Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
PSIKOLOG anak dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia Fabiola Priscilla menyatakan bahwa anak memiliki kepercayaan yang sangat besar terhadap perkataan ibunya. Oleh karena itu, pilihan kata yang digunakan oleh ibu akan lebih mudah dipahami oleh anak dibandingkan dengan orang lain seperti guru atau teman-temannya.
"Anak cenderung sangat percaya pada perkataan ibunya. Itulah mengapa ibu harus bijak dalam memilih kata-kata yang bersifat positif," ujar Fabiola dikutip dari Antara, Kamis (6/6).
Fabiola menjelaskan bahwa tidak tepat untuk dengan cepat menghakimi anak sebagai lambat dalam belajar jika gaya belajarnya belum dipahami oleh pendidiknya.
Baca juga : Ini Alasan Anak Lebih Suka Belajar dengan Media Audio Visual
"Kita tidak boleh tergesa-gesa dalam menghakimi anak sebagai lambat belajar jika kita tidak memahami berbagai aspek yang memengaruhi perkembangannya," kata Fabiola.
Menurutnya, beberapa anak belajar melalui proses auditori, bergantung pada pendengaran saat belajar. Ada juga anak yang belajar melalui proses visual, bergantung pada penglihatan, atau ada yang melalui proses kinestetik, di mana praktik langsung diperlukan untuk belajar.
"Fabiola menyatakan, "Ada anak yang perlu mendengarkan frekuensi suara guru naik-turun agar lebih mudah memahami. Ada yang sangat visual, sehingga memerlukan visualisasi seperti diagram. Meskipun memerlukan upaya ekstra, namun bagi anak-anak visual seperti saya, itu sangat membantu. Selain itu, ada juga anak yang memerlukan praktik langsung untuk bisa memahami."
Menurut Fabiola, anak mulai belajar sejak usia dua tahun, sehingga pada usia tersebut, orang tua sudah bisa memantau perkembangan belajar anaknya. (Z-10)
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved