Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Prof Tjandra Yoga Aditama mengingatkan agar masyarakat, khususnya di Jakarta, saat ini, sebisa mungkin membatasi aktivitas di luar ruangan mengingat polusi udara yang masuk kategori tidak sehat.
Tjandra mengatakan jika masyarakat harus berada di luar ruangan, sebenarnya belum ada rekomendasi waktu maksimal demi mengurangi risiko dampak buruk polusi pada kesehatan mengingat sejumlah hal.
"Tentu tidak ada lama waktu yang pasti karena kita tidak tahu persis di lokasi kita berapa tinggi polutannya, bagaimana arah anginnya, bagaimana kelembaban dan lainnya," kata Tjandra melalui pesan elektronik, dikutip Kamis (17/8)
Baca juga: Legislator: Kualitas Udara Buruk Sudah Menyebar di Berbagai Wilayah
Tjandra, yang juga menjabat sebagai Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, menambahkan daya tahan tubuh dan ada tidaknya penyakit kronik juga ikut menentukan risiko seseorang terkena masalah kesehatan karena berada di lingkungan dengan polusi udara.
"Yang penting, bila mungkin membatasi aktivitas di luar ruangan lebih baik," saran dia.
Tjandra juga mengatakan perlunya upaya maksimal dari Pemerintah untuk menurunkan kadar polutan di udara, baik itu Nitrogen oksida (NOx), Ozon (O3), Karbon Monoksida (CO) dan partikulat utamanya PM 2.5 atau materi partikulat atmosfer yang berukuran sekitar 2,5 mikron atau mikrometer, yang lebih kecil dari diameter rambut manusia.
Baca juga: Tips Menjaga Kesehatan saat Kualitas Udara Buruk
Berbicara dampak kesehatan akibat polusi udara, dia menyebut infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA merupakan salah satunya, yang menyerang saluran pernapasan, baik saluran atas maupun bawah.
"Tentu kalau ISPA tidak kunjung membaik maka (pada sebagian kecil kasus) dapat berkembang menjadi infeksi yang lebih berat, sampai ke pneumonia dan lainnya," kata dia.
Menurut dia, sebagian besar ISPA disebabkan oleh virus sehingga tidak memerlukan antibiotik namun cukup dengan obat simtomatik atau sesuai gejala, pola hidup baik dan cukup istirahat.
Selain ISPA, batuk juga menjadi dampak polusi bagi kesehatan. Tjandra menyarankan pasien batuk banyak minum air untuk mengencerkan dahak sehingga mudah dikeluarkan dan jalan napas menjadi bersih.
Kemudian, apabila ingin mengonsumsi obat batuk maka sesuaikan dengan kebutuhan karena saat ada tiga jenis obat beredar yakni pengencer dahak, pengeluar dahak dan penekan batuk kering.
Dia merujuk pada data Organsisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2019 yang menyebut polusi udara berhubungan dengan 6,7 juta kematian di dunia dan polusi udara ambien atau luar ruangan diperkirakan menyebabkan 4,2 juta kematian.
WHO secara tegas menyebut polusi udara sebagai salah satu risiko lingkungan terbesar bagi kesehatan.
Oleh karena itu, menurut Tjandra, dengan menurunkan kadar polusi udara maka negara-negara di dunia termasuk Indonesia akan dapat menurunkan beban penyakit dari penyakit-penyakit stroke, gangguan jantung, kanker paru serta penyakit paru dan pernapasan akut dan kronik. (Ant/Z-1)
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui bahwa tantangan polusi di Ibu Kota semakin kompleks, sehingga regulasi lama seperti Perda Nomor 2 Tahun 2005 sudah tidak lagi memadai.
Penelitian terbaru mengungkap polusi udara telah ada sejak Kekaisaran Romawi Kuno.
Konsentrasi partikel halus () di Tangerang Selatan kerap melampaui ambang batas aman yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Riset Northwestern University ungkap asap kayu di rumah menyumbang 20% polusi mematikan di AS.
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana retakan es Arktik dan polusi ladang minyak memicu reaksi kimia berbahaya yang mempercepat pencairan es kutub.
Studi itu menemukan hubungan antara paparan partikel super kecil polutan udara (PM2,5) dan nitrogen dioksida dengan peningkatan risiko tumor otak.
Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta Ali Lubis mengatakan, tingginya tingkat polusi udara di Jakarta membuat kesehatan masyarakat terganggu. Sekaligus menurunkan kualitas hidup warga.
Kemudian ada teknologi sensor supaya tahu kapan zona merah. Selain itu, ada truk embun sudah dilakukan di kota-kota Tiongkok.
Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya polusi udara merupakan langkah krusial dalam menekan dampak kesehatan yang ditimbulkan.
BMKG mengungkapkan, berdasarkan hasil pemantauan, dalam siklus harian, konsentrasi PM2,5 tertinggi di wilayah DKI Jakarta ialah selepas malam hari hingga menjelang pagi hari.
Kualitas udara di Jakarta, Senin (14/10) pagi masuk urutan ke delapan sebagai kota dengan udara terburuk di dunia.
POLUSI di DKI Jakarta menimbulkan dampak kesehatan dan kerugian yang besar bagi masyarakat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved