Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
BUNDA, anak sering malas-malasan saat diminta belajar? Coba gunakan bantuan media audio visual, seperti video materi pelajaran. Pasalnya, sebagian anak kurang menyukai belajar ‘gaya konvensional’, duduk diam membaca buku pelajaran lembar demi lembar.
Sebagian anak lebih suka dan mudah paham ketika menyimak materi pelajaran yang disajikan dalam bentuk video interaktif. Mengapa demikian? Berikut penjelasan yang dirangkum dari talkshow “Empower Our Mind: Unleashing Erklika for a New Generation of Learners”, di Jakarta, Sabtu (4/5/2024).
Generasi alfa umumnya merupakan anak-anak yang sejak lahir sudah mengenal internet. Sejak belia mereka akrab dengan gawai, terutama ponsel pintar, dan menggunakan media sosial (medsos) untuk berbagai tujuan. Seperti, untuk update beragam informasi, mengikuti kegiatan selebritas favorit, juga untuk berjejaring dan berkomunikasi dengan teman-temannya. Satu hal yang pasti, mereka terhibur dan merasakan bahwa konten-konten tersebut asyik disimak.
Baca juga : Jangan Jauhkan Generasi Alfa dari Teknologi, Bekali dengan Literasi Digital
“Nah, ketika anak-anak yang sudah terbiasa mendapatkan kesenangan dari konten-konten di internet diminta belajar dengan ‘cara biasa’, mereka cenderung cepat jemu karena level keasyikannya berbeda jauh dari yang mereka dapatkan lewat medsos. Di sinilah pentingnya peran materi pelajaran berbentuk media audio visual yang menarik. Dengan materi tersebut, anak-anak bisa belajar dengan cara yang lebih menyenangkan,” ujar salah satu pembicara talkshow, Olivina Maskan alias Peachy Liv, kreator konten bidang pendidikan yang juga mitra muda Unicef.
Secara garis besar, ada tiga tipe gaya belajar yaitu visual, auditori, dan kinestetik. Anak yang memiliki gaya belajar visual cenderung lebih mampu menyerap informasi menggunakan sarana visual, termasuk gambar, warna-warna, dan diagram.
Adapun tipe auditori ialah anak yang lebih cepat menyerap informasi melalui materi yang didengarkan. Bahkan, ada anak yang lebih suka membaca penjelasan tertulis sambil direkam dengan recorder, lalu hasil rekaman tersebut diputar dan didengarkan. Dengan cara itu, ia lebih mudah memahami materi pelajaran.
Baca juga : Curiookids Dampingi Anak Temukan Potensi dan Kembangkan Learning Behaviour
Terakhir, tipe kinestetik, yaitu mudah memahami suatu materi pelajaran apabila disertai praktik langsung dibandingkan hanya mendengar penjelasan pengajar. Selain suka metode praktik, mereka juga senang menyentuh objek yang sedang dipelajari.
“Berdasarkan penelitian, kebanyakan orang termasuk tipe visual dan auditori. Jadi, wajar bila banyak anak lebih menyukai belajar dengan bantuan media audio visual,” kata pembicara lainnya, dr. Nadhira Afifa, dokter yang juga influencer.
Nah, Bunda tergugah ingin memfasilitasi anak belajar dengan bantuan media audio visual? Di tengah derasnya arus informasi di internet, penting untuk menggunakan materi belajar dari sumber-sumber tepercaya. Terkait hal ini, Peachy Liv mencontohkan Sinema Belajar Erklika, platform video pembelajaran dari Penerbit Erlangga yang ditujukan untuk siswa SD hingga SMA.
“Materi-materi pelajaran di Erklika sudah terkurasi, berbasis fakta dan obyektif, serta dilengkapi assessment sheet untuk mengevaluasi progres belajar. Selain penyajiannya yang menarik, platform ini juga memudahkan siswa untuk self-learning, belajar secara mandiri,” tuturnya.
Chief of Editor produk digital PT Penerbit Erlangga, Rengganis, menjelaskan, dalam menyusun dan menyajikan materi-materi pelajaran, Sinema Belajar Erklika juga berkolaborasi dengan pelbagai channel edukasi yang ahli di bidangnya seperti Twig Education, Historia, serta Kok Bisa. “Tujuannya agar kualitas video dan materi yang disajikan menarik dan mudah dipahami,” pungkasnya. (X-8)
Provinsi-provinsi di kawasan timur Indonesia masih mendominasi angka pernikahan dini tertinggi secara nasional, meski secara umum prevalensi pernikahan anak di Indonesia terus menurun.
Mereka kehilangan rasa aman, rutinitas harian, akses belajar, serta dukungan emosional yang esensial bagi perkembangan mereka.
LEDAKAN teknologi digital telah menyusup ke setiap sudut kehidupan anak-anak Indonesia, membawa kemudahan sekaligus ancaman diam-diam: krisis gaya hidup pasif.
WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, mengatakan peran generasi muda sangat dibutuhkan dalam upaya membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
Fokus utama Baznas tetap kepada fakir miskin, khususnya bagaimana kelompok yang tidak mampu dapat mengakses pendidikan melalui dana zakat.
Abad ke-21, menurut Prabowo, merupakan abad ilmu pengetahuan dan teknologi.
Program yang telah berjalan sejak Maret lalu ini menjangkau hingga lebih dari 1.500 anak yatim piatu di berbagai wilayah di Indonesia, sebagai bekal penting untuk masa depan mereka.
Penelitian Rutgers dan Ben-Gurion University mengungkap kakek-nenek kini berperan besar dalam mengatur waktu layar cucu.
Menanamkan kejujuran serta empati, melatih anak menjaga lisan, dan membiasakan adab sejak dini adalah beberapa contoh membentuk pendidikan karakter.
Kehadiran Wapres di Poso menjadi wujud komitmen pemerintah, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, agar hadir di tengah masyarakat, memberikan penguatan moril.
Banyak Kritikan, Komitmen Pemerintah Menjalani Sekolah Rakyat Diuji
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI memperkuat kolaborasi dengan United Nations Children's Fund (UNICEF) untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved