Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
DOSEN Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah menilai krisis lahan pemakaman di Jakarta akibat perencanaan tata ruang yang tidak berorientasi pada kebutuhan sosial masyarakat. Ia menyarankan agar Pemprov DKI tidak hanya berfokus mencari lahan baru, tetapi juga melakukan revitalisasi terhadap makam lama yang sudah tidak terurus.
“Jangan hanya berpikir menambah lahan baru, tapi benahi dulu yang lama. Banyak makam di Jakarta yang tidak terurus dan bisa ditata ulang agar lebih efisien,” ujar Trubus saat dihubungi, Minggu (26/10).
Menurutnya, optimalisasi lahan makam lama bisa dilakukan dengan cara penataan ulang, termasuk menerapkan sistem tumpang susun pada makam yang sudah berusia lama atau tidak memiliki ahli waris.
“Lebih baik dibuka saja, ditumpang lagi di atasnya. Jadi makam yang sudah lama sekali dibongkar, dipakai untuk yang baru. Kalau tidak, bisa juga dipindahkan ke luar Jakarta,” kata Trubus.
Ia menilai langkah tersebut perlu diawali dengan pendataan ulang seluruh TPU di Jakarta, untuk mengetahui lahan mana saja yang masih bisa dimanfaatkan.
Beberapa tempat, lanjutnya, seperti TPU di wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan, disebut masih memiliki area kosong yang tertutup semak atau belum digunakan secara optimal.
“Banyak makam lama yang sudah tidak ada ahli warisnya. Area seperti itu bisa ditata ulang secara terukur tanpa mengabaikan aspek sosial dan religius,” ujar Trubus
Trubus juga menekankan pentingnya koordinasi antara Pemprov DKI, tokoh agama, pengelola TPU, dan masyarakat sebelum melakukan revitalisasi. Menurutnya, pendekatan sosial dan kultural diperlukan agar kebijakan ini tidak menimbulkan resistensi publik.
“Perlu pendekatan kultural, bukan sekadar administratif. Warga akan mendukung kalau tujuannya jelas, yaitu untuk kepentingan publik,” tuturnya.
Selain penataan ulang, Trubus juga menyoroti perlunya transparansi dalam pengelolaan TPU, termasuk dalam hal penerimaan dan penggunaan dana pemeliharaan makam.
“Transparansinya harus jelas. Berapa yang diterima dari masyarakat, berapa dari Pemprov. Karena masyarakat kan setiap tahun juga membayar,” katanya.
Trubus menilai pembangunan TPU baru di setiap kelurahan bukanlah solusi ideal karena akan membutuhkan anggaran besar dan lahan yang terbatas. Ia mendorong Pemprov DKI untuk lebih realistis dengan memaksimalkan lahan yang sudah ada.
“Kalau terus menambah lahan tanpa memperbaiki sistem pengelolaan yang lama, persoalan ini akan berulang. Jakarta butuh kebijakan pemakaman yang berkelanjutan,” tegasnya.
Sebelumnya diberitakan, sebanyak 69 dari 80 TPU di Jakarta telah penuh, dan sisanya diperkirakan hanya mampu menampung jenazah selama tiga tahun ke depan.
Berdasarkan data dari situs resmi Pemprov DKI Jakarta, terdapat 82 TPU yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta dengan 34 di antaranya berada di Jakarta Timur dan hanya empat di Jakarta Pusat. (H-4)
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mendata ulang tempat pemakaman umum (TPU) untuk mengatasi krisis lahan makam di Ibu Kota.
Pengamat Tata Kota, Yayat Supriatna menilai persoalan ini sudah berlangsung lama dan tidak kunjung terselesaikan karena kurangnya koordinasi antarinstansi.
Pemprov) Banten menyatakan siap bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta mengatasi krisis lahan pemakaman yang kian mendesak di Ibu Kota.
Pemprov DKI juga mulai mengandalkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Terkait dukungan anggaran, politisi yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi D mendukung segala kajian dan rencana yang memiliki dampak positif untuk masyarakat luas.
Skema kerja sama dengan pengembang di sepanjang trase akan mempermudah pengembangan MRT, terutama dalam pengelolaan TOD dan pembiayaan proyek.
Menurutnya, saling bantu antara daerah ini perlu dilakukan guna memudahkan menyelesaikan sebuah permasalahan.
Letaknya yang strategis di samping JIS menjadikannya salah satu titik potensial untuk pengembangan wisata urban di Jakarta Utara.
Menurut Pramono, dengan dukungan konektivitas tersebut, penyelenggaraan kegiatan berskala besar di JIS dan Ancol akan lebih mudah dijangkau masyarakat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved