Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
DINAS Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta mengungkapkan aturan perluasan ganjil genap efektif memperbaiki kualitas udara di ibu kota. Hal itu ditandai dengan penurunan rata-rata kosentrasi polutan jenis PM 2.5 sebesar 20,23%
Hal itu didapati berdasarkan data pemantauan dari dua Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) di lokasi yang beririsan dengan penerapan perluasan ganjil genap, yakni Stasioner Bundaran HI dan Stasioner Kelapa Gading.
"Dari semula 59,68 µg menjadi 47,60 µg atau mengalami penurunan sebesar 20,23%," ujar Kepala Dishub DKI Jakarta, Syafrin Liputo saat dihubungi Media Indonesia, Minggu (29/9).
Baca juga: Kebijakan Ganjil-Genap Perbaiki Kualitas Udara Jakarta
Syafrin mengatakan data yang digunakan pihaknya berasal dari Dinas Lingkungan Hidup DKI sesuai hasil pengukuran di kedua stasioner tersebut.
Kualitas Udara di Jakarta pada sore hari ini memang diprediksi tidak sehat. Hal itu berdasarkan data AirVisual, dengan US Air Quality Index (AQI) atau indeks kualitas udara di Jakarta tercatat di angka 141 PM2.5 Konsentrasi 52 µg/m³, pada pukul 15.22 wib.
Berdasarkan data AirVisual, Jakarta diketahui menempati urutan 10 sebagai kota paling tercemar di dunia. Sebelumnya, pada 5 September, Jakarta pernah berada di peringkat pertama sebagai kota dengan udara paling tercemar di dunia. (OL-2)
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui bahwa tantangan polusi di Ibu Kota semakin kompleks, sehingga regulasi lama seperti Perda Nomor 2 Tahun 2005 sudah tidak lagi memadai.
Penelitian terbaru mengungkap polusi udara telah ada sejak Kekaisaran Romawi Kuno.
Konsentrasi partikel halus () di Tangerang Selatan kerap melampaui ambang batas aman yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Riset Northwestern University ungkap asap kayu di rumah menyumbang 20% polusi mematikan di AS.
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana retakan es Arktik dan polusi ladang minyak memicu reaksi kimia berbahaya yang mempercepat pencairan es kutub.
Studi itu menemukan hubungan antara paparan partikel super kecil polutan udara (PM2,5) dan nitrogen dioksida dengan peningkatan risiko tumor otak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved