Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memastikan Abi Rizal Afif (ARA), 28 penculik 12 anak di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) bukan mantan narapidana terorisme (napiter). Abi sempat mengaku sebagai eks napiter saat pemeriksaan.
"Ya, bukan eks napiter. Yang bersangkutan hanya ngaku-ngaku saja, mungkin cari popularitas," kata Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Ahmad Nurwakhid saat dikonfirmasi, hari ini.
Ahmad mengaku telah memverifikasi hal tersebut ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Gunung Sindur yang disebut tempat Abi menjalani masa hukuman. Pihak Lapas memastikan tak pernah membina narapidana atas nama Abi Rizal Afif dalam kasus tindak pidana terorisme.
"Empat bulan terakhir tidak ada napiter yang bebas atas nama tersebut," ujar jenderal polisi bintang satu itu.
Dia merinci terdapat tiga narapidana yang bebas dari Gunung Sindur. Yakni Triyono bin Wagimin atas kasus tindak pidana terorisme, Badru Salim bin Pepeng, dan Dicky Permana bin Lili Jalili yang masing-masing bebas dari hukuman atas kasus narkotika.
Sebelumnya, polisi mengatakan Abi mengaku merupakan eks napiter. Abi juga mengaku terlibat dalam kasus bom Sarinah dan kerusuhan di Bawaslu, Jakarta Pustaka pada 21-22 Mei 2019. Namun, polisi tak langsung memercayai. Penyidik masih melakukan pemeriksaan dan pendalaman terkait pengakuan tersebut.
Baca juga: Puan Minta Penculik yang Cabuli Anak Dijerat dengan UU TPKS
Pihak kepolisian mengungkap kasus penculikan anak di wilayah Jabodetabek pada Kamis, 12 Mei 2022. Sebanyak 12 anak dilaporkan hilang dalam kasus tersebut. Abi ditangkap di kawasan Senayan, Jakarta.
Kasus penculikan terungkap setelah jajaran Sat Reskrim Polres Bogor menyelidiki hilangnya anak laki-laki, Fakhri, 11 asal Jampang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, pada Minggu, 8 Mei 2022. Berdasarkan laporan yang diterima, ada satu orang yang dibawa dari lima orang yang diculik oleh tersangka.
Hasil pengembangan ditemukan 10 orang anak laki-laki dengan rata-rata usia 10-14 tahun diduga korban penculikan. Mereka berasal dari wilayah Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, dan Tangerang Selatan.
Anak-anak tersebut berkumpul di satu tempat di sebuah masjid di wilayah Senayan. Mereka disuruh menunggu.
Pelaku mengaku-ngaku sebagai polisi dan membawa Fakhri dengan dalih melanggar protokol kesehatan (prokes). Pelaku sempat mengancam Fakhri akan dipenjara karena tidak memakai masker.(OL-4)
REMAJA dan anak-anak sekarang dinilai lebih rentan terhadap paparan paham radikal di ruang digital. Kondisi ini dinilai berbahaya karena kelompok usia tersebut dalam fase pencarian jati diri.
BNPT mengungkapkan ada 27 rencana serangan terorisme yang berhasil dicegah dalam tiga tahun terakhir, dengan ratusan pelaku terafiliasi ISIS ditangkap.
BNPT mencatat 112 anak Indonesia terpapar radikalisasi terorisme lewat media sosial dan gim online sepanjang 2025, dengan proses yang makin cepat di ruang digital.
KEPALA BNPT Eddy Hartono menyoroti secara mendalam fenomena memetic radicalization yang kini menjadi ancaman nyata bagi generasi muda.
Menurut Edi Hartono, media sosial dan game online telah terbukti menjadi salah satu sarana yang digunakan pelaku terorisme untuk melakukan perekrutan.
Program ini memberikan edukasi mendalam mengenai upaya mitigasi penyebaran paham radikal terorisme di ruang digital.
Mandat tersebut juga ditegaskan kembali dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 tentang TNI.
Al Araf menilai draft Peraturan Presiden tentang Tugas TNI dalam Mengatasi Terorisme yang saat ini beredar mengandung persoalan inkonstitusional
Dengan posisi yang masih berupa draf, pembahasan mendalam belum dapat dilakukan, apalagi untuk menentukan sikap politik lembaga legislatif.
Aturan tersebut wajib memiliki batasan yang jelas agar tidak mencederai hak asasi manusia (HAM).
Ancaman terorisme saat ini semakin kompleks, terutama dengan adanya situasi ketidakpastian global yang rentan menjadi lahan subur ideologi kekerasan.
Urgensi peran militer semakin tinggi jika aksi terorisme sudah melibatkan aktor lintas negara (transnasional) dalam melancarkan serangannya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved