.
“Dalam konteks Indonesia, kemungkinan proses radikalisasi konvensional melalui guru radikal, pembelajaran tertutup, atau jaringan pertemanan ideologis terlihat sangat kecil. Hal ini berkat keberhasilan program kontra-radikalisasi dan deradikalisasi yang dijalankan Densus 88 dan BNPT,” ucapnya.
Menurut Hamidin, keunggulan Indonesia terletak pada kombinasi antara penegakan hukum dan pendekatan kemanusiaan. “Aparat tidak hanya menindak pelaku, tetapi juga menyembuhkan luka ideologis melalui edukasi, pembinaan sosial, dan pemberdayaan ekonomi,” katanya.
Meski begitu, ia tetap mengingatkan adanya potensi jaringan tidur yang sewaktu-waktu bisa aktif kembali. “Yang tetap harus diwaspadai hanyalah kemungkinan ekstrem: sel tidur (hybernated cell), jaringan yang selama ini dorman, namun dapat bangkit bila ada pemicu signifikan,” ujar Hamidin.
Hamidin mengatakan hingga saat ini belum ada indikasi bahwa pelaku memiliki hubungan dengan jaringan teror aktif baik domestik maupun internasional. Karena itu, tragedi SMAN 72 lebih tepat dibaca sebagai letupan sosial daripada serangan ideologis.
“Pelaku tampaknya bukan radikal, melainkan remaja yang kehilangan ruang aman, yang mencoba menyalurkan amarahnya melalui cara paling tragis,” katanya.
Hamidin juga menyoroti konteks global yang berpotensi memicu emosi remaja, seperti konflik di Timur Tengah dan krisis Gaza. “Gambar penderitaan, seruan heroik, dan propaganda bisa menembus batas logika, terutama bagi remaja yang sedang mencari identitas,” ujarnya.
Menurutnya, tragedi ini menjadi pengingat bahwa keamanan bukan hanya soal menghadang bom atau menangkap pelaku, tetapi juga membangun ketahanan sosial sejak dini. Dunia pendidikan, kata dia, harus menjadi ruang aman bagi siswa.
“Program anti-bullying tidak cukup menjadi slogan; ia harus menjadi budaya yang menumbuhkan empati dan solidaritas,” tegasnya. (M-3)
Kemenkes mengungkapkan temuan senior yang merupakan peserta PPDS Unsri melakukan perundungan atau bullying pada juniornya dengan memeras Rp15 juta per bulan
Merespons bullying, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menggelar 'Gen Z Fest: The Next Wave of Digital Natives' di Jakarta (18/12)
Data UPT PPA DKI Jakarta menunjukkan, hingga 19 Desember 2025 terdapat 2.182 pengaduan. Kekerasan psikis menempati urutan tertinggi dengan 1.059 kasus.
ALIANSI Peduli Anak Indonesia mendesak diwujudkannya sekolah yang aman bagi anak dan bebas dari bullying atau perundungan. Hal itu disuarakan melalui aksi damai dan teatrikal.
Kesehatan mental pelajar semakin memprihatinkan. Data CDC dan WHO menunjukkan tingginya depresi, pikiran bunuh diri, dan kasus bullying pada remaja di sekolah.
Rano Karno mengungkap pengalaman bullying dan hidup susah di masa kecil yang justru memacunya hingga menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta
Temuan tersebut menjadi peringatan penting bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan, khususnya di Jawa Timur, untuk memperkuat sistem pencegahan sejak dini.
Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri.
Densus 88 menyebut aksi penikaman di sekolah Moskow, Rusia, terinspirasi ledakan SMAN 72 Jakarta setelah ditemukan tulisan “Jakarta Bombing 2025”.
Densus 88 mengungkap remaja 14 tahun di Jepara memiliki koneksi dengan pendiri kelompok ekstremis Prancis BNTG dan aktif di komunitas True Crime.
Densus 88 mengungkap fakta mengejutkan: remaja pelaku penusukan di Moskow menuliskan 'Jakarta Bombing 2025' di senjatanya, terinspirasi insiden SMA Negeri 72.
Densus 88 Antiteror Polri merilis daftar 27 grup media sosial yang menyebarkan ideologi ekstrem seperti Neo Nazi kepada anak-anak. Simak daftarnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved