Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
ANAK berkebutuhan khusus (ABK) atau difabel hingga saat ini masih belum mendapatkan hak yang layak dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Seringkali mereka harus berhadapan dengan fasilitas di ruang publik yang tidak didesain untuk bisa mengakomodasi mereka.
Hal tersebut kemudian membuat ruang gerak pun jadi terbatas. Padahal, ABK juga butuh bergaul dan punya ruang yang tidak terbatas. Agar potensi mereka pun bisa tumbuh. Orangtua dan para pendamping pun baiknya mendampingi dan mendorong mereka dalam bereksplorasi dan mengekspresikan diri.
Berikut adalah kiat untuk orangtua dan pendamping dalam memberikan pendampingan bagi Anak Berkebutuhan Khusus yang disampaikan oleh Founder & Humas Forkesi (Forum Keluarga Spesial Indonesia), Nisa Rahmat. Forkesi dibentuk untuk mewadahi suara para orangtua anak berkebutuhan khusus di Indonesia.
Baca juga : Perpisahan Sekolah, Ini Tips Bagi Orangtua Atasi Kesedihan Anak
“Forkesi berdiri karena kebutuhan orangtua yang merasa sendirian dan tidak ada wadah untuk curhat. Dengan adanya forum ini, kami memberikan penguatan ke mereka. Di Forkesi itu kan ABK-nya mulai dari usia anak-anak hingga remaja dan dewasa. Mereka juga punya masalah sendiri-sendiri. Nah ini yang kami bagikan ke orangtua bagaimana mendampingi mereka,” kata Nisa Rahmat kepada Media Indonesia saat dijumpai di sela acara Summer Holiday! di mal Senayan Park, Jakarta, Sabtu, (15/6/2024).
Jangan Malu.
Untuk menjadi pendamping ABK, orangtua juga harus membuat diri mereka sehat secara mental. Sehingga dengan begitu para pendamping juga tidak akan memberikan batasan-batasan tertentu atau merasa tertekan dengan lingkungan sekitar.
Baca juga : Seruan Masa Kanak-Kanak Bebas Ponsel Pintar di Inggris
Jangan Biarkan Anak di dalam Rumah
Menurut Nisa, para pendamping seperti orangtua perlu membawa ABK ke luar rumah, seperti halnya anak-anak lain. ABK tidak boleh dibatasi ruang geraknya, hanya memang perlu pendampingan dan pengawasan.
“mereka justru lebih bebas kalau tidak dibatasi. Mereka akan bisa mengekspresikan talenta-talenta mereka sendiri, para orangtua dan pendamping ABK tinggal arahin aja,” kata Nisa.
Baca juga : Tangani Individu Dewasa Autistik, LSPR Gelar Forum Diskusi
Berikan Kesempatan
Para pendamping juga sebaiknya memberikan kesempatan bagi ABK. Biarkan mereka mengeksplorasi yang menjadi hobi dan minat mereka. Dengan memberikan kesempatan mereka menunjukkan talenta, diharapkan penerimaan di masyarakat juga menjadi lebih terbuka.
Menurut Nisa, salah satu tantangan yang dihadapi oleh teman-teman difabel saat ini adalah penerimaan. Terlebih bagi mereka yang telah memasuki usia dewasa dan siap bekerja. Nisa melihat saat ini belum banyak institusi swasta yang mau memberikan kesempatan bagi teman-teman difabel untuk bekerja.
“Masalahnya yang sekarang ini mereka yang sudah di fase remaja–dewasa, mereka butuh berteman bersosialisasi, dan bekerja. Itu yang kami dukung, menggali potensi mereka. Kalau yang bisa kerja, kami carikan tempat yang bisa mengakomodasi. Meski sesederhana apapun pekerjaan itu, tapi jika diterima mereka merasa dihargai. Saat ini di Indonesia masih kurang ruang untuk menerima mereka bekerja. Sebab itu di Forkesi kami selalu edukasi baik ke pemerintah maupun swasta,” kata Nisa. (H-2)
YAYASAN Indonesia Setara (YIS) bersama dengan Yayasan Puspa Indah Mitra Kreatif dan Difapreneur menggelar Pelatihan Digital Marketing Difabel Setara Batch-4
MENTERI Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan komitmennya untuk menyiapkan fasilitas rumah ibadah dan lembaga pendidikan yang inklusif dan ramah difabel.
Menag Nasaruddin Umar menegaskan kembali komitmen pemerintah untuk memastikan semua ruang publik di bawah naungan Kemenag ramah bagi penyandang disabilitas.
Pemprov Bengkulu, menegaskan bahwa seluruh program pemerintah baik pusat maupun daerah harus bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat termasuk 7.200 orang difabel.
Pemkab Lamongan berkomitmen mendukung pemberdayaan penyandang disabilitas. Salah satunya, memberikan wadah eksplorasi potensi difabel.
DI sebuah warung kecil di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah, Rini Puji Astuti tampak menata keset-keset yang diperdagangkan.
Orangtua perlu membedakan penggunaan gawai untuk kebutuhan produktif dan hiburan.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Data menunjukkan sekitar 30% bayi mengalami gumoh, dengan puncak frekuensi pada usia 3 hingga 4 bulan.
Pemerintah mengingatkan orangtua agar tidak melepas anak-anak ke dunia maya tanpa bekal pemahaman yang cukup mengenai konten yang mereka konsumsi beserta konsekuensinya.
Tantangan ruang digital bagi anak-anak di Indonesia kini telah bergeser dari sekadar konten negatif menuju ancaman yang bersifat personal dan sulit terdeteksi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved