Rabu 15 September 2021, 14:23 WIB

KPI Menyangkal Berupaya Mendamaikan Kasus Pelecehan Seksual

Rahmatul Fajri | Megapolitan
KPI Menyangkal Berupaya Mendamaikan Kasus Pelecehan Seksual

Dok.MI
Ilustrasi

 

KOMISI Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat membantah berupaya mendamaikan terduga pelaku pelecehan seksual dan perundungan dengan korban berinisial MS.

Wakil Ketua KPI Mulyo Hadi mengakui pihaknya memang pernah memanggil terduga korban dan para terduga pelaku ke kantor KPI beberapa waktu lalu. Namun, ia menyebut pemanggilan itu bukan untuk mendamaikan keduanya, tetapi untuk meminta keterangan sebagai bagian dari kepentingan investigasi internal.

"Kalau negosiasi damai sih tidak. Mereka kan hadir dalam rangka mengumpulkan informasi yang kami butuhkan," kata Mulyo ketika ditemui di Kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat, Rabu (15/9).

Mulyo mengatakan upaya damai dibahas oleh korban dan para terduga pelaku. Ia mengatakan KPI dalam hal ini tidak terlibat.

"Kalau itu (upaya damai) di luar kuasa kami. Antara inisiatif terduga korban dan pelaku saja," ujarnya.

Sebelumnya, ketua tim kuasa hukum MS, Mehbob mengatakan kliennya diminta datang ke kantor KPI beberapa waktu lalu. MS lalu disodorkan surat damai dan diminta untuk menandatanganinya.

Baca juga: Bioskop di Jakarta Kembali Beroperasi Mulai Lusa

"Tiba-tiba tanpa adanya komisioner disana, mungkin itu sudah skenario mereka, tiba-tiba sudah ada surat perdamaian. Dia disuruh tanda tangan," kata Mehbob.

Namun, MS menolak menandatangani surat perdamaian itu, karena berisi poin yang menurut MS tidak adil, yakni MS harus mengakui bahwa perbuatan pelecehan seksual itu tidak pernah ada.

Sebelumnya, MS yang merupakan pegawai kontrak di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat mengaku telah mendapatkan pelecehan seksual dan perundungan dari rekan kerjanya. Ia menyebut lima pegawai KPI Pusat telah melakukan pelecehan dan perundungan, yakni RM, FP, RT, EO, dan CL.

"Sejak awal saya kerja di KPI Pusat pada 2011, sudah tak terhitung berapa kali mereka melecehkan, memukul, memaki, dan merundung tanpa bisa saya lawan," tulis MS.

"Tahun 2015, mereka beramai ramai memegangi kepala, tangan, kaki, menelanjangi, memiting, melecehkan saya dengan mencorat-coret buah zakar saya memakai spidol. Kejadian itu membuat saya trauma dan kehilangan kestabilan emosi," lanjut MS.(OL-4)

Baca Juga

Ist

Kembangkan Kreativitas, Elemwe Bentuk Komunitas Tenun Jakarta

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 17 September 2021, 13:23 WIB
Saat ini Elemwe tengah mengembangkan kreativitasnya dengan membentuk komunitas tenun...
ANTARA/Aditya Pradana Putra

Pemprov DKI Sempat Mediasi dengan Tim Penggugat Perkara Polusi Udara

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Jumat 17 September 2021, 10:51 WIB
Pemprov DKI Jakarta tidak banding dan siap menjalankan putusan pengadilan demi kualitas udara Jakarta yang lebih...
ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

Ingin Berwisata ke Ancol dan TMII, Waspada Kebijakan Ganjil-genap

👤Yona Hukmana, Hilda Julaika 🕔Jumat 17 September 2021, 10:35 WIB
Penerapan ganjil genap di sepanjang jalan menuju dan dari lokasi tempat wisata diberlakukan mulai hari ini Jumat, 17 September...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Siap Bawa Pulang Piala Sudirman

 Terdapat empat pemain muda yang diharapkan mampu membuat kejutan di Finlandia.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya