Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Kriminolog Universitas Indonesia Josias Simon menegaskan, penyelidikan terhadap kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu) harus mengedepankan pendekatan ilmiah dan tidak terpengaruh spekulasi publik yang kian liar.
“Kalau kesimpulan, nanti penyidik yang akan menyampaikan berdasarkan scientific crime investigation,” ujar Josias saat dikonfirmasi, Jumat (25/7).
Ia menjelaskan, penyidik membutuhkan waktu untuk memastikan apakah bukti-bukti dan petunjuk yang telah dikumpulkan sejauh ini mengarah pada dugaan tindak pidana atau tidak. Termasuk pula soal kemungkinan adanya tersangka.
“Butuh waktu memang, karena menentukan bukti-bukti dan petunjuk yang didapat saat ini apakah betul mengarah ke tindak pidana (kejahatan) atau tidak. Termasuk tersangka,” ucapnya.
Menurutnya, atensi publik yang besar dalam kasus ini tak lepas dari latar belakang korban yang dikenal sebagai diplomat muda dengan jaringan luas, baik di dalam maupun luar negeri.
“Semakin viral karena latar belakang almarhum luas dan ini akan mengganggu citra lembaga lain, meski masih dalam tahap kemungkinan dan asumsi saja,” kata Josias.
Ia mengingatkan, setiap kesimpulan yang disampaikan ke publik nantinya harus berbasis bukti forensik dan objektif, bukan asumsi yang berkembang di media sosial.
Sebelumnya, Polda Metro Jaya menyatakan proses penyidikan tengah berjalan. Jenazah korban ditemukan dalam kondisi wajah tertutup plastik dan dililit lakban di bagian leher.
Berdasarkan informasi internal, korban sempat berada di rooftop Gedung Kemlu selama lebih dari satu jam sebelum ditemukan tak bernyawa.
Penyidik kini mendalami keterangan para saksi serta memeriksa rekaman CCTV untuk memastikan kronologi kejadian. (Far/P-1)
Almuzzammil menegaskan perlunya klarifikasi resmi atas sejumlah hal yang masih menyisakan pertanyaan publik, seperti hasil visum, keterangan saksi, serta proses otopsi.
Keluarga membutuhkan perlindungan dari LPSK untuk penguatan bagi keluarga dan kuasa hukumnya. Terlebih, ada kejanggalan-kejanggalan ditemukan usai kematian korban.
Staf diplomatik KBRI di Peru, Zetro Leonardo Purba, ditembak mati pelaku bersenjata saat pulang dari kantor menggunakan sepeda bersama istrinya, Senin malam (1/9) di kawasan Lince, Lima.
SEORANG diplomat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Lima, Peru, Zetro Leonardo Purba, meninggal dunia setelah menjadi korban penembakan pada Senin (1/9) malam waktu setempat.
SEORANG diplomat KBRI di Lima, Peru, Zetro Leonardo Purba, dilaporkan meninggal dunia setelah menjadi korban penembakan di Lima pada Senin malam (1/9) waktu setempat.
Ketika penegakan hukum tertutup dari sorotan publik dan keluarga korban tidak memperoleh kejelasan, maka kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum berisiko tergerus.
Almuzzammil menegaskan perlunya klarifikasi resmi atas sejumlah hal yang masih menyisakan pertanyaan publik, seperti hasil visum, keterangan saksi, serta proses otopsi.
Menurut Nicholay, dalam setiap peristiwa pidana tidak ada kejahatan yang sempurna sehingga peluang untuk mengungkap fakta selalu ada.
Keluarga membutuhkan perlindungan dari LPSK untuk penguatan bagi keluarga dan kuasa hukumnya. Terlebih, ada kejanggalan-kejanggalan ditemukan usai kematian korban.
Kemlu RI mendesak pemerintah Peru untuk melakukan penyelidikan menyeluruh atas kasus penembakan yang menewaskan staf KBRI di Lima yakni Zetro Leonardo Purba.
Ia mengatakan, jika memang tidak ditemukan unsur pidana, maka wajar bila kepolisian memilih diksi 'almarhum meninggal bukan akibat perbuatan pidana'.
Dari pantauan Media Indonesia, rumah orang tua almarhum di Dusun Jombang, Kapanewon Banguntapan, Bantul, tertutup rapat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved